Diberdayakan oleh Blogger.

Angkat Kelas Batik Jawa Timur

By | 07.00 Leave a Comment
Angkat Kelas Batik Jawa Timur
Batik Semarang - TATA niaga dan geografi yang tidak mendukung, membuat batik asal Jawa Timur kalah saing dengan batik Jawa Tengah. Padahal, batik asal provinsi ini memiliki keunikan tersendiri.

Kibas hadir mengangkat pamor batik Jawa Timur lewat berbagai kegiatan edukasi dan sosialisasi. C iri khas batik Jawa Timur, yaitu bebas dalam desain dan warna yang lebih variatif. Batik asal provinsi ini memiliki banyak varian di masing-masing daerah, motif dan warna batik juga memiliki karakter tersendiri. Sayang, keunikan batik Jawa Timur terganjal oleh perkara tata niaga dan geografi wilayahnya yang membuat pamornya kalah dengan batik Jawa Tengah.

“Tata niaga di Jawa Timur belum profesional sekali awalnya, sedangkan secara geografi maksudnya jauh dari pusat pemerintahan, yaitu kerajaan dan relasi dengan dunia luar (luar negeri) yang terbatas. Persinggungan secara formal tidak terjadi dengan dunia luar. Hal ini berpengaruh terhadap publikasi batik Jawa Timur,” kata dosen di Fakultas Seni dan Desain UK Petra Lintu Tulistyantoro yang hobi mengoleksi barang lama dan senang dengan budaya ini. Ditambah lagi, lanjut Lintu, batik Jawa Timur banyak dipakai oleh masyarakat secara umum (rakyat biasa), sementara para bangsawan mengenakan batik Jawa Tengah.

Prihatin melihat kenyataan ini, Kibas berkomitmen menaikkan derajat batik khas Jawa Timur dan berupaya menyingkap keistimewaan batik tersebut kepada masyarakat luas. Berdiri sejak 2008, Kibas awalnya Komunitas Batik Surabaya yang sifatnya intern UK Petra saja. Terdiri atas dosen dan karyawan UK Petra, Kibas diikrarkan pertama kali di perpustakaan UK Petra bersama warga dan sekolah yang telah mereka bina. Setahun kemudian, komunitas ini mulai berkembang dengan nama Komunitas Batik Jawa Timur yang berisi para profesional, sivitas UK Petra, akademisi, dan sebagainya.

Ya, bermula dari bentuk pengabdian kepada masyarakat dari Universitas Kristen Petra yang berupa pelatihan membatik bagi masyarakat Siwalankerto dan sekitarnya. Kemudian, berlanjut ke daerah lain serta ke beberapa sekolah di Surabaya. Komunitas ini selanjutnya mengadakan pameran bersama perpustakaan UK Petra. Perkembangan selanjutnya dalam rangka penghargaan batik oleh UNESCO sebagai warisan budaya, pada 2 Oktober 2009 diadakan acara besar berupa karnaval, pameran, demo, dan talk show tentang perawatan batik.

Pada saat inilah berkumpul berbagai elemen masyarakat pencinta batik yang terdiri atas Komunitas Batik Klampis Ireng, Komunitas Batik SERU Alam, Warga Binaan Setren Kali Bratang, Mahasiswa UK Petra, SMAK Carolus, SMAK Petra V, dan disaksikan oleh Dinas Pariwisata Kodya Surabaya. Diikrarkan Kibas dalam skala yang lebih luas dengan disaksikan oleh media cetak dan elektronik.

Sesuai dengan visinya sosialisasi dan edukasi, Kibas melakukan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat melalui pameran, seminar diskusi, kunjungan ke perajin, dan lainnya. Pembinaan kepada perajin batik di Pamekasan misalnya, mampu meningkatkan nilai jual batik Pamekasan yang spektakuler. Program ini dilakukan dengan cara pendampingan. Juga di daerah-daerah dengan perajin kecil dengan cara mempertemukan mereka dengan pihak pembeli baik lokal, nasional, maupun internasional.

“Kami juga membuat buku dan katalog pameran untuk edukasi kepada masyarakat secara umum. Mengadakan pelatihan kepada anak-anak sekolah ataupun umum,” kata Lintu yang menjabat sebagai ketua Kibas. Hingga sekarang, komunitas ini telah mempunyai lebih dari 450 anggota. Untuk bergabung dengan Kibas, Lintu menyilakan peminat untuk membuka Facebook Lintu Tulistyantoro atau Sadworo Ramadani. Kibas berambisi menjadi komunitas yang mandiri dan mampu berperan langsung dalam menjembatani pembeli dan perajin.

“Serta menjadi quality control niaga batik dan inspirator yang memandu perkembangan desain batik Jawa Timur,” harap Lintu.
Sumber  www.koran-sindo.com
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar: