Diberdayakan oleh Blogger.

Pemkab Dorong Perkembangan Batik Tulis Klasik

By | 13.09 Leave a Comment
Batik Semarang - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul bertekad mempertahankan batik tulis, terutama batik tulis motif klasik dengan teknik pewarnaan lawasan.

Tekad yang ditunjukkan pemerintah ini tidak hanya sebagai upaya nguri-nguri kebudayaan, tapi juga karena batik tulis klasik ternyata memiliki pangsa pasar tersendiri dan berpotensi ekspor, lantaran diminati pasar mancanegara terutama Jepang.

Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Bantul, Sunarto, menyebut di Bantul sebenarnya banyak motif batik klasik yang berpotensi jadi komoditas ekspor. Seperti motif batik tulis nitik, kembang kertas, maupun motif parang.

Namun menurut dia, agar produk yang dihasilkan diminati konsumen luar negeri, masih ada beberapa modifikasi yang perlu dilakukan para pengrajin. Sehingga bisa sesuai selera konsumen, namun tetap mempertahankan pakem yang ada.

Seorang pengrajin batik klasik asal Desa Triharjo, Kecamatan Pandak, Bantul, Budi Harjono menyebut jika pihaknya selama ini tetap mempertahankan motif batik klasik atau tradisional.

Alasannya karena motif batik jenis ini, ternyata masih banyak dimintai para konsumen, tidak hanya konsumen lokal tapi juga konsumen mancanegara. Buktinya batik produksinya kini sampai ke Singapura, Filiphina, Malaysia dan Thailand.

Budi, sapaan Budi Harjono menyebut jika selama ini memang motif klasik masih menjadi produk batik unggulan di tempatnya.

Di antara jenis batik klasik yang sampai sekarang terus pihaknya produksi seperti motif parang rusak, parang seling, kawung, kawung prabu, sekar jagat, dan nitik.

"Di pasaran batik Bantul dengan ciri seperti itu, walau motifnya sederhana tapi banyak disukai," ungkapnya.

Kini Budi mengaku semangat melestarikan batik tulis klasik lantaran ada dorongan dari pemerintah. Memang kini produksi batik tulis motif klasik atau tradisional di tempatnya tak sebanyak dulu.

Selain karena produksi motif klasik biayanya mahal, para pembatik selama ini juga kurang mendapat dukungan dari pemerintah.

"Kalau di tempat kami sekarang produksi batik tulis hanya 30 lembar per bulan," paparnya.

Menggeliat

Usaha batik di Bantul, terutama Kecamatan Pandak, menurut Budi sekarang menggeliat. Buktinya sekarang di Pandak bisa dibilang sebagai sentra baru pembuatan batik di Bantul, lantaran hampir di semua desa ada pengrajin.

"Di Desa Gilangharjo ada 14 pengrajin, Desa Caturharjo ada lima pengrajin, Desa Wijirejo ada 24 pengrajin, di Triharjo ada 12 pengrajin. Semuanya berbasis multitradisional, karena di sana ada batik cap dan tulis," tutupnya. 
Sumber :  tribunnews.com
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar: