Diberdayakan oleh Blogger.

Hamengkubuwono VIII Larang Rakyat Jelata Pakai 3 Motif Batik Ini

By | 10.59 Leave a Comment
2 Oktober, kita merayakan Hari Batik Nasional, untuk menandai ditetapkannya batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi oleh UNESCO pada 2009.

Penetapan tersebut sekaligus menjadi pengakuan internasional terhadap budaya Indonesia. Di luar itu, generasi sekarang tak banyak yang tahu jika pada suatu masa, beberapa motif batik menjadi monopoli kelas tertentu dalam struktur masyarakat.

Meskipun baju batik menjadi pakaian sehari-hari di masyarakat, motifnya merefleksikan sejarah panjang bangsa Indonesia, khususnya Jawa.

Sejak awal budaya Hindu dan Budha di Jawa, disain pakaian diatur sedemikian rupa untuk menggambarkan status sosial seseorang.

Sejumlah larangan diterapkan terhadap disain dan corak yang digunakan. Beberapa sultan di sejumlah kerajaan di Jawa diceritakan pernah melarang masyarakat untuk menggunakan corak batik tertentu. Hal ini juga berlaku di kalangan istana—disain tertentu menggambarkan posisinya di kerajaan.

Sri Paduka Sultan Hamengku Buwono VIII, misalnya, yang memerintah Yogyakarta dari 1921 hingga 1939, melarang sejumlah motif, seperti Parang Rusak, Semen Agung Sawat Garuda, dan Udan Liris.

Dikutip dari Australian Museum, disain motif batik tersebut hanya boleh dikenakan anggota keluarga kerajaan. Sultan juga menegaskan jika semakin besar motif batik, makin tinggi pula statusnya di masyarakat.
Motif parang rusak yang dikenakan Sultan Hamengku Buwono X

Parang Rusak

Motif batik desain Parang ini dikenakan oleh keluarga kerajaan pada acara resmi kenegaraan. Parang Rusak disebut melambangkan manusia yang harus melawan kejahatan dengan mengendalikan keinginan untuk meraih kebijaksanaan. Seperti air yang mengikis karang secara halus, motif ini menjadi pelajaran bagi raja dan keluarganya untuk mengolah rasa dengan lembut.

Konon motif ini diciptakan oleh Panembahan Senopati saat bertapa di tepi pantai laut selatan. Panembahan terinspirasi ketika memandang ombak yang tak putus-putusnya menggulung dan menghantam karang. Karena itulah, motif parang yang tampak seperti ombak itu dianggap mewakili semangat yang tidak pernah padam, seperti ombak yang mengikis batu karang dengan hantamannya secara perlahan-lahan.

Di balik itu, batik parang rusak memiliki mitos yang masih dipercayai orang-orang tertentu. Jika batik parang rusak digunakan dalam sebuah pesta pernikahan, dampak buruk akan menimpa kehidupan pasangan yang menikah—bahtera rumah tangganya bisa dipenuhi percekcokan.

Mitos ini muncul mungkin karena karena batik parang rusak dulu cukup dikeramatkan dan dipakai dalam acara-acara tertentu saja. Karena tidak pernah dipakai dalam acara pernikahan mungkin masyarakat awam menganggap tidak elok jika batik parang rusak digunakan dalam upacara pernikahan.

Motif Semen Agung Sawat Garuda

Sawat berarti ‘sayap’. Jadi, motif ini bercorak gambar sayap burung garuda, yang melambangkan atmosfer tertinggi di alam semesta dalam mitologi hindu.

Dalam cerita, Batara Wisnu naik ke Nirwana mengendarai burung Garuda. Burung ini dianggap sebagai burung yang teguh tanpa maguru, yang artinya sakti tanpa berguru kepada siapa pun. Garuda dianggap pula sebagai lambang kejantanan.

Udan Liris

Batik motif udan liris atau bisa diartikan hujan gerimis atau hujan rintik-rintik, merupakan simbol dari kesuburan, kesejahteraan, dan rahmat. Untuk menambah keindahan motif ini biasanya diantara garis-garis tersebut dihiasi dengan sejumlah motif lain, seperti motif api, yang berarti kesaktian dan ambisi; motif setengah kawung menggambarkan sesuatu yang berguna; motif banji sawat, melambangkan kebahagiaan dan kesuburan; motif mlinjon, melambangkan salah satu unsur kehidupan; motif tritis, melambangkan adanya ketabahan hati; motif ada-ada, melambangkan adanya perkasa; dan motif untu walang, melambangkan kesinambungan. 
Sumber : rimanews.com
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar: