Diberdayakan oleh Blogger.

Mendorong Hak Cipta Kain Tenun, Batik & Songket

By | 07.00 Leave a Comment
Mendorong Hak Cipta Kain Tenun, Batik & Songket
Batik Semarang - "Kami juga mengusulkan Dharma Wanita maupun organisasi perempuan lainnya untuk menjaga kearifan lokal sebagai cermin budaya yang harus dipertahankan melalui hak cipta," tegas istri Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Ferry Mursyidan Baldan, Hanifah Husein Musyidan Baldan di Jakarta, Selasa (08/12/2015).

Hanifah mengatakan karya Nusantara seperti kain tenun, songket maupun batik harus memiliki hak cipta sehingga negara lain tidak dapat mengklaim karya budaya itu. Bagi masyarakat pembuat kain tenun atau karya nusantara lainnya, jelas dia, produk itu memiliki makna tertentu berdasarkan ukuran maupun motifnya.

"Kita yang bukan masyarakat asli (daerah pembuat tenun) tidak mengerti namun bagi warga asli itu memiliki makna dari ukuran atau gambar binatang," ujar dia.

Ia berupaya menggerakan para istri menteri, pejabat negara dan karyawati lembaga pemerintah agar mengenakan busana berbahan asli produk Indonesia. Ia mencontohkan menteri, pejabat dan karyawati pada Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI sudah memperkenalkan hasil karya Nusantara dengan mengenakan tenun, batik serta songket asli dari wilayah Indonesia.

Contoh lainnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat telah menganjurkan pegawai negeri sipil untuk mengenakan bahan pakaian khas daerahnya. Ia lantas berharap pemerintah daerah lain juga turut serta melestarikan bahan pakaian yang menjadi ciri khas daerah.

Sementara itu, istri calon utusan tetap RI untuk PBB di New York Yanti Djani menambahkan pejabat Kemenlu RI wajib memperkenalkan bahan busana khas Indonesia khususnya mempromosikan kekayaan Nusantara.

"Kita menganjurkan pendamping (istri pejabat) dan karyawati Kemenlu RI mengenakan karya nusantara dari tenun, songket atau batik," tutur Yanti.

Sumber : gayahidup.inilah.com
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar: