Diberdayakan oleh Blogger.

Disperindag Kesulitan Tetapkan Harga Batik

By | 06.00 Leave a Comment
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pemkab Pamekasan kesulitan untuk menetapkan secara paten harga batik di wilayah bumi gerbang salam. Alasannya, batik tidak sama dengan barang-barang yang memang harganya sudah bisa dipaskan.

Kepala Disperindag Pamekasan Bambang Edy Suprapto mengatakan, batik merupakan karya seni yang harganya tidak bisa ditentukan. Menurutnya, harga batik bergantung pada nilai tawar peminat. Jika memang batik tersebut diminati, maka bisa saja terjual dengan harga yang tinggi.

Namun sebaliknya, jika batik tersebut kurang diminati, maka harganya tentu akan rendah. Harga batik bergantung pada jenis kain dan seni yang dikreasikan oleh para pembatik. Sehingga, sangat sulit untuk menentukan harga sebuah karya seni seperti batik.

“Pembeli batik itu terkadang suka dengan motif yang bagus, ada yang menawar lebih murah dan juga mahal. Jadi sulit menentukan harga. Makanya pemerintah tidak bisa menetapkan harga satuan batik secara paten,” ujarnya, Senin (21/12).

Dijelaskan, selama ini harga batik anjlok lantaran ulah pembatik sendiri. Mereka kurang mampu menguasai cara penjualan batik. Salah satu faktanya, pembatik masih belum mengerti cara memasarkan hasil karyanya dengan baik dan benar. Mereka masih mengandalkan cara yang mengakibatkan anjloknya harga.

“Terutama dari sisi cara menawarkan kepada calon pembeli salah. Mayoritas pengrajin batik menawarkan dengan bahasa batik murah-batik murah. Nah, bahasa seperti keliru. Seharusnya batik bagus batik bagus. Kami selalu menegurnya,” tuturnya.

Salah satu pengrajin batik Nawawi asal Dusun Banyumas, Desa Klampar, mengatakan harga batik di kalangan pengrajin saat ini mulai tidak menentu. Bahkan, pengrajin cenderung merugi lantaran harga di pasaran anjlok. Atas dasar itulah, mereka meminta pemkab menetapkan harga batik sebagai upaya mengantisipasi anjloknya harga.

“Kami selaku pengrajin juga membutuhkan perhatian dari pemerintah. Minimal pemerintah ikut andil dalam menentukan harga batik karena saat ini harganya tidak menentu,” keluh Nawawi.

Akibat harga batik yang anjlok, putaran uang dalam berbisnis batik saat ini sangat lambat. Bahkan para pengrajin terkadang kahabisan modal untuk memproduksi batik. Sebab, batik yang telah selesai, terjual dengan harga murah.

“Saya sendiri kadang menjual batik dengan harga yang murah, hal itu disebabkan kehabisan modal untuk memproduksi lagi,” terangnya.

Dia menambahkan, pengrajin batik memang sangat membutuhkan uluran tangan dari pemerintah demi keeksisan masyarakat dibidang perekonomian. Menurutnya, para pengrajin tidak butuh bantuan, selain di bidang pemasaran dan penetapan harga. Apalagi saat ini pengrajin batik mulai kesulitan memasarkan hasil produksinya.

Akibatnya pemasaran batik mengalami penyusutan dari tahun ke tahun. Sedangkan peran pemkab tidak begitu peduli terhadap keberadaan pengrajin batik di wilayah Pamekasan. Pemasaran batik tulis khas Pamekasan dari tahun 2013 hingga 2015 ini cukup signifikan, yakni mencapai sekitar 60 persen.

Sedangkan dari hasil produksi juga mulai mengurangi. Terbutkti, sebelumnya pengrajin batik memproduksi kain batik sebanyak 10 potong dengan ukuran 2 meter. Namun tahun ini, rata-rata setiap hari pengrajin batik hanya memproduksi 2 potong batik dengan ukuran yang sama.

Salah satu faktor menurunnya pamasaran batik tulis disebabkan banyaknya kalangan pegawai pemkab tidak lagi memakai batik tulis, melainkan menggunakan batik printing. Ditambah lagi, peran pemkab yang terkesan tutup mata. (ito/nam)
Sumber : korankabar.com
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar: