Diberdayakan oleh Blogger.

Mudah Dijiplak, Pengusaha Batik Merugi

By | 07.00 Leave a Comment
Mudah Dijiplak, Pengusaha Batik Merugi
Batik Semarang - Keresahan para pengusaha batik akibat hasil produksi tak sebanding dengan pengeluaran mulai terjawab. Pemicunya ialah tidak mampunya pemkab mengendalikan usaha batik di daerahnya. Salah satu faktanya, pemerintah tidak memiliki regulasi yang melindungi hasil karya para pmbatik.

Akibatnya, tidak ada larangan bagi orang luar daerah menjiplak hasil karya pembatik. Semisal berupa motif batik tulis atau bentuk keseniannya. Selama ini, memang tidak ada larangan penjiplakan motif batik untuk dikomersilkan.

Hal tersebut diakui Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Pamekasan, Bambang Edy Suprapto, Rabu (9/3). Menurutnya, secara nasional memang tidak ada kebijakan berupa larangan penjiplakan. Dengan begitu, siapa pun bebas meniru motif batik, hanya saja tidak boleh diakui sebagai karyanya sendiri.

Meski demikian, motif batik karya pengrajin batik Pamekasan tetap diakui sebagai motif batik khas Pamekasan. Serta, tidak bisa diklaim sebagai motif batik khas luar daerah.
“Jadi tidak hanya di Pamekasan, secara nasional memang tidak ada aturan berupa larangan penjiplakan. Kalau hasil percetakan bukan batik namanya, hanya kain dicetak meniru motif batik,” ujarnya.

Bambang mengakui penjiplakan batik khas daerah Pamekasan memang tidak bisa dikendalikan. Meskipun, terdapat regulasi yang mengatur hak paten motif batik, maka penjiplakan motif tetap sulit dibendung. Sebab, usaha batik merupakan hasil kekreatifan masyarakat untuk membuka peluang bisnis di tingkat desa.

“Sulit dibendung, karena semua masyarakat ingin mendapatkan keuntungan yang besar dari jenis kekreativannya. Meski ada aturan, upaya penjiplakan tidak mungkin berjalan dengan baik,” tegasnya.

Sementara itu, salah satu pengrajin batik tulis di Desa Banyupele, Kecamatan Palengaan, Kabupaten Pamekasan, Abdul Ali merasa resah dengan banyaknya motif batik khas Pamekasan yang kerap ditiru oleh perusaahan batik cetak. Padahal motif batik tersebut merupakan kekayaan intelektual yang seharusnya dilindungi oleh undang-undang.

Bahkan proses pembuatannya membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Menurutnya praktek jiplak menjiplak tersebut sering ditemui oleh pengrajin, terutama saat pagelaran pameran. Penjiplakan itu, sangat merugikan bagi pengrajin batik. Sebab harga batik cetak tiruan tersebut jauh lebih murah dari batik yang asli. Sehingga lebih dilirik para pembeli.

“Secara otomatis kalah saing. Kalau batik tulis yang asli harganya Rp100 ribu, kalau yang tiruan bisa Rp50 ribu. Jadi batik yang asli tidak laku. Kalau ada yang lebih murah dengan motif yang sama, sudah jelas lebih memilih yang lebih murah,” keluhnya.
Sumber : korankabar.com
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar: