Diberdayakan oleh Blogger.

Dugderan Semarang, Tradisi Para Ulama

By | 07.00 Leave a Comment
BATIK SEMARANG – Acara Dugderan merupakan acara paling dinanti di Kota Semarang menjelang bulan suci Ramadhan. Untuk tahun 2018 ini, direncanakan berlangsung pada 15-16 Mei 2018 di Balaikota – Masjid Kauman – MAJT – Simpang Lima.

Apa sih sebetulnya Dugderan? Mari kita simak penjelasan yang dikutip dari Republika.co.id ini.

Dugderan dulunya merupakan pertemuan ulama. Jelang penghujung Sya'ban, para ulama berkumpul untuk melaksanakan halaqoh. Tak hanya ulama dari Semarang, sejumlah ulama dari wilayah sekitar juga turut serta dalam forum yang difasilitasi bupati Semarang, RMTA Purbaningrat (1881) ini.

Halaqoh yang melibatkan Bupati Semarang dan para ulama ini bukan membahas persoalan ‘ancaman’ keamanan di dalam pemerintahan Kabupaten Semarang saat itu, atau persoalan kepemimpinan lainnya. Namun pertemuan para ulama ini untuk menyatukan pendapat, terkait dengan masih munculnya beberapa perbedaan pandangan dalam menentukan jatuhnya awal Ramadhan, yang identik dengan awal umat Islam untuk melaksanakan ibadah puasa. Hasil halaqoh para ulama ini, selanjutnya diserahkan kepada Bupati, RMTA Purbaningrat untuk disebarluaskan kepada warga kabupaten, melalui pengumuman akbar yang dihelat di Masjid Agung Kauman di alun-alun kabupaten.

Sebagai penanda keputusan halaqoh untuk disebarluaskan kepada warga kabupaten ditabuhlah bedug yang selanjutnya dirangkai dengan dentuman meriam. Momentum inipun, selanjutnya dikenal dengan ‘Dugderan’. Hingga sekarang, tradisi para ulama inipun selalu diperingati setiap menjelang pergantian bulan sya’ban menuju ramadhan, sekaligus sebagai penanda tibanya saat untuk mengawali ibadah puasa selama satu bulan penuh. Warga Kabupaten Semarang (sekarang Kota Semarang) pun selalu menyambut awal ramadhan ini dengan tradisi ‘Dugderan’.

Pada perkembangannya tradisi inipun juga lekat dengan megengan atau pasar malam rakyat. Karena alun- alun menjadi pusat keramaian pada saat pengumuman awal ramadhan selalu dipadati ribuan umat, hal ini dipandang sebagai tempat yang menjanjikan untuk menggerakkan perekonomian.

Berawal dari datangnya beberapa pe dagang yang mremo, akhirnya mun cul pasar malam rakyat yang selalu digelar setiap menjelang tradisi ini dihelat. Megengan sendiri berasal dari kata tamu ageng atau tamu agung. Tak sedikit warga luar kabupaten yang datang ke alun-alun untuk menyambut hasil halaqoh para ulama ini. Momentum ini pula yang akhirnya merubah peristiwa halaqoh ulama menjadi sebuah perayaan.

Seiring dengan perkembangan politik dan pemerintahan di Semarang, perayaan Dugderan dalam menyambut awal Ramadhan ini juga sudah mengalami banyak perubahan. Tradisi yang selalu diperingati dan dipusatkan di alun-alun dan masjid Agung Kauman pun bergeser ke Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).





Cari inspirasi batik di Batik Jayakarta, Jalan Perintis Kemerdekaan 172, Semarang. Ada koleksi batik dari berbagai kota dan kabupaten di Jawa Tengah. Batik Jayakarta akan mengubah cara pandang masyarakat mengenai batik yang kuno dan formal menjadi batik yang modern.


Facebook | Instagram | Twitter | Path : @batikjayakarta
Telepon 024-7474758

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar: