Diberdayakan oleh Blogger.

Perajin Batik Sleman Fokus Kembangkan Batik Pewarna Alam

By | 08.02 Leave a Comment
Batik Semarang - Suara permainan gamelan terdengar mengalun merdu.

Gending Jawa yang dilantukan seorang penyanyi. Angin sepoi mengayunkan puluhan kain batik berwana-warni berbagai motif.

Empat orang wanita terlihat menarikan tangan yang memegang canting diatas kain berwarna putih.

Mereka sedang memainkan peran drama gambar keseharian seorang pembatik.

Suasana itu terlihat di gedung serba guna Kantor Desa Trihanggo Gamping Sleman, Sabtu (28/1/2017).

Drama itu yang dimainkan para pembatik itu merupakan bagian acara peringatan ulang tahun kedua Asosiasi Batik Mukti Manunggal Sleman.

Di tahun kedua ini, Ketua Asosiasi Asikhah Eko Putranti mengungkapkan, pihaknya tengah membangun identitas batik di Sleman.

Batik dengan bahan pewarna alami akan menjadi identitas batik yang diproduksi oleh warga Sleman.

"Awalnya ada (pembatik) yang berangkat dari pewarna sintetis, tapi tahun 2016 kita semua sudah memulai untuk memproduksi warna alami. Tujuan kami adalah batik warna alami identik dengan Sleman," ujar wanita yang akrab dipanggil Tanti.

Penggunaan pewarna alami itu juga untuk mendukung program pelestarian alam yang digemborkan pemerintah Kabupaten Sleman.

Pasalnya, pihaknya juga menyadari jika Sleman merupakan daerah resapan air untuk DIY.

Tercatat, lanjut Tanti, kini ada 27 kelompok dan individu perajin batik dari seluruh penjuru Sleman yang tergabung dalam asosiasi ini.

Anggota asosisasi tersebut sebelumnya merupakan binaan Disperindagkop Sleman.

Kelompok dahulu binaan dari disperindagkop Sleman. Asosiasi dibentuk untuk bersama meningkatkan kualitas dan menjalin hubungan promosi produksi batik.

Total ada tujuh motif batik khas Sleman yang akan segera dipatenkan. Pemasaran batik perajin Sleman ini telah merambah di beberapa kota di Indonesia.

"Yang khas dan sedang trend batik motif sinom pari jogo salak," ungkap Tanti.

Tak tanggung-tanggung. Guna memperkenalkan karya batik mereka bahkan membuat sebuah film berjudul 'Aduh Blaik'.

Tanti mengatakan, film itu secara keseluruhan melibatkan pembatik yang tergabung dalam asosiasi. Mulai dari pemain hingga sutradara merupakan pengrajin batik.

"Promosi kami kemas dalam sebuah drama yang menceritakan anggota asosiasi beserta seluruh kegiatan," ujarnya. 
Sumber : tribunnews.com
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar: