Diberdayakan oleh Blogger.

Gutha Tamarin, Si Pengganti Lilin dalam Teknik Batik

By | 07.00 Leave a Comment
BATIK SEMARANG – Batik sebagai warisan budaya dunia patut diwariskan pada generasi penerus. Hanya saja, teknik pewarnaan pada kain ini punya proses lumayan panjang dan memakan biaya tak sedikit. Tak hanya itu, seseorang juga perlu memahami manajemen khusus untuk mengelola limbah dari proses pewarnaan dan pencucian batik.

Beranjak dari berbagai persoalan itu, Niken Apriani, guru SMP N 3 Cimahi, lalu mengusung hal baru. Ia memilih menggunakan tamarin atau serbuk biji asam sebagai pengganti malam atau lilin yang biasa digunakan dalam proses membatik. Guru seni rupa ini pun tetap bisa mengajarkan teknik membatik pada siswa-siswinya dengan bahan yang mudah dijangkau dan mudah dikerjakan.

"Gutha tamarin itu bahan perintang pengganti malam atau lilin pada teknik batik. Gutha itu istilah dalam dunia seni rupa. Kalau saya lebih suka pakai istilah burtam, bubur tamarin," ujarnya di sela workshop teknik gutha tamarin di Galeri Nasional Indonesia, Selasa (8/8).

Umumnya, serbuk biji asam ini digunakan para pembatik untuk mengentalkan warna. Niken terpikir untuk mencoba menggunakan bubur tamarin untuk menggantikan lilin. Lilin atau malam biasa digunakan untuk membentuk pola pada kain sekaligus memberi perintang atau pembatas agar pada saat proses pewarnaan, warna tidak tercampur atau keluar dari pola.

Niken mengatakan, serbuk biji asam ini dapat ditemui di toko-toko yang menyediakan alat dan bahan membatik. Penggunaannya pun mudah. Cukup campur serbuk biji asam dengan sedikit mentega dan air panas. setelah jadi adonan yang agak kalis dan tidak terlalu kental, masukkan ke dalam plastik, dan ikat. Gunting ujung plastik lalu gutha tamarin siap digunakan. Bila dibandingkan dengan teknik membatik pada umumnya, plastik ini sebagai pengganti canting untuk membubuhkan malam pada kain.


Ramah Lingkungan

Proses membatik dengan gutha sebenarnya tidak jauh berbeda dengan membatik pada umumnya. Tahap pertama, kata Niken, adalah menyiapkan kain, yang tak harus serat alam, misal katun dan sutera. Seseorang juga bisa menggunakan serat sintetis contohnya polyester. Pasang pada bingkai kayu. Buat pola atau sketsa dengan pensil yang lunak, mulai 6B sampai 8B.

Kemudian, buat outline dengan gutha tamarin. Pastikan pola tertutup dengan gutha karena jika terdapat lubang sekecil apapun, maka warna dapat 'menyeberang' pola dan bercampur dengan warna lain. Jemur pola yang sudah jadi. Setelah kering, mulailah mewarnai. Pemilihan pewarna bergantung pada kain yang digunakan.

"Gutha tamarin tidak terbatas pada jenis kain tertentu. Pewarna disesuaikan saja. Kalau serat sintetis pakai pewarna dispers. Serat alam bisa dari pewarna alami misal kunyit, daun suji atau pewarna jenis reaktif, dengan merk dagang ada remasol, wantex," jelas Niken.

Pewarnaan pun mudah dilakukan. Niken mengatakan, seseorang dapat mewarnai layaknya sedang melukis. Cukup bermodalkan kuas dan kreativitas mencampur warna. Proses berikutnya adalah mengukus, suatu langkah unik membatik dengan gutha tamarin. Kain yang sudah diwarnai diberi lapisan koran, baik di atas maupun di bawahnya. Lipat menyerupai kipas, lalu gulung. Bungkus kembali dengan alumunium foil, handuk atau kain bersih. Hal ini untuk mencegah uap air saat proses pengukusan tidak terserap oleh kain.

Setelah 10-12 proses pengukusan, angkat dan biarkan dingin. Terkahir, cuci kain dengan detergen atau sabun lain untuk menghilangkan gutha. Tak ada aturan khusus untuk penjemuran. Niken berkata, tak seperti kain batik yang tak boleh dijemur di bawah terik sinar matahari, kain dengan teknik gutha tamarin ini tak masalah dijemur di bawah sinar matahari langsung.

"Keuntungan dari penggunaan gutha tamarin ini adalah go green atau ramah lingkungan, karena bahannya sendiri dari serbuk biji asam," katanya.

Selain itu, teknik ini tak meninggalkan limbah seperti pada proses membatik yang perlu mencelupkan kain pada saat proses pewarnaan. Tak ada air yang terbuang kecuali pada saat pencucian.

Hanya saja, ada kelemahan-kelemahan dalam teknik gutha tamarin. Gutha tamarin tak mampu menangkap detail atau profil yang kecil. Tak seperti teknik membatik dengan malam atau lilin, gutha mudah diaplikasikan pada profil atau motif besar. Jika campuran gutha terlalu kental, warna masih dapat tercampur atau melewati pola. Niken menambahkan, jika campuran terlalu encer pun demikian, sehingga penting untuk memastikan campuran bisa pas.

Kendati demikian, Niken meyakini bahwa dengan teknik gutha tamarin ini, guru-guru di sekolah lain dapat tetap mengajarkan teknik membatik pada siswa-siswinya.

"Ini dapat mengembangkan media pembelajaran dengan alternatif lain. Bahan tidak sulit, tidak membuang limbah berlebih," ucapnya.



[cnnindonesia.com]




Cari inspirasi batik di Batik Jayakarta, Jalan Perintis Kemerdekaan 172, Semarang. Ada koleksi batik dari berbagai kota dan kabupaten di Jawa Tengah. Batik Jayakarta akan mengubah cara pandang masyarakat mengenai batik yang kuno dan formal menjadi batik yang modern.


Facebook | Instagram | Twitter | Path : @batikjayakarta
Telepon 024-7474758
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar: