Diberdayakan oleh Blogger.

Seharag Batik

Tokoh Batik

The Latest

Dewan Kerajinan Nasional Daerah, Kabupaten Sleman, menggelar lomba batik pewarna alami tingkat nasional.

“Lomba ini bukan berupa lomba desain, melainkan lomba memberi warna berbagai macam motif batik khas Sleman seperti Sinom Parijotho, Salak, Belut, Gajah dan lainnya dengan menggunakan pewarna alami,” kata Ketua Dekranasda seperti dikutip Antara, Kamis (21/7/2016).

Menurut dia, lomba batik pewarna alam ini dimaksudkakan untuk mendorong dan mewujudkan Kabupaten Sleman yang ramah lingkungan (Eco Green).

“Lomba yang mengangkat tema ‘Batik Sleman untuk Indonesia’ ini juga untuk menjadikan busana batik Sleman sebagai busana identitas daerah yang mempunyai corak khas warna alam dengan karakteristik dan kekhasan Kabupaten Sleman,” katanya.

Ia mengatakan, untuk tujuan umum lomba batik pewarna alam ini adalah mempromosikan budaya busana batik pada tingkat Nasional dan internasional, memberikan pengetahuan dan pedidikan kepada masyarakat bahwa budaya penggunaan busana batik itu perlu dilestarikan.

“Selain itu juga untuk memberikan sebuah pemahaman baru tentang budaya batik kepada masyarakat dalam kekayaan warna dan kreasi desain dan membrikan sebuah ruang publik pengusaha, pecinta, pemerhati pemakai batik untuk menunjukkan kreatifitas dan keindahan batik Sleman dengan warna alam,” katanya.

Kustini mengatakan, lomba ini juga untuk emberikan hiburan yang menarik kepada seluruh masyarakat tetapi tetap mengangkat tema busana batik dalam hal segala kegiatannya. Membentuk ekuitas tentang batik kepada seluruh masyarakat yang madani dan berbudaya.

“Lomba ini juga memberikan peluang kepada pengrajin untuk lebih memahami tentang proses pewarna alam dan mempromosikan Sleman sebagai salah satu produsen batik pewarna alam di Indonesia. Mempromosikan, mengenalkan motif batik warna alam Sleman sebagai karya yang diterima para desainer untuk mengkampanyekan sebagai produk fashion,” katanya.
Sumber : www.harianjogja.com
Siap Digelar, SBC 9 Eksplorasi Keindahan Pulau Jawa
Pergelaran karnaval Solo Batik Carnival (SBC) ke-9 bakal menampilkan 250 kreasi kostum karnaval berbahan dasar batik, Minggu (24/7/2016), mulai pukul 14.00 WIB.

Agenda budaya Kota Solo tahunan ini mengambil rute start di Jl. Bhayangkara depan Stadion Sriwedari, menyusuri Jl. Slamet Riyadi mulai Sriwedari sampai Gladag, dan finis di Jl. Jenderal Sudirman depan Benteng Vastenburg.

Ketua Yayasan Pembina Solo Batik Carnival, Susanto mengemukakan, menginjak tahun kesembilan, penyelenggara mengusung tema Mustika Jawa Dwipa. Tema besar yang menampilkan keindahan atau mestika Pulau Jawa tersebut diwujudkan dalam kostum yang dilengkapi ragam hias lampu robyong, gamelan, candi, serta keris.

“Kami ingin menampilkan kreasi anak-anak yang sudah mempersiapkan kostum melalui workshop selama empat bulan terakhir. Mereka diajari mendesain kostum sampai belajar perform. Hasil akhirnya ditampilkan lewat grand carnival Minggu sore,” terang dia saat menggelar jumpa pers di Aston Hotel Solo, Rabu (20/7/2016).

Pengarah Artistik Solo Batik Carnival, Yanuar Pribadi, menambahkan tahun ini penyelenggara karnaval menampilkan kostum karnaval yang lebih menonjolkan peninggalan bersejarah khas Jawa, khususnya Kota Bengawan.

“Kami banyak terinsipirasi dari pusaka Pulau Jawa, termasuk dari Keraton Solo. Koreografi dan make up juga sudah kami siapkan. Mulai tahun ini kami juga mencari cara agar kostum karnaval berukuran jumbo yang megah, bebannya tidak terlalu berat bagi peserta. Kami riset dari berbagai karnaval di Indonesia,” jelasnya.

Selain menitikberatkan pada karnaval, Yanuar mengatakan mulai tahun ini penyelenggara mengadakan pameran di pelataran Benteng Vastenburg, mulai Jumat-Minggu (22-24/7), setiap pukul 15.00 WIB-21.00 WIB.

“Pameran menampilkan expo batik dan multiproduk seperti kuliner dan lain sebagainya. Di sana juga dipamerkan kostum karnaval yang sudah dipakai tahun sebelumnya. Pengunjung yang tertarik bisa menjajal kostum karnaval dan berfoto di pameran,” ujar dia.

Yanuar menyebutkan penyelenggara acara secara perdana juga akan memberikan penghargaan bagi peserta karnaval dengan kostum terbaik. “Kami akan mengambil satu peserta dengan kostum terbaik. Selain itu juga tiga pemenang kostum terbaik anak-anak. Apresiasi ini kami berikan kali pertama setelah SBC delapan kali diselenggarakan,” bebernya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Solo, Eny Tyasni Suzana, berharap penyelenggaraan SBC di Kota Solo selama tiga hari bisa mendatangkan setidaknya 15.000 wisatawan ke Solo.

“Target kami yang datang bisa 15.000 orang. Harapan kami SBC yang sudah ditetapkan sebagai ikon pariwisata Kota Solo bisa menyedot pariwisata di Kota Solo,” harapnya.
Sumber : www.solopos.com
Punya Kain Tenun, NTB Diminta Tidak Latah Bikin Batik
Ketua Umum Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Mufidah Kalla meminta para perajin mengembangkan tenun Nusa Tenggara Barat (NTB).  Istri Wakil Presiden Jusuf Kalla itu meminta para perajin tidak ikut-ikutan daerah lain mengembangkan batik.

"Sebab, batik milik Jawa," kata Mufidah di depan pengurus Dekrasnas Daerah NTB di pendopo Gubernuran NTB, Rabu, 20 Juli 2016, siang. Mufidah berada di Mataram sewaktu mengikuti perjalanan kunjungan Wapres Jusuf Kalla ke Pulau Sumbawa.

Didampingi Ketua Dekranasda NTB Erica Zainul Majdi dan istri Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi, Mufidah bertemu dengan para pengurus Dekranasda kabupaten/kota se-Pulau Lombok yang mengalami pergantian karena adanya pergantian empat kepala daerah.

Di NTB, terdapat tenunan lokal songket, dari Lombok, Sumbawa, hingga Bima. Tenunan tersebut dibuat kaum perempuan di kampung-kampung. Namun, dalam beberapa tahun terakhir ini, Pemerintah Provinsi NTB ikut mengembangkan batik Sasambo (Sasak Samawa Mbojo), yang merupakan kreativitas lokal, di sekolah menengah kejuruan.

Mufidah berpesan agar para perajin mengembangkan tenunan daerah NTB yang dinilai sudah bagus. “Hendaknya di daerah tidak latah meributkan motif batik yang akan dikembangkan di sini,” katanya.
Sumber : m.tempo.co
5 Tips Mudah Mengenali Batik yang Asli
Demam batik yang digandrungi sebagian besar masyarakat Indonesia akhir-akhir ini ternyata tidak diikuti dengan pengetahuan tentang ihwal batik itu sendiri. Faktanya banyak orang yang ingin membeli batik, namun bukan batik yang sebenarnya mereka beli, melainkan tekstil bermotif batik. Alangkah kecewanya bila Anda mengalami hal yang sama. Untuk itu berikut cara mudah mengenali batik yang asli:
  • Dilihat, perhatikan warna batik. Batik yang asli memiliki warna yang natural, solid dan kuat. Sedangkan tekstil bermotif batik warnanya sintetik, tidak alami, buram dan tidak solid. Selain itu motif batik yang asli terlihat kurang rajin/kurang beraturan, disebabkan karena pengerjaannya dengan menggunakan tangan. Disinilah letak nilai seni batik yang tinggi, karena dikerjakan secara manual dengan tangan pengrajin. Sedangkan motif pada tekstil, terlihat terlalu sempurna, hampir tidak ada cacat. Inilah yang menghilangkan nilai seni batik.
  • Diraba, pegang dan rasakan tekstur kainnya. Batik yang asli bila dipegang, kainnya akan mudah jatuh, tidak kaku serta teskturnya lembut. Sedangkan bila tekstil, bila dipegang kainnya kaku serta memiliki tekstur yang relatif kasar. Hal ini disebabkan sifat pewarna yang hanya menempel pada lapisan luar kain, tidak meresap pada kain seperti halnya batik yang asli.
  • Dicium, rasakan baunya pada permukaan kain. Batik yang asli memiliki bau yang khas yaitu bau lilin. Sedangkan tekstil bermotif batik mengeluarkan bau minyak yang kuat.
  • Dibalik, perhatikan sisi kain sebaliknya. Batik yang asli, sisi dalamnya memiliki motif dan warna yang hampir sama dengan sisi luarnya. Sedangkan tekstil bermotif batik, bila diperhatikan motif dan warna sisi dalam berbeda jauh dengan sisi luarnya.
  • Harga lebih mahal. Jangan terlalu senang bila menjumpai batik dengan harga murah. Walaupun harga merupakan hal yang relatif, namun perlu diperhatikan bahwa batik yang asli relatif berharga lebih mahal dari pada tekstil bermotif batik. Karena diproses secara tradisional menyebabkan biaya pengerjaan juga lebih mahal. Lain halnya dengan tekstil bermotif batik, karena proses pengerjaannya dengan mesin, harga jualnya menjadi lebih murah.
Dengan mengetahui 5 tips mendasar seperti disebutkan diatas, semoga Anda dapat lebih mengenal batik dengan teliti. Karena pilihan Anda atas batik, berpengaruh terhadap perkembangan pengrajin batik tradisional.
Sumber : klik disini
 Kostum defile kontingen Indonesia di Olimpiade 2016 menuai sorotan dari publik. Kostum yang didominasi warna merah putih dengan gambar burung yang luar biasa besar di bagian perut memang kurang sip jika dibandingkan dengan empat tahun lalu.

Seragam tersebut resmi diluncurkan dan diperkenalkan ke publik pada Jumat (15/7/2016). Chef de Mission Olimpiade, Raja Sapta Oktohari, memperkenalkan seragam tersebut dalam sebuah acara yang digelar di FX Plaza, Jakarta.

Kostum itu didesain oleh Prima Suci Ariani, yang mengatakan kalau dirinya memang bukan seorang perancang busana dan tak memiliki latar belakang di bidang fashion. Dia lebih senang disebut sebagai pecinta budaya, utamanya batik.

Dalam keterangannya, Prima menyebut gambar garuda besar-besar dan warna putih serta batik parang itu menggambarkan lambang negara, batik parang sebagai ombak yang menggulung-gulung secara berkesinambungan yang menggambarkan semangat yang tinggi tanpa henti, berusaha, dan bekerja terus terus untuk mendapatkan yang terbaik di Olimpiade, yakni medali emas. Warna merah sebagai simbol keberanian dan putih mewakili kesucian.

Setelah diluncurkan, seperti maskot Asian Games 2018, kostum itu menuai perhatian publik. Wahyu Aditya, animator yang juga owner produsen kaos Kementerian Desain Republik Indonesia (KDRI) dan founder

Oleh beberapa follower-akun twitter @maswaditya, kicauan itu mendapatkan penilain kurang sip. @ariadhie Lho kok koyok seragam guru PGRI jaman mbiyen? (Lho kok serupa mirip dengan seragam guru PGRI zaman dulu?).

Akun twitter @smesnyangkut juga menyatakan kekecewaannya dengan desain yang tidak kekinian itu. Dalam cuitannya, kostum yang rencananya bakal digunakan pada defile di Olimpiade Rio de Janeiro itu sampai bikin syok.

Kemudian @smesnyangkut mengunggah beberapa pembandingnya. Termasuk kostum defile kontingen Indonesia di tahun 2012 London yang memang dinilai cukup bagus. Bahkan kostum kontingen Indonesia yang berupa batik, kebaya Kutubaru dan beskap karya desainer Yani N. Soemali menasuk sepuluh besar kostum terbaik.

Penampilan tim Indonesia dalam defile di pembukaan Olimpiade London itu juga mendapat pujian dari penulis fashion senior Telegraph, Hilary Alexander melalui akun Twitternya. Ia menulis, "Gorg (baca: gorgeous) red/gold for Indonesia."

Kostum defile tahun ini juga terlihat berbeda ketimbang kostum Indonesia pada defile di Olimpiade dan ASian Games di tahun-tahun sebelumnya. Desain tahun-tahun sebelumnya menghindari corak meski tetap menyisipkan ciri khas Indonesia.
Atlet boling Indonesia Putty Armein yang juga menekuni usaha clothing menilai kostum kontingen Indonesia itu mengalami penurunan. "Lebih dari sisi tradisionalnya, saya lebih suka yang kostum di tahun 2012," ucap

Sebuah penurunan?

Bagaimana kostum defile kontingen Indonesia 2016 jika dibandingkan dengan Asian Games 2014 di Incheon, Korea Selatan?
Sumber : sport.detik.com
 Wong Solo patut bangga dengan batik khas nya yang berwarna dasar cokelat. Bagaimana tidak? Kota Solo sukses telah dinobatkan sebagai Kota Batik Dunia karena eksistensinya memproduksi batik dan berkarya membuat coretan motif batik yang indah di kanvas kain untuk fashion. Di karnaval pun, Solo dikenal dengan Solo Batik Carnival IX (SBC IX) yang akan diselenggarakan 22-24 Juli 2017 di Stadion Sriwedari, Kota Solo, Provinsi Jawa Tengah.

”Solo Batik Carnival 2016 merupakan event tahunan, yang kali ini digelar untuk mengangkat citra batik dan Solo sebagai kota batik dunia. Ini konsisten dilakukan, untuk menjaga wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara menikmati batik di kota kami, silahkan datang dan saksikan,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Surakarta, Eny Tyasni Suzana.

Lebih lanjut Eny mengatakan, SBC rencananya akan dilaksanakan di jalan utama yaitu Jalan Slamet Riyadi hingga halaman depan Balai Kota Solo. ”Itu semua akan kami sterilkan. Sepanjang jalan tersebut akan disulap menjadi sebuah runway catwalk bagi para model yang memperagakan busana hasil desain dan kreasi mereka. Saat melakukan parade, para model juga akan diiringi oleh musik-musik khas Jawa. Kombinasi Pesona Indonesia yang kami miliki,” ujar wanita ramah itu.

Seperti diketahui, sejak penyelenggaraannya di tahun 2008, Solo Batik Carnival konsisten mengangkat batik sebagai tema karnavalnya. SBC sukses menyita jutaan perhatian penonton setiap tahunnya. Nah, untuk tahun ini, Yayasan Solo Batik Carnival kembali menggelar even tersebut dengan cara sangat istiqomah.

Yayasan SBC bahkan sudah membuka pendaftaran sejak Februari bagi siapa saja yang ingin berpartisipasi memeriahkan SBC IX, termasuk bagi mereka yang berdomisili di luar Kota Solo. Juru Bicara Yayasan SBC Ira Oktarini mengatakan, penyelenggaraan Solo Batik Carnival IX akan berbeda dengan SBC VIII karena akan menyajikan kegiatan bazar produk. Hasil karya peserta berupa pernak-pernik hingga kostum juga akan dipamerkan secara khusus selama tiga hari.

Kata Ira, SBC dipastikan akan menarik perhatian pengunjung dengan koreografi dan kostum-kostumnya karena peserta yang tampil akan mengikuti workshop terlebih dahulu untuk mematangkan materi pembuatan kostum, make up dan koreografi. ”SBC yang diselenggarakan hampir satu dasawarsa telah mengalami banyak perkembangan baik dari sisi penampilan ataupun desain kostum. Selain itu, ada hubungan antara penyelenggaraan event dengan grafik kunjungan wisatawan, jumlah hunian hotel yang semakin meningkat misalnya,” kata Ira.

Berbagai persiapan pun dilakukan panitia, di antaranya membuka pendaftaran bagi sukarelawan dan calon peserta karnaval. "Pendaftaran kami buka sejak Februari dan sudah kami tutup April,” katanya. Banyak pendaftar yang belum punya pengalaman ikut SBC atau punya keterampilan membuat kostum, diperbolehkan oleh panitia untuk mendaftar. ”Karena kami juga memberi pelatihan kepada seluruh peserta secara gratis sesuai jadwal yang telah kami buat," tambah Ira.

Ira mengakui, tak mudah mempertahankan dan menciptakan even berkualitas yang tetap menarik dan atraktif apalagi untuk wisatawan. Terlebih, acara tersebut telah menjadi ikon Solo dan mampu menyedot perhatian wisatawan, penyuka seni serta pecinta batik. ” Kami akan tetap berusaha menghibur, edukatif, kreatif dan inspiratif untuk pesona batik Solo yang kami cintai ini,"tandasnya. kata Ira.

Asal tahu saja, Kota Solo sendiri dikenal sebagai pusat batik yang memiliki beragam motif lawas. Ada tiga macam batik yang dimiliki kota ini yakni batik keraton yaitu batik yang digunakan oleh Keraton Kesunanan dan Keraton Mangkunagaran, batik sedagaran yang dibuat oleh masyarakat kelas atas, serta batik para petani.

Batik-batik Solo umumnya berwarna cokelat, putih dan hitam. Seluruh ragam motif batik solo bisa ditemukan di Kampung Batik Kauman dan Kampung Batik Laweyan. Juga di ajang Solo Batik Carnival 2016 ini.

Menpar Arief Yahya mengapresiasi persiapan yang dilakukan oleh Kota Solo untuk menyongsong Solo Batik Carnival 2016 itu. Solo itu kuat fashion batiknya, dan sudah diperkenalkan melalui carnaval yang sudah punya karakter, seperti Jember sebagai pionir dan Banyuwangi dengan ethno-nya. "Industri batik, industri kreatif yang sudah lama hidup dan berkembang di Solo," kata Arief Yahya, Menteri Pariwisata RI.

Ada sedikit perbedaan antara motif batik Solo dan Jogja. Solo selalu menggunakan warna dasar cokelat tua maupun cokelat muda, kesannya redup dan sejuk di pandang mata. Sedangkan Jogja selalu menggunakan warna dasar putih atau terang, sehingga motifnya terlihat kontras. Beda lagi dengan batik pesisiran yang cenderung cerah dan lebih berwarna-warni. "Batik itu memang diperkenalkan dari keraton, baik Jogja maupun Solo?" jales Arief Yahya.

Arief Yahya mengingatkan agar promosinya dilakukan dengan baik dan lebih gencar, agar bisa mengundang wisatawan mancanegara dan nusantara. "Idealnya, biaya promosi melalui media itu 50 persen dari toyal biaya operasional kegiatan,"sebut Arief Yahya.
Sumber : www.beritasatu.com
 Batik, merupakan salah satu warisan budaya adiluhung Nusantara. Salah satunya batik Jambi. Batik Jambi banyak diminati, tidak hanya masyarakat biasa, tetapi juga istana, hingga pasar mancanegara.

Adalah Rumah Batik Azmiah, salah satu produsen lokal batik Jambi yang masih eksis selama lebih dari 30 tahun. Rumah Batik Azmiah didirikan oleh Azmiah pada 1984. Azmiah merupakan generasi kedua dari pengrajin Jambi Asmah, yang sudah membatik sejak akhir 1970.

Terletak di Kelurahan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk, atau sekitar sejam perjalanan dari Bandara Sultan Thaha, Azmiah dan 40 orang pekerjanya memproduksi berbagai rupa batik Jambi.

Edy Sunarto, suami Azmiah yang lebih banyak bertugas sebagai desainer, menyebutkan beberapa motif yang diproduksi antara lain, kapal sanggat, tampuk manggis, bungo keladi, serta merak ngeram.

"Masing-masing motif memiliki filosofinya. Seperti tampuk manggis. Manggis itu kan di luar kulitnya hitam jelek, tapi di dalamnya buahnya putih. Ini artinya jangan menilai orang dari luarnya saja," ujar Edy sembari menunjukkan proses pembuatan batik kepada kompas.com dan rombongan wartawan, Jambi, Sabtu (16/7/2016).

Motif tampuk manggis melukiskan penampang buah manggis yang menampakkan kulit luar, daging kulit, dan isi buah secara keseluruhan. Ilustrasi ini bermakna kebaikan budi pekerti, kehalusan akhlak, dan kebaikan hati tak dapat dilihat dari kulit luarnya saja.

Adapun motif kapal sanggat memiliki filosofi agar manusia berhati-hati dalam menjalankan suatu pekerjaan. Kelalaian dalam menjalankan tugas akan menyebabkan musibah dan malapetaka.

"Pesannya, kalau berlayar hati-hati, jangan sampai kandas," kata Edy.



Warna klasik dan corak yang unik menjadi daya tarik produksi batik Azmiah. Maklum saja, kata Edy, proses membatiknya lebih panjang dari batik-batik pada umumnya.

Edy bilang, kalau biasanya proses membatik berhenti pada dua kali pewarnaan dan 'nglorot', proses di rumah produksinya diulang dua kali lagi.

"Setelah jadi seperti ini (sambil menunjukkan contoh), ini kan yang biasanya dijual orang-orang, kemudian kita tutup lagi (dengan warna), lorot lagi, tutup lagi, lorot lagi. Jadilah warna yang lebih klasik," kata Edy.

Tak heran, produksi Azmiah diminati oleh kalangan istana bahkan sampai mancanegara. Tercatat, sudah dua kali ini istana memesan batik Jambi produksi Azmiah.

Pertama yaitu sebelum Presiden berkunjung ke Korea Selatan, Mei 2016 lalu. Edy mengatakan, saat itu istana memesan 70 lembar batik tulis. Kedua, istana kembali memesan satu setengah koper batik Azmiah untuk seragam.

Harga batik Azmiah dibanderol hingga mencapai Rp 4 juta per lembar ukuran 2 meter x 1,05 meter.

Dengan keunikan produksinya, Batik Azmiah diminta oleh PT Angkasa Pura II (Persero) untuk menampilkan karyanya di Bandara Sultan Thaha, Jambi.

Direktur Utama AP II Budi Karya Sumadi saat berkunjung ke Rumah Batik Azmiah, menawarkan Azmiah untuk membuka gerai di bandara. Selain itu AP II juga membeli tujuh lembar batik untuk dipajang di sepanjang koridor kedatangan.

Pajangan batik Jambi tersebut dimaksudkan untuk menciptakan atmosfer Jambi bagi para penumpang yang baru tiba di Bandara Sultan Thaha.
Sumber : bisniskeuangan.kompas.com
Alasan Daya Pikat Batik kuno
Belakangan ini para pemburu barang antik berlomba-lomba mengoleksi karya batik yang sudah tua dan kuno. Batik zaman dahulu sangat menarik untuk dikoleksi karena memiliki nilai keindahan yang tidak lekang zaman. Selain itu memiliki artefak batik yang sarat sejarah juga merupakan kebanggaan bagi pemiliknya. Sebab itu meskipun harganya mahal, batik kuno tetap menjadi incaran para kolektor. Salah satu tempat yang banyak menyimpan batik kuno adalah kota batik, Pekalongan.

Batik Pekalongan yang tergolong kuno diburu karena keragaman corak yang dipengaruhi oleh akulturasi dari berbagai budaya. Masyarakat Pekalongan merupakan bauran penduduk pribumi dan para pendatang dari etnis Tionghoa, Arab, dan Belanda. Sejak zaman dahulu, kehidupan masyarakat Pekalongan sangat lekat dengan seni batik bahkan untuk pakaian sehari-hari. Etnis Tioghoa misalnya, kaum wanitanya identik dengan kebaya encim dan bawahan kain batik. Adanya pengaruh budaya Belanda tercermin dari motif buketan yang hingga saat ini masih dipertahankan.

Dunia perbatikan selalu berjalan selaras dengan perubahan zaman, tetapi tidak disangka produksi batik zaman dulu justru menjadi barang antik yang banyak diminati. Batik kuno mencerminkan kualitasnya sebagai benda seni tinggi karena diproses secara manual. Pengerjaan setiap lembar batik memakan waktu hingga berbulan-bulan lamanya. Mengoleksi batik antik dan kuno memang bisa menjadi satu wujud nyata kecintaan dan upaya melestarikan kebudayaan tersebut.
Beberapa tips mengilangkan noda pada baju.

1. Menghilangkan noda luntur pada baju menggunakan micin (MSG), Caranya adalah sebagai berikut :
Kena lunturan baju yang lain. Tentu saja sangat mengesalkan. Tetapi jangan langsung dibuang baju yang terkena luntur tadi. Coba kita hilangkan noda-noda tersebut dengan cara-cara di bawah ini. Agar baju kita awet perlu memperhatikan cara merawat baju terutama yang warnanya putih, karena warna putih sangat mudah terkena noda luntur. Selengkapnya artikel Cara Merawat Baju Putih ada disini. Agar tidak baju kesayangan kita tidak terkena luntur oleh karena itu mengapa banyak disarankan jangan mencampur yang berwarna menjadi satu. Tetapi lunturan baju memang tidak selalunya menempel pada menjadi noda pada baju yang lain. Ada lunturan baju yang hanya akan mengotori air yang digunakan untuk mencuci. Berikut cara untuk menghilangkan noda luntur pada baju :

  • Siapkan micin (MSG) dan detergen.
  • Tuangkan detergen dan micin tersebut ke dalam ember dengan takaran detergen lebih sedikit daripada micin.
  • Tuangkan air panas atau hangat ke dalam ember tersebut.
  • Masukkan baju yang terkena noda luntur ke dalam ember.
  • Rendam beberapa saat sampai air dingin, kemudian cuci baju tersebut.
  • Siapkan ember lain, tuangkan detergen dan air.
  • Baju yang sudah dicuci menggunakan detergen dan micin dicuci kembali menggunakan larutan detergen yang sudah disiapkan di ember lain. Pencucian kedua ini berfungsi untuk menghilangkan micin dari baju.
  • Bilas hingga bersih kemudian jemur.
2. Menghilangkan noda luntur pada baju menggunakan Asam cuka, Caranya adalah sebagai berikut :
  • Siapkan asam cuka dan detergen.
  • Tuangkan asam cuka dan detergen ke dalam ember.
  • Tuangkan air ke dalam ember tersebut. Larutkan.
  • Rendam baju yang terkena noda luntur selama lebih kurang 30 menit.
  • Bilas hingga bersih kemudian jemur.
3. Menghilangkan noda luntur pada baju menggunakan Air Kelapa. Ini khusus untuk kain batik yang luntur. Menggunakan klerak cukup mahal, jadi bisa dengan cara merendam kain batik semalaman dalam air kelapa. Setelah itu silakan dicuci seperti biasa menggunakan deterjen.

4. Menghilangkan noda luntur pada baju menggunakan Belimbing wuluh. Siapkan belimbing wuluh, potong jadi dua, lalu gosokkan pada noda luntur. Lakukan berkali-kali hingga benar-benar bersih, baru kemudian cuci pakaian seperti biasanya.

5. Menghilangkan noda luntur pada baju menggunakan Jeruk nipis. Peras jeruk nipis ke atas noda luntur, lalu kucek-kucek hingga noda menghilang.

Demikian cara-cara menghilangkan noda luntur pada baju.
Sumber : cara-merawat.net
Batik Semarang baru dihidupkan kembali tahun 2005 oleh pemerintah Kota Semarang setelah sentra-sentra Batik Semarang tersebut diporak-porandakan 2 kali yaitu oleh Pemerintah Belanda saat pendudukan tentara Jepang (1942-1945) dan oleh tentara Jepang saat Pertempuran Lima Hari di Semarang.

Kampung Batik Semarang, terletak di Bundaran pasar Bubakan, di belakang Hotel Jelita di Jl. Patimura, Semarang
(Depan Kampung Batik.)
Kampung Batik Semarang di masa lalu

Walau telah diluluh lantakkan oleh tentara Jepang, kejayaan Batik Semarang masih bertahan hingga tahun 1970. Adalah Tan Kong Tien, seorang putera tuan tanah (Tan Siauw Liem) yang juga menantu Sri Sultan Hamengkubuwono III. Setelah menikah dengan RA. Dinartiningsih, Tan Kiong Tien mewarisi keahlian membatik dari istrinya yang kemudian ia kembangkan. Perusahaannya bernama Batikkerij Tan Kong Tin, mendapatkan hak monopoli  batik untuk wilayah Jawa Tengah. Perusahaannya ini diteruskan oleh putrinya : R. Ng, Sri Murdijanti hingga tahun 1970.

Dari dokumen pemerintah Kolonial Belanda, tahun 1919-1925 sentra batik di kota Semarang sangat berkembang. Hal ini dikarenakan terjadi krisis yang menyebabkan sulitnya mendapatkan bahan sandang. Akibatnya masyarakat memenuhi kebutuhan sandangnya sendiri dengan membuat pakaian sendiri.

Perajin Batik Semarang tidak pernah membakukan motif, seperti halnya perajin-perajin batik di kota Solo, Jogja atau Pekalongan. Sebagai masyarakat pesisir Utara Jawa, mereka umumnya membatik dengan motif naturalis : seperti binatang, alam, rumah dlsb. Hal ini berbeda dengan batik Solo dan Jogja yang mempunyai pakem dari Kraton.

Produk yang dihasilkan adalah kain kebaya (jarit), selendang dasi dan topi. Dan saat itu belum dikenal adanya teknik cap dan printing.

Pengembangan sentra batik Semarang menjadi produk batik masih mengalami kendala. Menurut Mas Ferry, salah satu pengusaha Batik, hal ini dikarenakan biaya tenaga produksi di Semarang jauh lebih mahal di banding kota lain. Sebagai perbandingan saja, tenaga jahit di kota Pekalongan atau Solo bisa Rp. 2.000 sedangkan di Semarang jauh dari angka itu. Untuk itulah penjahitan produk masal masih di lempar di kota-kota tersebut.

Upaya membangkitkan kejayaan batik Semarang telah dimulai tahun 2005, dipelopori oleh Pemerintah Kota Semarang saat itu. Walaupun tidak ditemukan generasi perajin batik asli dari kampung Batik, namun Pelatihan – pelatihan telah banyak diadakan. Tapi gregetnya hingga sekarang belum sehebat gaung batik-batik di kota lainnya.

Contoh-contoh kreasi batik dengan motif khas kota Semarang
Tugu Muda
Lawang Sewu
Wewe Gombel
Daun Asem dan Arang (SEMARANG)
Sam Poo Kong

Dan masih banyak lagi motif-motif yang dikembangkan dengan ciri khas Semarang, seperti misalnya: Mesjid Agung, nama-nama jalan dengan kekhasannya: Jl. Srondol (yang dilambangkan dengan Blekok karena di sepanjang jalan tersebut banyak Blekok putih nangkring di pohon), Bandeng – Lumpia (makanan khas), Vihara (Jl, Watugong), Merak (nama jalan) dan masih banyak lagi.

Harga untuk batik-batik tersebut  berkisar antara Rp. 50.000 – Rp. 250.000 untuk jenis printing (harganya hampir sama dengan batik cap). Sedangkan untuk batik tulis mulai Rp. 250.000 – > Rp. 600.000.

Jika anda ingin memesan, dengan motif kenangan tempat atau makanan khas masa kecil anda, hal ini sangat dimungkinkan. Dan ongkosnya pun sangat reasonable.
Sumber : baltyra.com
Tak Hanya Batik, Ini Kain Asli Indonesia yang Mendunia
TAK HANYA BATIK, Indonesia terkenal dengan kain-kain cantik yang memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan luar negeri yang berkunjung ke Indonesia sehingga kain tersebut telah mendunia. Penasaran apa saja kain cantik khas Indonesia yang mendunia? Kenali satu persatu ragam fashion dalam negeri yang sangat mengagumkan.

Tenun Ikat Ende
Posisi pertama terdapat kain tenun, siapa sih yang tidak mengenal kain tenun ? Pengerjaan nya yang masih secara tradisional dan setiap daerah memiliki motif tersendiri salah satu yang populer dan banyak diminati yaitu tenun ikat Ende. Yang membuat kain ini berbeda dari yang lainnya yaitu warna nya yang cerah dan memiliki motif yang beragam, pembuatannya pun butuh waktu sekitar 2-4 minggu. Kain ini telah menjadi simbol cenderamata bagi turis lokal untuk di bawa ke negaranya. Pembuatan yang cukup lama dan membutuhkan keterampilan membuat kain ini dipatok harga dari mulai Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta.

Tenun Ulap Doyo
Selain dari Ende, masyarakat suku dayak memiliki kain yang tak kalah cantik yaitu tenun ulap doyo. Namanya tersebut berasal dari bahan-bahan pembuatan tenun yaitu dari serat daun doyo. Daun ini memiliki serat yang kuat sehingga sangat cocok dijadikan sebagai benang. Awalnya tenun ulap doyo ini dijadikan sebagai baju adat masyarakat dayak, namun karena semakin populer tenun ulap doyo disulap menjadi berbagai produk fashion lainnya seperti kemeja, tas sampai dengan dompet. Motif tenun ulap doyo sangat bervariasi dan dibuat berdasarkan flora, fauna bahkan mitologi. Untuk pembuatan satu kain membutuhkan waktu berbulan-bulan menggunakan alat yang bernama gedok. Harga yang ditawarkan pun mulai dari Rp 300 ribu hingga Rp 1 juta.

Songket Pandai Sikek
Kain songket merupakan kain tradisional yang berasal dari Sumatera Barat. Sedangkan songket yang cukup populer yaitu Songket Padai Sikek dimana Padai Sikek merupakan nama daerah dimana kain tersebut dibuat. Motifnya pun sangat unik yakni motif kuno asli masyarakat Minangkabau dimana pembuatannya masih secara tradisional yang diwariskan secara turun temurun, dan pembuatannya pun memakan waktu berminggu-minggu ataupun berbulan-bulan. Harga nya pun beragam mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Kain Ulos Batak
Sesuai namanya kain tersebut berasal dari Batak yang melambangkan ikatan kasih sayang kepada sesama. Kain ini sering digunakan untuk menghadiri upacara adat saja, tetapi sekarang kain tersebut telah mendunia terbukti yang dilakukan oleh designer kreatif untuk membuat karya besar mereka. Kain ini sering digunakan sebagai cendera mata yang berkunjung ke Sumatera Utaara. Harganya pun cukup fantastis mencapai jutaan rupiah.

Kain Gringsing Bali
Jika kamu pergi ke Pulau Dewata Bali tak salah nya membeli cindera mata lokal yaitu kain Gringsing Bali, uniknya pembuatan sehelai kain Gringsing Bali membutuhkan waktu mencapai 2-5 tahun. Hal tersebut dikarenakan proses pembuatan kain yang sederhana namun pembuatan nya yang rumit. Karena proses pembuatannya yang lama dan bahan nya yang kuat membuat kain tersebut diminati banyak kalangan turis dalam negeri dan luar negeri. Harganya pun mampu menyentuh angka 30juta rupiah untuk sehelai kain.
Sumber : krjogja.com
Libur Lebaran, Museum Batik Jadi Pilihan
 Libur hari raya idul fitri, tempat-tempat wisata mengalami kenaikan pengunjung, salah satu tempat favorit di jantung Kota Pekalongan adalah Museum Batik, kenaikan pengunjungnya mencapai 50%. Demikian disampaikan Kepala Museum Batik Pekalongan, Tanti Lusiani kepada Radar Pekalongan, Senin (11/7).

“Kenaikan persentase pada tahun ini memang cukup signifikan, sekitar 50% pengunjung dibandingkan hari normal,” imbuh Tanti.

Museum Batik, memang menjadi salah satu tempat favorit liburan bagi keluarga, karena selain berlibur anak-anak juga bisa sambil belajar tentang kebudayaan asli Pekalongan, bahkan bisa praktek langsung didampingi petugas.

“Setiap liburan, Museum Batik memang menjadi alternatif tempat wisata favorit keluarga, orang tua selalu ingin mengedapankan hal-hal yang terbaik buat anak, jadi selain hanya berwisata bareng keluarga juga bisa memberikan edukasi kepada anak tentang budaya asli Pekalongan bahkan mereka bisa mempraktekkan langsung apa yang mereka lihat,” tandasnya.

Dewi Lestari (27) salah satu pengunjung Museum Batik yang berasal dari Karanganyar Kabupaten Pekalongan mengatakan, dia sering membawa keluarga dan anak-anaknya untuk berlibur di Museum Batik, bisa berlibur dan bisa belajar.

“Saya termasuk yang lumayan sering kesini bersama keluarga ya, karena memang Museum Batik ini menjadi tempat wisata yang plus-plus, bisa berwisata, belajar bahkan praktek langsung bagaimana membuat  batik, konsep ini membuat anak-anak tahu bagaimana susah dan rumitnya membuat batik, jadi kebanggan dan mereka lebih bisa menghargai budaya sendiri,” tutur Dewi.

Ibu dari 2 anak ini berharap, kedepan Museum Batik bisa lebih baik lagi, baik dalam pelayanan atau fasilitas sarana prasana, sehingga lebih banyak mmenarik peminat wisata lebih banyak lagi, bahkan kepopuleranya bisa sampai keluar Kota Pekalongan.
Sumber : www.radarpekalongan.com