Diberdayakan oleh Blogger.

Kemerdekaan Batik di 72 Tahun: Yuk Hargai Proses dan Makna Batik!

By | 07.00 Leave a Comment
BATIK SEMARANG – Melihat perkembangan dan perjalanan batik di Indonesia, sewindu belakangan ini, Batik telah mengubah banyak hal di Indonesia. Pada 2 Oktober 2009 lalu, dunia telah mengakui bahwa Batik merupakan warisan asli Indonesia secara sah. Sejak itulah, bisnis Batik di Indonesia semakin meningkat dengan drastisnya.


Saya mungkin tidak tau banyak mengenai Batik secara harfiah, serta proses dan juga sejarahnya. Saat beberapa tahun lalu, masih belum banyak pengrajin Batik yang yakin dengan apa yang mereka buat selama ini, baik dari Desa Batik yang ada di seputaran Yogyakara, Jawa Tengah.

Namun, saat itu, saya berkesempatan untuk bertemu dengan pengrajin Batik yang lainnya di Desa Sentra Batik yang memiliki kehidupan sederhana, bahkan mungkin terbilang sangat sederhana yang membuat saya belajar banyak hal mengenai Batik.

Sebuah kain akan disebut Batik jika telah melewati tiga proses, yaitu pencantingan, pewarnaa dan pelorotan (pelepasan malam atau lilin). Sebuah kain tidak akan bisa disebut sebagai kain Batik jika tidak melewati proses tersebut.

Dalam dunia bisnis, Batik Indonesia semakin berkembang dari waktu ke waktu dan menjadi peluang bisnis yang berpotensi dan bisa bersaing dengan negara-negara lain. Namun, jika berbicara tentang Batik, hal ini masih terlihat bentuk penjajahan juga lewat paradigma "Juragan Batik" di mana pengrajin tidak bisa menikmati sebuah hal merdeka dalam karya dan pengakuan batik dimata dunia.

Batik Tulis merupakan salah satu Batik yang pastinya sudah tidak asing lagi dan dikenal sebagai salah satu Batik yang mahal. Namun, Batik Tulis tersebut hanya bisa dianggap “mahal” atau “mewah” oleh jurangan Batik itu sendiri jika tidak ada perubahan dan juga keyakinan dalam diri sang pengrajin Batik untuk mewariskan keahliannya kepada generasi penerusnya kelak.

Saya memang tidak banyak mengerti tentang bisnis Batik. Namun, yang saya pernah dengar tentang bisnis bahwa bisnis itu kejam. Apakah kata tersebut harusnya didapatkan oleh pengrajin-pengrajin Batik di negeri ini? Apakah Batik dapat bertahan dalam keadaan seperti ini, di mana pengrajin Batik hanya mendapatkan upah minim dan tak layak padahal mereka merupakan pelaku utama pelestari warisan budaya ini?

Mungkin, pengrajin Batik di ujung desa sana belum tau atau belum mengerti bahwa selembar kain yang ia ciptakan dengan proses dan waktu yang panjang dengan motif tradisional tersebut sudah bisa diciptakan dengan menggunakan mesin yang bisa menciptakan kain Batik dengan waktu yang lebih cepat?

Kesadaran inilah yang membuat saya mengubah pemikiran saya terhadap dunia Batik. Lewat tangan seniman Batik, saya mecoba mengkolaborasikan dan mengubah Batik menjadi lebih modern. Bukan modern dengan buatan mesin, namun menciptakan karya Batik yang lebih spesial dan tidak bisa dilakukan oleh mesin.

Mendobrak semua pakem terhadap Batik terdahulu, dengan niatan dan dorongan bahwa pengrajin harus hidup layak sampai kapanpun di Indonesia, saya mulai mengembangkan motif batik untuk memerdekakan karya mereka dalam membatik dengan meyakinkan mereka bahwa untuk tetap menjual dan melestarikan Batik yang memang sudah merdeka.

Akhirnya, saat ini sudah banyak bermunculan produsen Batik modern yang mengutamakan proses pembuatan Batik. Dengan tidak hanya mengedepankan motif yang bisa dibuat dengan mesin, kini para pengrajin Batik terus dengan yakin, mantap dan semangat untuk terus mengayunkan cantingnya demi sebuah kebanggaan negeri ini yang bisa kita bicarakan dengan bangga di hadapan dunia.

Bagaimanapun, Batik merupakan pelestarian budaya kita semua. Dengan menghargai sebuah nilai kain dan prosesnya, kita terus melanjutkan kemerdekaan ini dengan baik, menghapus paradigma juragam dan menggiatkan Batik sebagai kebanggaan Indonesia.

Yuk kita lestarikan Batik!




[shopback.co.id]
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar: