Diberdayakan oleh Blogger.

Seharag Batik

Tokoh Batik

The Latest

Kesenian Wayang Kulit yang Mendunia

Batik Semarang - Kesenian Wayang Kulit merupakan budaya Indonesia yang berasal dari Jawa danaberhasil terkenalhingga di tanah manca negara. Wayang merupakan seni budaya yang menonjol di bangsa Indonesia jika dibandingankan dengan seni budaya lainnya. Dalam seni budaya wayang mencakup seni musik, seni suara, seni peran, seni tutur,seni lukis, seni sastra, hingga seni perlambangan. Kesenian watang sebagai budaya Indonesia semakin berkembang lebih pesat dari tahun – tahun ke tahun. Penduduk Indonesia diharuskan mengenal seni wayang serta nama – nama tokoh dalam wayang. Kesenian wayang dpat dijadikan sebgai media penerangan, pendidikan, dakwah, pemahaman filsafat Jawa, dan terutama sebagai hiburan. Jika ditanah Jawa wayang kulit termasuk salah satu pertunjukkan seni sebagai adat di suatu daerah tertentu.

Di Malang Jawa Timur misalnya ketika upacara di tanggal 1 suro selalu diiringi dengan pertunjukkan wayang sebagai adat yang harus dilaksanakan setiap tahun. Pada upacara adat tersebut dilakkukan larung sesaji di pantai segoro kidul sebagai persembahan untuk nyi roro kidul masyarakat meyakini dengan upacara tersebut akan terhindar dari bencana. Keberadaan seni wayang kulit sudah sejak lama sebelum agama Hindu masuk ke pulau Jawa. Karya seni wayang kulit ini merupakan adaptasi dari karya sastra India yaitu Mahabarata dan Ramayana. Kedua induk cerita tersebut dalam pewayangan diubah serta ditambahkan dengan menyesuaikan falsafah asli Indonesia.

Sejarah Kesenian Wayang Kulit ini berasal dari pula jawa yaitu Jawa Timur yang semakin berkembang di Indonesia baik di Jawa Timur dan Jawa Tengah bahkan Bali. Seni wayang memiliki kaitan yang sangat erat dengan keadaan realigi dan sosiokulturan kebudayaan Jawa. Seperti tokoh Punokawan tokoh ini merupakan sangat penting dalam pertunjukkan wayang. Punokawan terdiri dari Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong keempatnya memiliki peran penting dalam pewayangan. Kemudian istilah teknis pewayangan secara keseluruhan berasal dari bahasa Jawa kuno (Ngoko, Madyakrama). Sejak tahun 1951 buku pewayangan diterbitkan dan menyatakan bahwa wayang memang kesenian asli dari budaya Indonesia yang berasal dari tanah Jawa. Budaya wayang lahir sejak masa pemerintahan Prabu Airlangga yang merupakan Raja kerjaan Kahuripan kerajaan yang ada di Jawa Timur.

Karya sastra yang akan digunakan pada jalan cerita wayang dirulis oleh pujangga Indonesia berasal dari tanah jawa sejak abad  X. Salah satu naskah yang tertulis Kitab Ramayana Kakawih dengan tulisan bahasa Jawa Kuno atau huruf Hanacaraka. Selain itu pujangga jawa juga mnerjemahkan kisah Mahabarata dan Ramayana dari bahasa India ke dalam bahasa Jawa Kuno. Meskipun mengubah dari bahasa India kedalam bahasa Jawa dalam menceritakan kembali lebih menambahkan dengan memasukkan falsafah budaya Jawa ke dalamnya. Misalnya , Karya Empu Panuluh, Empu Kanwa Arjunawiwaha, dan Empu Sedah. Terdapat juga karya agung yang dikerjakan oleh Prabu Jayabaya (Raja Kediri).

Kesenian Wayang Kulit sebagai suatu pagelaran seni budaya yang menjadi hiburan sejak jaman kerajaan Raja Airlangga. Pada masa itu terdapat prasasti dengan berisi tulisan mawayang dan aringgit yang berarti pertunjukkan wayang. Kata wayang berasal dari wewayangan yang artinya bayangan. Jadi dalam sebuah pertunjukkan wayang kulit selalu menggunakan secarik kain berwarna putih sebagai pembatas dan ketika wayang tersebut dimainkan terdapat bayangan yang tampak jelas pada kain pembatas tersebut. Dengan demikian penononton menyaksikan bayangan dari wayang yang ada pada kain terseut itulah sebabnya kata wayang berarti bayangan. Menariknya kesenian wayang selalu diiringi dengan musik gamelan tradisonal khas budaya Jawa. Kesenian wayang lebih terlihat unsur Jawa karena cerita – cerita pada pertunjukkan wayang menyangkut tentang leluhur kerajaan Majapahit.
Mengenal Lebih dekat Wayang Orang di Indonesia

Batik Semarang - Wayang orang disebut juga dengan istilah wayang wong (bahasa Jawa) adalah wayang yang dimainkan dengan menggunakan orang sebagai tokoh dalam cerita wayang tersebut. Sesuai dengan nama sebutannya, wayang tersebut tidak lagi dipergelarkan dengan memainkan boneka-boneka wayang (wayang kulit yang biasanya terbuat dari bahan kulit kerbau ataupun yang lain), akan tetapi menampilkan manusia-manusia sebagai pengganti boneka-boneka wayang tersebut.

Mereka memakai pakaian sama seperti hiasan-hiasan yang dipakai pada wayang kulit. Supaya bentuk muka atau bangun muka mereka menyerupai wayang kulit (kalau dilihat dari samping), sering kali pemain wayang orang ini diubah/ dihias mukanya dengan tambahan gambar atau lukisan.

Wayang Orang

Untuk Pertama kalinya Wayang Orang dipentaskan secara terbatas pada tahun 1760. walaupun masih tetap terbatas dinikmati oleh kerabat keraton dan para pegawainya. Namun lambat laun Kesenian Wayang orang mulai disukai oleh masyarakat umum.

Pada masa pemerintahan Mangkunegara VII (1916 -1944) kesenian Wayang Orang mulai diperkenalkan pada masyarakat di luar tembok keraton. Usaha memasyarakatkan kesenian ini makin pesat ketika Sunan Paku Buwana X (1893-1939) memprakarsai pertunjukan Wayang Orang bagi masyarakat umum di Balekambang, Taman Sri Wedari, dan di Pasar Malam yang diselenggarakan di alun-alun. Para pemainnya pun, bukan lagi hanya para abdi dalem, melainkan juga orang-orang di luar keraton yang berbakat menari.

Penyelenggaraan pertunjukan Wayang Orang secara komersial baru dimulai pada tahun 1922. Mulanya, dengan tujuan mengumpulkan dana bagi kongres kebudayaan. Setelah itu Wayang Orang juga menyebar ke Yogyakarta. Pada zaman pemerintahan Sultan Hamengku Buwana VII (1877 -1921) keraton Yogyakarta dua kali mempergelarkan pementasan Wayang Orang untuk tontonan kerabat keraton.

Pakaian para penari Wayang Orang pada awalnya masih amat sederhana, tidakjauh berbeda dengan pakaian adat keraton sehari-hari, hanya ditambah dengan selendang tari. Baru pada zaman Mangku¬negara VI (1881-1896), penari Wayang Orang mengenakan irah-irahan terbuat dari kulit ditatah apik, kemudian disungging dengan perada.

ternyata kesenian Wayang Orang mendapat sambutan hangat dari masyarakat, bermun¬culanlah berbagai perkumpulan Wayang Orang; mula-mula dengan status amatir, kemudian menjadi profesional. Perkumpulan Wayang orang yang cukup tua dan terkenal, di antaranya Wayang Orang (WO Sriwedari di Surakarta dan WO Ngesti Pandawa di Semarang. Wayang Orang Sriwedari merupakan kelompok budaya komersial yang pertama dalam bidang seni Wayang Orang. Didirikan tahun 1911, per¬kumpulan Wayang Orang ini mengadakan pentas: secara tetap di `kebon raja' yakni taman hiburan umum milik Keraton Kasunanan Surakarta.

Pertunjukkan wayang orang yang masih ada saat ini, salah satunya adalah wayang orang Barata (di kawasan Pasar Senen, Jakarta) seni pentas yang berasal dari Jawa. Dalam sebuah Wayang Orang, sandiwara yang diselingi dengan lagu-lagu Jawa, yang diiringi dengan gamelan yang disajikan.Tema cerita dalam sebuah pertunjukan Wayang Orang bermacam-macam. Biasanya diambil dari cerita legenda atau sejarah Jawa. Banyak pula diambil cerita dari Ramayana dan Mahabharata.
Ketoprak, Seni Drama Raykat

Kesenian rakyat Indonesia melahirkan banyak sekali seni drama. Salah satunya adalah ketoprak. Ketoprak muncul pada awal abad ke-20. Beberapa versi menyebutkan, kesenian rakyat ini muncul di era Mangkunegaran. Kira-kira tahun 1922.

Kesenian ini dilahirkan oleh kaum tani. Konon, kesenian ini bermula dari para petani yang sedang menumbuk padi sambil bernyanyi. Kejadian itu disaksikan oleh seorang bangsawan bernama RM Tumenggung Reksodiningrat. Ia membawa ‘kebiasaan’ kaum tani ini ke istana.

Pada mulanya, ketoprak mengangkat kisah-kisah seputar kehidupan petani. Peralatannya pun sederhana: lesung, terbang, dan suling. Gara-gara dibawa ke istana, ketoprak pun sempat menjadi “hiburan bangsawan”.

Namun, seiring waktu, rakyat berhasil merebut kembali ketoprak sebagai kesenian rakyat. Sejak itu ketoprak makin hidup dan berkembang. Ketoprak tak hanya mengangkat cerita-cerita panji, tetapi juga kisah-kisah kepahlawanan rakyat. Kesenian ini terus menyebar ke berbagai kota di Jawa. Ketoprak makin berkembang pesat di tahun 1960-an.

Jubir Rakyat

Sebagai kesenian yang lahir dari rahim rakyat, ketoprak senantiasa tampil sebagai juru bicara berbagai persoalan rakyat. Ketoprak tak pernah jauh dari realitas sosial massa-rakyat.

Sayang, ketoprak pernah “diculik” oleh kaum feodal dan dikurung dalam istana. Akibatnya, ketoprak menjadi penyebar ide-ide dekaden: takhyul, klenik, cengen, dan fasifis. Contohnya: kisah tentang pembangunan candi prambanan. Di tangan kaum feodal, candi tersebut dibangun oleh setan-setan.

Setelah dikembalikan ke pangkuan rakyat barulah ketoprak bisa berkembang maju. Pada masa perjuangan anti-kolonial, ketoprak juga berandil dalam menyebarkan ide-ide perlawanan kepada massa-rakyat.

Ada cerita begini: pada tahun 1933, perkumpulan ketoprak Solo datang ke Jogja untuk membuat pertunjukan. Awalnya, kelompok ketoprak ini diberi izin bermain selama 60 hari. Namun, karena menyebarkan ide-ide perlawanan, maka izin bermain pun dicabut. Pemerintah kolonial mengajukan alasan palsu: ketoprak memicu kejahatan, pelacuran, dan kriminalitas.

Pada tahun 1937, seniman ketoprak membentuk organisasinya: Badan Kontak Organisasi Ketoprak Seluruh Indonesia (Bakoksi). Mukadimah Bakoksi menceritakan, seniman-seniman ketoprak telah terjun dalam perjuangan kemerdekaan. Bakoksi menyatakan berjuang untuk kemerdekaan penuh dan menyelesaikan Revolusi Agustus 1945.

Mengabdi pada Rakyat dan Revolusi

Pada pertengahan 1950-an, kesenian ketoprak makin populer di hadapan rakyat Indonesia. ketoprak berkembang luas hingga ke desa-desa. Tidak hanya di pula Jawa, tetapi juga mulai menyebar keluar pulau Jawa.

Pada kongres I ketoprak di Jogja, tahun 1957, jumlah organisasi ketoprak yang bernaung di bawah Bakoksi mencapai 275. Pada kongres ke II tahun 1964, jumlahnya sudah mencapai 371 organisasi. Sebuah perkembangan yang pesat.

Pada masa itu, Bakoksi makin banyak dipengaruhi Lekra (Lembaga Kesenian Rakyat). Lekra sendiri mengusung panji-panji “Seni untuk Rakyat”. Dengan begitu, ketoprak pun makin berpijak di tanahnya: kesenian rakyat.

Lekra punya banyak andil dalam merevolusionerkan ketoprak. Pengaruh Lekra sangat penting dalam menggusur sisa-sisa feodal dalam ketoprak. Di sini, ketoprak tidak sekedar menjadi kesenian yang menghibur rakyat, tetapi sekaligus sebagai alat perjuangan untuk menuntaskan revolusi.

Lakon-lakon berbau feodal banyak dirombak. Cerita-cerita mengenai kepahlawanan rakyat makin diperbanyak. Cerita “Rara Mendut”, misalnya, telah diubah menjadi cerita anti-feodalisme. Cerita-cerita yang mengandul takhyul, seperti kisah Candi Prambanan, mulai diilmiahkan. Diceritakan, pembuat candi itu bukanlah setan-setan, melainkan kawula atau massa rakyat.

Namun, seiring dengan revolusi yang dikalahkan di tahun 1965, banyak aktivis Bakoksi yang ditangkap. Tidak sedikit pula organisasi ketoprak yang bubar karena direpresi oleh rezim orde baru. Meski begitu, masih ada kelompok ketoprak yang terus bertahan. Sekalipun kadang tak politis lagi.

Sayang, di tengah mengganasnya penindasan terhadap rakyat, kesenian ketoprak justru meredup. Pentas-pentas ketoprak makin jarang. Kalaupun ada, kursi penontonnya tak pernah penuh.
Tarian Semarang

Gerak tubuh yang dilakukan secara berirama di tempat dan waktu tertentu dengan maksud dan niat tertentu, mengungkapkan perasaan, dan pikiran, itulah yang disebut dengan tari atau tarian. Setiap daerah di Indonesia memiliki tarian khas masing-masing daerah, termasuk Semarang. Tari-tarian tradisonal di Semarang, biasanya dipertunjukkan saat event-event besar atau festival yang ada di Semarang, seperti Dugderan misalnya. Tarian tradisional Semarang juga tak lepas dari berbagai etnis yang ada. Mulai dari Jawa, Cina dan juga Arab.

Dalam event-event besar daerah, salah satu tarian di Semarang yang hampir tidak pernah ketinggalan adalah Tari Semarangan. Bukan hanya namanya saja yang mirip dengan kotanya, tarian ini merupakan salah satu kebudayaan asli Kota Semarang. Tarian ini memiliki tiga jenis gerakan dasar, yaitu “ngondek”, “ngeyek”, dan “genjot”. Ketiga merupakan gerakan baku yang berpusat pada pinggul, gerakan tangan atau “lambeyan” merupakan sebuah gerakan yang berpusat pada pergelangan tangan.

Selain itu, ada pula Tari Topeng. Jika Anda berpikir kalau para penarinya menggunakan topeng saat menari, maka Anda benar. Namun, topeng tersebut tidak dipakai di wajah, melainkan membuat sebuah komposisi gerakan yang memainkan dua topeng tersebut. Tari Topeng memang lebih menonjolkan pada busana maupun properti yang dipakai oleh penarinya.

Gambang Semarang mungkin menjadi salah satu kesenian yang cukup menarik di Semarang. Selain terdiri dari unsur musik, vokal, dan juga lawak/lelucon, Gambang Semarang juga dipadu dengan tarian tradisional. Seiring perkembangannya, Gambang Semarang dipadukan pula dengan seni gerak tari, yang pada masa lampau ditarikan oleh penari-penari transeksual. Seni tari Gambang Semarang memiliki gerakan yang berpusat pada pinggul penarinya. Berdasarkan fungsinya sebagai tontonan atau hiburan bagi warga, selama ini biaya produksi kesenian Gambang Semarang selalu ditanggung oleh masyarakat penyelenggara.
Kampung Batik, Pusat Batik Semarangan

Melihat foto-foto Pasar Johar jaman dulu, kita bisa tahu, di Semarang banyak pedagang batik. Secara logika, jika di masa itu di pasar banyak penjual batik, tentu di wilayah Semarang ada kampung batik, sentra produksi batik. Nah, di Solo ada Kampung Batik Laweyan, pun di Pekalongan ada Kampung Batik Pesindon dan Kauman. Lalu, dimanakah Kampung Batik Semarang?

Pertanyaannya ini mudah dilontarkan, tapi beberapa waktu lalu, sebelum 2005, masih sulit dicari jawabannya. Bahkan, sampai sekarang pun tidak banyak warga semarang yang bisa menjawab.
Benar, di Semarang ada Kampung Batik. Tetapi, sempat mati suri sebelum akhirnya pada sekitar 2005 coba dibangkitkan lagi oleh Pemerintah Kota Semarang. Ada dua penyebab runtuhnya pabrik-pabrik batik di Semarang.

Pertama, menjelang Jepang masuk ke Semarang, secara diam-diam Belanda sengaja memerintahkan pembakaran sentra-sentra ekonomi di Semarang. Kampung Batik dan wilayah di sekitarnya, seperti Kampung Kulitan, Rejosari, Bugangan dan sekitarnya ikut dibumi-hanguskan. Banyak peralatan membatik yang rusak, dan kegiatan membatik pun surut. Industri batik makin kembang kempis saat Pertempuran Lima Hari di Semarang antara pemuda Semarang dan tentara Jepang pecah. Tentara Jepang membakar rumah-rumah penduduk. Kampung Batik ikut dibakar.

“Batikkerij Tan Kong Tin”

Dari kedua kasus pembakaran itu, masih ada perusahaan batik yang bisa selamat dan meneruskan usaha. Perusahaan batik ini sekaligus mejadi bukti bahwa di Semarang batik pernah Berjaya. Adalah pabrik batik “Batikkerij Tan Kong Tin,” yang berlokasi di Bugangan, menurut literatur, didirikan pada awal abad ke-20 dan beroperasi hingga tahun dulu 1970-an. Dari namanya, jelas pabrik ini dimiliki seorang Tiong Hoa.

Tan Kong Tin adalah anak Tan Siauw Liem, tuan tanah bergelar mayor di Semarang. Ia menikah dengan keturunan Hamengku Buwana III, Raden Ayu Dinartiningsih. Sebagai seorang Raden Ayu, istri Tan Kong Tin tentu pandai membatik, karena membatik adalah salah satu ketrampilan yang wajib dikuasai seorang putri raja dan bangsawan kala itu. Kemudian, lahirlah motif batik baru, Tan Kong Tin yang seorang Tiong Hoa memadukan motif batik Jogja dengan motif pesisir.

“Batikkerij Tan Kong Tin” diteruskan oleh generasi kedua, Raden Nganten Sri Murdijanti. Di tangan putri Tang Kon Tin ini, perusahaan batik miliknya bertahan hingga tahun 1970-an. Di pabrik batik ini spesialisasi pekerjaan sudah terbentuk. Ada pembuat desain motif batik (carik), pembatik, dan tukang celup. Pekerja batik berasal dari kampung Rejosari, Kintelan, Kampung Batik, Kampung Darat, Karang Doro, Mlaten Trenggulun, bahkan Layur.

Batik Tan Kong Tin dikonsumsi oleh para pejabat, baik dari kalangan orang Belanda maupun pribumi, juga diminati wisatawan, dan pedagang. Selain Batikkerij Tan Kong Tien, ada pula batik Sri Retno. Keduanya adalah perusahaan batik terbesar di masanya. Menurut literatur, Kolonial Verslag, 1919 & 1925, jumlah pengusaha batik di Semarang ada 107 orang. Jumlah pengrajin 800 orang.

Hingga tahun 1970-1980an, batik Semarang masih diminati. Namun, kemudian perlahan mati suri karena munculnya batik printing.

Motif Semarangan di Kampung Batik

Sekarang batik kembali diminati, bukan hanya batik printing, tetapi juga batik tulis. Dimana-mana pelatihan membatik diselenggarakan, termasuk di Kota Semarang. Pengusaha-pengusaha batik Semarang pun bermunculan, meski jumlahnya tidak banyak seperti yang bisa anda jumpai di Surakarta atau Pekalongan. Kampung Batik kembali dihidupkan, bahkan dibangun Balai Batik Semarang di daerah ini. Bukan hanya untuk memberdayakan ekonomi rakyat, tetapi juga untuk mengembangkan kawasan wisata baru.

Tidak mudah memang menemukan kembali motif-motif batik asli Semarangan. Pengrajin-pengrajin batik yang baru memulai usaha ini kemudian menggali lagi buku-buku tentang batik. Dari situ mereka temukan foto-foto batik Semarangan yang dimiliki orang-orang Belanda jaman dulu, kemudian mereka reproduksi.
Batik khas Semarangan, sama seperti batik pesisiran lainnya tidak menuruti pakem batik seperti yang ada di Solo atau Jogja. Jaman dulu sekalipun, warga Kampung Batik membuat batik dengan motif-motif yang sesuai dengan keinginan mereka sendiri.

Begitu juga dengan pembatik Semarang masa kini. Motif yang ada dikembangkan, inspirasinya diambil dari ikon-ikon kota Semarang. Hasilnya lahirlah motif-motif ceplok yang diambil dari masjid Layur, asem arang, Lawang Sewu, dan Tugu Muda.
Berada di Kampung Batik, bagi Anda pecinta fashion dan tekstil, rasanya seperti surga. Pastikan sebelum berangkat ke sini Anda tebalkan kantong Anda agar bebas berbelanja. Menariknya, di sini anda tidak hanya bisa berwisata belanja dan memborong batik khas Semarang. Anda juga bisa belajar membuat batik. Hanya dengan mengeluarkan uang 20.000 rupiah saja, Anda sudah bisa membuat kain batik sendiri dan bisa dibawa pulang untuk kenang-kenangan.

Anda akan belajar bagaimana rumitnya proses membuat sehelai kain batik. Mulai dari menciptakan motif, menggambarkan desainnya di kain, melelehkan malam, membatik, hingga proses pewarnaan dan pencucian malam –dalam Bahasa Jawa disebut Ngelorot, sehingga Anda pun mengerti mengapa selembar kain batik tulis dihargai hingga ratusan ribu bahkan jutaan rupiah.

Tidak sulit mencari lokasi ini. Dari kawasan Pasar Johar, ambil arah Bundaran Bubakan.Sampai di bundaran ini, pilih arah ke Jalan Patimura. Sebelum masuk ke jalan ini, akan terlihat Hotel Djelita. Di kiri hotel ada gapura, bertuliskan Jalan Batik kode pos 50122. Di sanalah Kampung Batik Semarang. Selamat berbelanja batik!
Mengenal Lirik Lagu Gambang Semarang

Ampat penari
kian kemari
jalan berlenggang,
aduh…

Langkah gayanya
menurut suara
irama gambang

Sambil bernyanyi,
jongkok berdiri
kaki melintang,
aduh…

Sungguh jenaka
tari mereka
tari berdendang

Reff:
Bersuka ria,
gelak tertawa
semua orang kar’na
hati tertarik gerak-gerik
si tukang gendang

Ampat penari
membikin hati
menjadi senang,
aduh…
itulah dia malam gembira
Gambang Semarang
Kirab Kyai Bende, Upaya Nongkosawit Jadi Desa Wisata

 Kirab pusaka Kyai Bende dalam rangka sedekah desa yang diselenggarakan di Kelurahan Nongkosawit, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang berlangsung meriah. Acara yang digelar di lapangan kelurahan tersebut dihadiri seluruh warga dan menjadi pesta rakyat yang selalu dinantikan.

Kirab pusaka merupakan acara puncak dari sejumlah acara yang sudah diselenggarakan seperti festival pohon, trabas dan doa bersama di pemakaman desa. Setiap Rukun Tetangga (RT), karang taruna dan sekolah yang ada di kelurahan tersebut menyiapkan kesenian untuk diikutkan dalam arak-arakan.

Sebelum diarak keliling kampung, pusaka berupa bende atau alat gamelan tersebut dijamasi dengan air dari sembilan mata air yang ada di wilayah tersebut. Bende itu merupakan peninggalan Syeh Hasan Munadi, seorang murid dari Sunan Kalijogo yang menyebarkan ajaran Islam pada masa itu melalui kesenian karawitan di wilayah Kecamatan Gunungpati.

Pusaka kemudian diarak keliling kampung diikuti berbagai kesenian masa lalu yang masih dipertahankan seperti jaranan, warag ngendok, sagulo-gulo serta gunungan berupa hasil pertanian. Para anak-anak dan pemuda desa juga tidak mau kalah dalam acara tersebut, mereka membuat replika kartun, robot dan helikopter agar gelaran tersebut lebih meriah.

Arak-arakan diawali dengan seorang perempuan yang juga sesepuh desa dengan menyebarkan beras kuning sebagai wujud syukur dan kesejahteraan. Diiringi gending jawa, pusaka diarak dan menjadi tontonan warga. Gunungan berupa hasil pertanian tersebut juga menjadi rebutan sebagai wujud berkah dari sang pencipta di akhir acara. Ketua panitia Suwarsono mengatakan acara ini rutin di selenggarakan tiap tahun pada hari Kamis Wage di bulan Rajab.

"Setiap tahun akan ditingkatkan agar lebih meriah lagi karena masyarakat berkomitmen acara ini bisa menjadi daya tarik wisatawan menuju Nongkosawit menjadi desa wisata edukasi dan budaya,"ujarnya.

Kelurahan Nongkosawit ungkapnya merupakan penyangga objek wisata Waduk Jatibarang yang saat ini masih dalam pengerjaan. Sebab itu diharapkan kelurahan ini akan menjadi pusat kesenian dan kebudayaan sehingga perekonomian rakyat lebih meningkat.

"Kedepannya kawasan ini akan menjadi objek wisata menarik dengan agenda kesenian yang akan sering dilakukan, kami seluruh warga optimis,"tambahnya. Selain berupa kesenian, kelurahan tersebut saat ini sedang mengembangkan sejumlah produk pertanian seperti buah durian, rambutan dan aneka buah lainnya yang akan dijadikan agrowisata.