Diberdayakan oleh Blogger.

Selama 2016, RI Ekspor Tenun dan Batik Rp 2 Triliun

By | 11.30 Leave a Comment
Selain menjadi produk khas Indonesia, rupanya tenun dan batik bisa berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional, dengan nilai ekspor yang mencapai 151,7 juta dolar AS atau setara dengan Rp 2 triliun (kurs Rp 13.300) selama tahun 2016. 

Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian terus memacu industri tenun dan batik sebagai bagian dari industri kreatif.

“Kementerian Perindustrian tengah memacu kinerja industri padat karya berorientasi ekspor karenamampu memberikan efek berganda bagi pemerataan kesejahteraan masyarakat, salah satunya melalui penyerapan tenaga kerja,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto melalui pesan singkatnya kepada kumparan (kumparan.com), Kamis (6/4).

Kemenperin telah menetapkan 10 industri padat karya dan berorientasi ekspor yang diprioritaskan pengembangannya pada tahun ini, salah satunya industri kreatif. Sedangkan, yang lainnya adalah industri alas kaki, industri tekstil dan produk tekstil, industri makanan dan minuman, industri furnitur kayu dan rotan, industri elektronika dan telematika, industri barang jadi karet, industri farmasi, kosmetik dan obat tradisional, industri aneka, serta industri pengolahan ikan dan rumput laut.

Kemenperin mencatat, industri kreatif menyumbang sekitar Rp 642 triliun atau 7,05 persen terhadap total PDB Indonesia pada tahun 2015. Kontribusi terbesar berasal dari sektor kuliner sebanyak 34,2 persen, fesyen 27,9 persen dan kerajinan 14,88 persen. Selain itu, industri kreatif merupakan sektor keempat terbesar dalam penyerapan tenaga kerja nasional, dengan kontribusinya mencapai 10,7 persen atau 11,8 juta orang.

Airlangga optimistis terhadap potensi industri tenun dan batik nusantara karena didukung dengan kekayaan budaya Indonesia yang terus melahirkan berbagai jenis wastra dari masing-masing daerah dan memiliki karakteristik yang berbeda-beda. 

Lebih lanjut, untuk mendorong produk IKM nasional bisa menembus pasar ekspor, pemerintah telah memberikan fasilitasi Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE) serta memberikan fasilitasi pembiayaan melaluiLembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). 

Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih mengungkapkan, hingga saat ini terdapat 369 sentra IKM tenun dan 101 sentra IKM batik yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. 

“Beberapa tahun terakhir ini, wastra nusantara (tenun dan batik) telah bermetamorfosis menjadi berbagai produk fesyen, kerajinan dan home decoration yang memiliki nilai tambah tinggi,” ucapnya.

Berdasarkan data BPS yang diolah Direktorat Jenderal IKM Kemenperin, IKM terus meningkatkan nilai tambah di dalam negeri yang cukup signifikan setiap tahun. Hal ini terlihat dari capaian pada tahun 2016 sebesar Rp 520 triliun atau meningkat 18,3 persen dibandingkan pada 2015. Sementara itu, nilai tambah IKM di tahun 2014 tahun sekitar Rp 373 triliun menjadi Rp 439 triliun tahun 2015 atau naik 17,6 persen.
Sumber : kumparan.com
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar: