Diberdayakan oleh Blogger.

Tak Lagi Andalkan Malam, Membatik Kini Bisa Pakai Lem

By | 07.00 Leave a Comment
Ilustrasi membatik

BATIK SEMARANG – Untuk membuat ukiran batik, pengrajin biasanya harus menggunakan malam atau lilin yang harus dipanaskan di atas api. Bagi mereka yang belum terbiasa, malam panas adalah bagian yang tak menyenangkan karena kerap kena kulit.

Nah, seorang pria asal Cirebon menciptakan inovasi baru dalam membatik supaya lebih aman, yakni mengganti penggunaan malam dengan lem. Namanya, Ade Supriyadi.

Sejak 2008 lalu, dia mencetuskan lem sebagai pengganti malam. Namun, baru-baru inilah dia berani memperkenalkan teknik ini ke masyarakat luas, khususnya pelajar.

"Selama ini membatik pakai malam yang harus dipanaskan di atas kompor. Dan menurut saya, itu berbahaya bagi anak-anak yang baru belajar membatik. Untuk itu, saya mencari alternatif lain dengan bahan dan cara yang lebih aman," kata Ade.

Untuk itu, iapun membuat bahan lem khusus batik. Ade mencampurkan tepung tapioka, terigu, kopi, lalu direbus dengan air. Cantingnya pun diganti dengan menggunakan botol plastik kecil, yang memiliki ukuran lubang yang berbeda.

"Mirip dengan cotton bud yang ujungnya berlubang atau dibuat seperti tipe x yang cair. Tapi saya tidak pakai cotton bud karena kesannya kotor. Selain itu, batik yang saya kembangkan ini mempunyai keunggulan tersendiri."

Salah satunya, kata dia, bisa dilakukan dalam waktu singkat di air yang tidak mendidih. Selain itu, batik dengan lem bisa langsung dicelupkan pewarna dan penguat, walau kondisinya masih basah. Berbeda dengan batik konvensional yang harus menunggu sampai kering dulu.

Ia menambahkan batik lem ciptaannya juga bisa dilakukan di media lain. Seperti seluruh jenis sepatu, bahkan kulit manusia. Meski begitu, masih banyak kekurangan dari batik lem tersebut.

"Kekurangannya kalau pertama di cuci kainnya masih agak keras karena sifat lem nya masih menempel jadi harus 3-4 kali cuci. Keringnya memang agak lama terus kalau mau dicelup pakai pewarna harus bolak balik mewarnainya agar setelah dicelup di air warnanya makin tajam," ungkap Ade.

Sementara itu, inovasinya tersebut diperkenalkan di acara pameran yang diselenggarakan oleh SMPN 6 Kota Cirebon bekerja sama dengan Komunitas Kuno Kini Nanti.



[otonomi.co.id]
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar: