Diberdayakan oleh Blogger.

Batik dalam Tradisi Pernikahan Jawa (1) Paningset

By | 07.00 Leave a Comment
BATIK SEMARANG – Tak sekadar bagian keutuhan estetika berbusana Jawa, batik memegang peranan kuat sebagai cermin kedudukan sosial serta bentuk harapan pemakainya. Pahami penggunaan kain batik dalam tradisi pernikahan Jawa di sini.

Corak Mukti Luhur dikenakan oleh kedua orang tua mempelai pria dan wanita pada acara panggih maupun resepsi. Corak Delima Wirasat untuk kedua orang tua calon pengantin wanita dalam midodareni (kiri ke kanan)

Saat penyerahan paningset, anak laki-laki yang akan dinikahkan berbusana Jawa Jangkep belum memakai dasar baju hitam, atau istilahnya Jawi Jangkep Padintenan dengan memakai kain batik motif Satir Manah. Makna batik Satria Manah adalah memanah jantung hati calon istrinya. Harapannya, si gadis akan bekti kepada ‘guru laki’-nya selama-lamanya.

Gadis yang akan diikat dengan perjodohan mengenakan kain batik Semen Rante. Rante berarti belenggu. Makna penggunaan kain ini dalam tradisi pernikahan adalah bersedia dan sanggup menjadi calon pendamping suami dengan ikatan batin yang telah membelenggu pada dirinya, serta telah menutup diri dari cinta lelaki lain. Tradisi ini diambil dari Wewarah Ingkang Sinuhun Pakoe Boewono ke IX dalam ajaran Salaki Rabi. Di luar tatacara Pasrah-Paningset, kain jenis ini bisa dipakai oleh golongan apa saja dan untuk kalangan muda.


[mahligai-indonesia.com]




Cari inspirasi batik di Batik Jayakarta, Jalan Perintis Kemerdekaan 172, Semarang. Ada koleksi batik dari berbagai kota dan kabupaten di Jawa Tengah. Batik Jayakarta akan mengubah cara pandang masyarakat mengenai batik yang kuno dan formal menjadi batik yang modern.


Facebook | Instagram | Twitter | Path : @batikjayakarta
Telepon 024-7474758

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar: