Diberdayakan oleh Blogger.

Iriana Joko Widodo: Dialog Budaya Lewat Batik dan Penutup Kepala

By | 07.30 Leave a Comment
Pagi itu, Selasa (7/9) suasana di Istana Kepresidenan Bogor tampak tenang. Kesibukan baru tampak di salah satu sudut istana yang sedang bersiap menyambut kedatangan tamu Negara dalam Spouse Program KTT Indian Ocean Rim Association (IORA) 2017 atau Konferensi Tingkat Tinggi Negara-negara Lingkar Samudera Hindia yang berlangsung di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta.

KTT IORA 2017 dihadiri sekitar 477 orang, termasuk para pemimpin negara, perdana menteri, dan menteri luar negeri dari 21 negara yang menjadi anggota IORA. Berbagai tema dibahas dalam dalam forum ini, seperti keamanan dan keselamatan maritim, fasilitasi perdagangan investasi, manajemen risiko bencana, manajemen perikanan, IPTEK, pariwisata dan pertukaran budaya, hingga blue economy dan pemberdayaan wanita.

Jamuan makan siang dalam Spouse Program di Istana Kepresidenan Bogor itu dihadiri oleh empat pendamping pemimpin negara dan pemimpin pemerintahan, yaitu Madam Suleikha Ghalinle Osman, istri Wakil Perdana Menteri Somalia; Madam Chew Poh Yim, istri Wakil Perdana Menteri Singapura; Madam Mwanamwema Shein, istri Wakil Presiden Republik Persatuan Tanzania; dan Madam Bongi Ngema-Zuma, istri Presiden Republik Afrika Selatan.

Ibu Negara Iriana Joko Widodo mengajak para tamu untuk membatik. Dengan lincah, jemari mereka menggerakkan canting di atas kain sutera. “Rasanya punya saya berantakan sekali,” kata Madam Suleikha Ghalinle Osman, istri Wakil Perdana Menteri Somalia kepada Ibu Iriana yang membantunya membatik.

Lewat membatik, para tamu ditunjukkan betapa rumitnya proses pengerjaan sehelai kain batik yang indah. Sejumlah koleksi batik dari Museum Batik House of Danar Hadi, Solo juga dipamerkan di acara ini. Di antaranya, batik keraton, batik Jawa Hokokai, batik Tiongkok, dan batik Belanda.


Batik sutera yang tadi dibuat oleh para tamu akan diselesaikan oleh perajin batik di Solo dan dikirimkan sebagai kenang-kenangan. Motif batik yang disiapkan untuk tiap tamu juga istimewa. Misalnya, motif bunga anggrek untuk Madam Chew Poh Yim, istri Wakil Perdana Menteri Singapura.

Bentuk uluran persahabatan antara dua negara ini telah terjalin sejak lama. Anda bisa menemukan anggrek Dendrobium Iriana Jokowi dalam salah satu koleksi anggrek di National Orchid Garden, Singapore Botanical Garden. Nama Iriana diabadikan sebagai nama anggrek pada kunjungan kerja ke negeri singa pada tahun 2015 lalu. Selain Iriana Jokowi, nama Ani Yudhoyono dan Angela Merkel juga diabadikan sebagai nama hibrida anggrek yang dihasilkan Singapura.

Dalam acara ini, Ibu Negara Iriana Joko Widodo juga didampingi Yasmin Sukmawira Fachir, istri Wakil Menteri Luar Negeri AM. Fachir. Yasmin bercerita, keindahan batik selalu menarik perhatian para tamu negara. Di Spouse Program KTT Asia Afrika 2015 lalu, para pendamping kepala negara dan kepala pemerintahan diajak Ibu Negara Iriana Joko Widodo melihat koleksi batik di Museum Tekstil, Jakarta.

Memang sulit untuk tidak jatuh cinta pada keindahan batik yang beragam. Madam Bongi Ngema-Zuma, istri Presiden Afrika Selatan sempat mencoba memakai beberapa kain batik dibantu Ibu Iriana. “Di Afrika juga ada motif serupa batik, namun berbeda dengan batik Indonesia. Saya menceritakan pada para tamu yang sangat antusias saat tahu bahwa batik Indonesia sangat bervariasi dari kualitas hingga harganya,” tutur Yasmin.

Selain memperkenalkan batik sutera, Indonesia juga menghadirkan koleksi mutiara Lombok. “Batik dan perhiasan mutiara Lombok itu tadinya tidak untuk dijual, namun ternyata para tamu suka. Jadi, ada beberapa perhiasan yang mereka beli,” tambah Yasmin yang mengaku senang menu makan siang hari itu disukai para tamu. Di antaranya, ada menu khas Indonesia seperti asinan sayur, sate lilit, dan nasi merah.

Usai jamuan makan siang, Ibu Iriana Joko Widodo sempat menjelaskan cara memakai kerudung gaya Indonesia kepada para tamu. “Setelah itu, Ibu Iriana gantian ditunjukkan cara melilit kain batik untuk penutup kepala ala Afrika Selatan oleh Madam Bongi Ngema-Zuma, istri Presiden Afrika Selatan.” Penutup kepala itu tetap dikenakan oleh Iriana hingga saat melepas kepulangan para tamu.

Doek, penutup kepala khas Afrika Selatan itu sejak dulu telah dikenakan oleh para wanita Afrika untuk berbagai kesempatan, seperti acara pernikahan, bahkan pemakaman. Selain menjadi fashion statement yang tegas, menurut tradisi, doek dikenakan oleh wanita matang, dan biasanya berstatus menikah. Meski demikian, kini banyak juga wanita muda Afrika yang mengenakan doek, untuk alasan praktis, terutama untuk tetap tampil gaya saat kondisi rambut sedang tak bersahabat.

Tanpa sadar, dalam pertemuan singkat sekitar 2,5 jam tersebut telah terjadi dialog budaya antara dua negara lewat para Ibu Negara yang saling berbagi pengetahuannya tentang kebiasaan warga lokal. Keramahtamahan khas Indonesia juga sepertinya diterima dengan baik oleh para tamu.

“Madam Suleikha Ghalinle Osman, istri Wakil Perdana Menteri Somalia yang baru pertama kali datang ke Indonesia sempat bilang pada saya, ia ingin kembali lagi ke Indonesia,” tutur Yasmin
Sumber :  www.femina.co.id
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar: