Diberdayakan oleh Blogger.

Batik Indonesia Pikat Warga San Francisco

By | 08.53 Leave a Comment
Batik Semarang - Keragaman batik dan tenun Indonesia merambah pasar dan masyarakat San Francisco, Amerika Serikat. Pencapaian itu terwujud melalui eksibisi "Textile and Tribal Art" yang menampilkan Indonesia sebagai "country focus" asing pertama.

Pencapaian tersebut terukur dari lancarnya pelatihan membatik di Wisma Indonesia, San Francisco. "Setelah berakhirnya eksibisi selama empat hari, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) San Francisco mengadakan workshop mengenai pembuatan batik di Universitas UC-Berkeley dan Wisma Indonesia," kata Konsul Pensosbud KJRI San Francisco F Bernard Loesi seperti dalam laman bisnis.com, Ahad 19 Februari 2017.

KJRI San Francisco mengundang pembatik Dalmini dari Desa Kebon Indah di Klaten, penenun Alfonsa Horeng dari Flores dan Museum Tekstil Jakarta. KJRI menampilkan ratusan koleksi kekayaan kain tradisional Indonesia.

Acara tahunan ini merupakan program pertunjukan kain tekstil paling bergengsi di San Francisco yang menampilkan lebih dari 80 kolektor, kurator maupun penjual barang-barang dengan nilai seni berusia hingga ratusan tahun.

Pada tahun 2009 UNESCO mengakui batik sebagai warisan budaya. Acara pembukaan dihadiri konsul jenderal negara-negara asing, budayawan, kolektor, filantropis dan kurator di California.

Sementara pengunjung yang menghadiri eksibisi yang diselenggarakan selama empat hari tercatat lebih dari 2.000. "Saya selalu mengikuti eksibisi ini setiap tahun, namun dengan terlibatnya Indonesia maka tahun ini adalah yang paling meriah dan menarik," ujar kolektor kain tradisional asal San Francisco, Jane Shields (52).

Pengunjung lain mengagumi proses membuat batik dan kain tenun yang diperagakan di Pavillion Indonesia oleh Dalmini dan Alfonsa Horeng. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang kebetulan berada di San Francisco menyempatkan diri mengunjungi eksibisi sebagai tamu kehormatan panitia setempat.

KJRI San Francisco bekerjasama dengan Language of Cloth menyelenggarakan workshop di universitas ternama UC-Berkeley dan Wisma Indonesia. Sekitar 200 mahasiswa dan pencinta seni antusias untuk mengetahui sejarah, pembuatan dan filosofi pembuatan kain tradisional Indonesia. Pengunjung sangat tertarik mempraktikan pembuatan batik secara langsung.

Mereka menyampaikan kepada KJRI niatnya datang ke Indonesia agar dapat melihat dan mempelajari dari dekat proses pembuatan batik dan tenun. Seniman asal Oakland, Margareth Jones (44) pun mengatakan, keinginan untuk belajar melukis.

"Saya memiliki studio seni untuk melukis di atas kain dan setelah workshop ini saya berencana untuk tinggal di Klaten selama beberapa minggu untuk mempelajari bagaimana membuat batik," ujar Margareth Jones yang juga berprofesi sebagai perawat.

Sumber : tempo.com
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar: