Diberdayakan oleh Blogger.

Sejarah Batik

By | 07.00 Leave a Comment
Batik berasal dari bahasa Jawa, “amba” yang berarti menulis dan “titik”. Sedangkan makna dari kata Batik sendiri merujuk pada kain dengan corak yang dihasilkan oleh bahan malam yang diaplikasikan ke atas kain untuk menahan masuknya bahan pewarna. Secara historis, batik berasal dari zaman nenek moyang yang di kenal sejak abad ke XVII yang di lukis dan di tulis pada daun lontar. Ketika itu, motif batik masih didominasi dengan bentuk tanaman dan binatang. Pada sejarah perkembangan batik mengalami perkembangan dari corak lukisan tanaman dan bintang, secara perlahan motifnya beralih ke arah abstrak, seperti motif yang menyerupai awan, wayang, relief candi, dsb.

Kain putih yang digunakan sebagai bahan ketika itu adalah bahan yang merupakan hasil tenunan sendiri. Sedangkan bahan-bahan pewarna yang di pakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan yang di buat sendiri. Seperti pohon mengkudu, tinggi, nila, soga, kemudian bahan untuk sodanya di buat dari soda abu, serta garamnya di buat dari tanah lumpur.

Kesenian batik sendiri dikenal sebagai kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia pada zaman dahulu. Pada awalnya, batik dikerjakan hanya terbatas dalam keraton saja dan hasilnya digunakan untuk pakaian raja, keluarga, serta para pengikutnya. Karena banyak pengikut raja yang tinggal di luar keraton, maka dari itu kesenian batik ini di bawa oleh mereka ke luar keraton dan dikerjakan di tempatnya masing-masing.

Kerajinan batik di Indonesia telah di kenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan terus berkembang hingga kerajaan berikutnya. Meluasnya kesenian batik menjadi milik rakyat Indonesia, khususnya suku Jawa adalah setelah akhir abad ke XVIII atau awal abad ke XIX. Dimana batik yang dihasilkan adalah batik tulis sampai awal abad ke XX, kemudian disusul batik cap baru di kenal setelah perang dunia ke I atau sekitar tahun 1920.

Di balik asal usul batik sendiri, seiring dengan waktu dan perkembangannya secara lambat laun kesenian batik kemudian di tiru rakyat terdekat hingga akhirnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita untuk mengisi waktu senggang. Lalu, yang pada awalnya batik hanya menjadi pakaian para keluarga istana, perlahan mulai beralih menjadi pakaian rakyat yang sangat disukai, baik oleh kaum perempuan ataupun laki-laki.

Kenapa sih batik memiliki corak yang berbeda-beda?

Pada awalnya, corak atau motif yang ada telah dipengaruhi oleh bangsa asing. Awalnya batik hanya memiliki warna dan corak yang terbatas, dan ketika itu beberapa corak hanya dapat digunakan oleh kalangan tertentu. Namun corak batik pada kawasan pesisir menyerap berbagai pengaruh dari luar, seperti dari pedagang asing, dan bahkan hingga penjajah. Warna-warna cerah seperti warna merah dipopulerkan oleh Tionghoa, yang juga ketika itu telah mempopulerkan corak phoenix. Selain itu, bangsa Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bunga-bungaan yang sebelumnya tidak di kenal serta benda-benda yang dibawa oleh penjajah, seperti motif gedung atau kereta kuda. Namun batik tradisional sendiri tetap mempertahankan corak khasnya, dan masing-masing digunakan pada upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki lambang yang berbeda.
Sumber :  www.katedraljakarta.or.id
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar: