Diberdayakan oleh Blogger.

50 Perajin Batik Digembleng

By | 07.00 Leave a Comment
50 Perajin Batik Digembleng
Batik Semarang - Upaya untuk meningkatkan kualitas desain, produksi, manajemen keuangan dan pemasarannya, dilakukan Yayasan Batik Indonesia (YBI), dengan menggembleng 50 perajin batik khas Tegal. Perajin yang selama ini merupakan kategori industri rumahan, diberi pelatihan oleh instruktur dari YBI Pusat, Bank BNI Pusat dan Dinkop UMKM dan Perindag Kota Tegal, di Pendapa Kelurahan Bandung, Kecamatan Tegal Selatan, selama dua hari berturut-turut, Selasa (15/12) hingga Rabu (16/12).

 ’’Ya ini sebagai tindak lanjut dari usulan Wali Kota Tegal Siti Masitha Soeparno saat Kota Tegal turut dalam pameran dan fashion show batik di Jakarta beberapa waktu lalu,’’ tandas Assistance Vice President BNI Pusat Erwiyono. Ditambah, dia menjelaskan, implementasi kunjungan Menteri BUMN Rini M Soemarno ke sentra batik Tegal. ’’Untuk itu BNI akan membantu mendirikan Kampung Batik Tegal,’’ tandasnya didampingi Kepala BNI Kantor Cabang Utama (KCU) Tegal Juma Indra, Ketua YBI Damayanti Hakim Tohir dan Plt Kepala Dinkop UMKM dan Perindag Kota Tegal Suripto. 

Dia menegaskan, perajin batik di Tegal perlu mendapat gemblengan pengetahuan tentang batik. Karena untuk mendirikan Kampung Batik Tegal, produk batiknya harus memiliki identitas, kualitas produk dan pemasaran yang terjaga. Hal lainnya adalah manajemen pengelolaan keuangan hingga bantuan kredit usaha produktif dari perbankan seperti yang akan diberikan BNI KCU Tegal. Dana CSR Dana untuk mendirikan kampung batik, kata dia, dapat dilakukan banknya lewat alokasi dana Corporate Social Responsibily (CSR). Hal itu sudah dilakukan dalam pembangunan kampung batik di kotakota lainnya. Ada 30 lokasi kampung batik yang di sejumlah daerah yang telah dibangun bank tersebut. 

Berkait pendirian kampung batik, BNI melakukan beberapa tahapan dan berdiskusi dengan jajaran Pemkot Tegal, juga para perajin batik. Antara lain, pada tahap awal, melaksanakan capacity building. Yakni memberikan pelatihan kepada perajin mengenai teknik perwarnaan, manajemen pemasaran dan managemen kemasan. Harapannya perajin batik dapat menghasilkan kain batik berkualitas yang dapat memenuhi selera pasar. Salah seorang instruktur pelatihan batik dari YBI, Komarudin Kudia mengatakan, produk batik memang sudah ada standarnya. Baik yang ditentukan YBI maupun Unesco. 

Yakni, dibuat menggunakan lilin panas. Bukan lilin dingin. ’’Kalau yang dibuat dengan lilin dingin adalah, produk kain tekstil bercorak batik,’’ucap dia. Dia yang juga pengusaha batik di Cirebon dengan lebih dari 350 karyawannya mengungkapkan, sudah memasarkan batik Cirebon kesejumlah daerah di tanah air. Bahkan mengekspor produknya ke luar negeri. Karena itulah setelah pelatihan, diharapkan perajin batik di Kota Tegal dapat memproduksi batik lebih berkualitas lagi dibanding sebelumnya. Baik teknik pewarnaannya maupun kualitas bahan-bahannya.
Sumber : suaramerdeka.com
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar: