Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenal Batik Indonesia Rancangan Go Tik Swan (1)

By | 07.00 Leave a Comment
BATIK SEMARANG – TIDAK banyak seniman batik yang memiliki identitas atau kekhasan pada desainnya. Dari yang sedikit itu, salah satunya adalah Go Tik Swan Hardjonagoro. Ia seorang legenda batik asal Solo yang menciptakan batik Indonesia – perpaduan motif dan teknik pewarnaan gaya klasik dengan gaya pesisir.


Titik balik Go Tik Swan sebagai seniman batik dimulai dari  perjumpaannya dengan Presiden Soekarno tahun 1955. Go Tik Swan yang ketika itu masih menjadi mahasiswa Universitas Indonesia (UI) menari menampilkantarian Gambir Anom di Istana Negara.

Terkesan oleh penampilan Go Tik Swan, Soekarno mengajaknya  berbincang-bincang. Soekano kemudian tahu bahwa Go Tik Swan ternyata juga memiliki ketertarikan dengan batik. Soekarno yang sedang membangun idealisme persatuan kemudian meminta Go Tik Swan mewujudkannya dalam satu desain batik.

Maka, lahirlah desain batik Indonesia, desain batik yang  bukan Solo, Yogya, Pekalongan, Cirebon, Lasem, dan lain-lainnya, tapi merupakan gabungan batik-batik di Indonesia yang akan menjadi ciri khas Indonesia. Batik Sawunggaling, Rengga Puspita, Kembang Bangah Kuntul Nglayang adalah beberapa motif ciptaan Go Tik Swan (GTS) yang memperkaya khazanah batik Indonesia. Bahkan, motif Sawunggaling yang berupa pertarungan sepasang ayam jantan dianggap sebagai masterpiece sang legenda yang juga menjadi must have item para pencinta batik.

Sampai sekarang, desain batik Go Tik Swan dikenal sebagai batik premium sehingga tak banyak orang bisa memilikinya. Batik rancangan Go Tik Swan mulai diproduksi tahun 1960, di sebuah rumah berarsitektur art deco yang kini dikenal sebagai Dalem Hardjonegaran, di Jalan Yos Sudarso, Solo.

Rumah yang menempati bidang tanah seluas 2.000 meter persegi (yang kini menjadi cagar budaya)  ini terdiri dari rumah utama dengan teras belakang berbentuk setengah lingkaran yang desainnya dibuat oleh Presiden Soekarno.

Di belakang rumah utama ada beberapa bangunan pendopo berlantai semen. Di sinilah batik-batik GTS terus dibuat sejak awal kelahirannya hingga kini. Ibu-ibu pembatiknya sebagian telah berusia lanjut. Salah satunya adalah Mbok Jinah, yang kini telah berusia 82 tahun. Ia dengan telaten menggerakkan canting sejak pagi hingga sore hari, menelusuri pola corak batik peninggalan sang legenda.

Semasa hidupnya, setidaknya pada periode 1950-2008, Go Tik Swan atau Panembahan Hardjonagoro telah menciptakan  menciptakan sekitar 200 motif batik –Go Tik Swan menamakan Batik Indonesia. Batik ciptaannya merupakan perpaduan multi warna antara batik Solo yang didominasi hitam dan cokelat, dengan daerah pesisir yang memiliki warna cerah.

Menurut Siti Supiyah Anggriyani, pewaris  dan sekaligus pengelola Batik Indonesia, Go Tik Swan sempat belajar membatik langsung dari ibunda Susuhunan Paku Buwono XII yang memiliki pola batik pusaka yang pada jamannya tidak pernah dikenal umum.

Supiyah menambahkan sebelum mengembangkan batik keraton, Go Tik Swan mempelajari semua batik di Indonesia. Hasil penjelajahan dan kreasinya itu adalah Batik Indonesia  yang bercirikan warna-warna baru yang cerah, bukan hanya cokelat, biru, dan putih kekuningan seperti lazimnya dijumpai pada batik Solo dan Yogyakarta. Inspirasi warna-warna cerah, kata Supiyah,  konon didapat Go Tik Swan dari Ibu Soed, pencipta lagu Indonesia yang juga dikenal piawai dalam seni batik.

“Batik Indonesia lahir karena permintaan Presiden Soekarno setelah melihat batik karyanya. Pak Karno meminta pada Go Tik Swan untuk membuat karya batik Indonesia yang berbeda dengan motif batik Solo, Yogyakarta, Pekalongan, ataupun daerah lain,” ujar Supiyah.

Secara filosofi penciptaan, menurut Supiyah, Go Tik Swan menerapkan konsep nunggak semi, yaitu sebuah konsep pengembangan kebudayaan yang didasarkan pada pokok (tonggak) kebudayaan lama. Dengan kata lain, karya yang baru diciptakan berdasarkan karya-karya lama.

Supiyah mencontohkan beberapa motif Batik Indonesia karya Go Tik Swan antara lain, Kembang Bangah, Radyo Kusumo, Kuntul Nglayang, Kutila Peksawani, Sawunggaling, Sedebyah, Parang Anggrek, dan Parang Mega Kusumo yang khusus diciptakan untuk mantan Presiden Megawati.

“Jadi begini, Batik Indonesia itu perpaduan motif lama dengan sentuhan baru. Setiap pola dan motifnya ada filosofinya. Sekarang ini motif tinggalan Panembahan ada sekitar 200,” tutur Supiyah.

(bersambung)


[kesolo.com]




Cari inspirasi batik di Batik Jayakarta, Jalan Perintis Kemerdekaan 172, Semarang. Ada koleksi batik dari berbagai kota dan kabupaten di Jawa Tengah. Batik Jayakarta akan mengubah cara pandang masyarakat mengenai batik yang kuno dan formal menjadi batik yang modern.


Facebook | Instagram | Twitter | Path : @batikjayakarta
Telepon 024-7474758

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar: