Diberdayakan oleh Blogger.

Seharag Batik

Tokoh Batik

The Latest

Kunjungan BENCHMARKING DIKLAT PIM. IV ANGKATAN  VI Samarinda di Batik Jayakarta
 
Batik Semarang
- Selamat datang BENCHMARKING DIKLAT PIM. IV ANGKATAN  VI Samarinda di Batik Jayakarta

Ramainya trend berbusana dengan menggunakan batik tidak hanya melanda masyarakat jawa tapi seluruh masyarakat di Indonesia. Salah satu cara melestarikan warisan budaya adalah menggunakan dan memperkenalkan batik tersebut.

Hari ini Batik Jayakarta kedatangan pelanggan dari BENCHMARKING DIKLAT PIM. IV ANGKATAN VI Samarinda. Lengkapnya koleksi  Batik Jayakarta menarik minat Bapak dan Ibu yang jauh-jauh datang dari Samarinda ke Semarang. Koleksi Batik Jayakarta bisa juga dijadikan oleh-oleh ke sanak keluarga.

Terimakasih atas kunjungan BENCHMARKING DIKLAT PIM. IV ANGKATAN VI
Kunjungan BENCHMARKING DIKLAT PIM. IV ANGKATAN  VI Samarinda di Batik Jayakarta
Kenali Perbedaan Batik Tulis dan Batik Cap, Tips Batik, Info Batik, Pola Batik, Desain Batik, Belanja Batik, Batik Semarang, Batik Jayakarta,
Kenali Perbedaan Batik Tulis dan Batik Cap
Batik Semarang - Perkembangan batik pada masa sekarang cukup menggembirakan, hal ini berdampak positif bagi produsen batik-batik di berbagai daerah. Permintaan batik tulis maupun batik cap sangat tinggi sekali, walaupun kebutuhan pasar batik tersebut sebagian sudah dipenuhi dengan tekstil bermotif batik yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan tekstil yang bermodal besar.

Beberapa pengrajin batik menghendaki untuk pembayaran di muka agar produksinya bisa lancar dan pembeli akan segera menerima pesanan yang diminta, hal ini mengingatkan pada masa tahun 70-an dimana pada waktu itu batik juga mengalami permintaan yang cukup lumayan jumlahnya.

Perbedaan batik tulis dan batik cap bisa dilihat dari beberapa hal sbb:

Batik Tulis
Dikerjakan dengan menggunakan canting yaitu alat yang terbuat dari tembaga yang dibentuk bisa menampung malam (lilin batik) dengan memiliki ujung berupa saluran/pipa kecil untuk keluarnya malam dalam membentuk gambar awal pada permukaan kain.
  1. Bentuk gambar/desain pada batik tulis tidak ada pengulangan yang jelas, sehingga gambar nampak bisa lebih luwes dengan ukuran garis motif yang relatif bisa lebih kecil dibandingkan dengan batik cap.
  2. Gambar batik tulis bisa dilihat pada kedua sisi kain nampak lebih rata (tembus bolak-balik) khusus bagi batik tulis yang halus.
  3. Warna dasar kain biasanya lebih muda dibandingkan dengan warna pada goresan motif (batik tulis putihan/tembokan).
  4. Setiap potongan gambar (ragam hias) yang diulang pada lembar kain biasanya tidak akan pernah sama bentuk dan ukurannya. Berbeda dengan batik cap yang kemungkinannya bisa sama persis antara gambar yang satu dengan gambar lainnya.
  5. Waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan batik tulis relatif lebih lama (2 atau 3 kali lebih lama) dibandingkan dengan pembuatan batik cap. Pengerjaan batik tulis yang halus bisa memakan waktu 3 hingga 6 bulan lamanya.
  6. Alat kerja berupa canting harganya relatif lebih murah berkisar Rp. 10.000,- hingga Rp. 20.000,-/pcs.
  7. Harga jual batik tulis relatif lebih mahal, dikarenakan dari sisi kualitas biasanya lebih bagus, mewah dan unik.
Batik Cap
  1. Dikerjakan dengan menggunakan cap (alat yang terbuat dari tembaga yang dibentuk sesuai dengan gambar atau motif yang dikehendaki). Untuk pembuatan satu gagang cap batik dengan dimensi panjang dan lebar : 20 cm X 20 cm dibutuhkan waktu rata-rata 2 minggu.
  2. Bentuk gambar/desain pada batik cap selalu ada pengulangan yang jelas, sehingga gambar nampak berulang dengan bentuk yang sama, dengan ukuran garis motif relatif lebih besar dibandingkan dengan batik tulis.
  3. Gambar batik cap biasanya tidak tembus pada kedua sisi kain.
  4. Warna dasar kain biasanya lebih tua dibandingkan dengan warna pada goresan motifnya. Hal ini disebabkan batik cap tidak melakukan penutupan pada bagian dasar motif yang lebih rumit seperti halnya yang biasa dilakukan pada proses batik tulis. Korelasinya yaitu dengan mengejar harga jual yang lebih murah dan waktu produksi yang lebih cepat. Waktu yang dibutuhkan untuk sehelai kain batik cap berkisar 1 hingga 3 minggu.
  5. Untuk membuat batik cap yang beragam motif, maka diperlukan banyak cap. Sementara harga cap batik relatif lebih mahal dari canting. Untuk harga cap batik pada kondisi sekarang dengan ukuran 20 cm X 20 cm berkisar Rp. 350.000,- hingga Rp. 700.000,-/motif. Sehingga dari sisi modal awal batik cap relatif lebih mahal.
  6. Jangka waktu pemakaian cap batik dalam kondisi yang baik bisa mencapai 5 tahun hingga 10 tahun, dengan catatan tidak rusak. Pengulangan cap batik tembaga untuk pemakainnya hampir tidak terbatas.
  7. Harga jual batik cap relatif lebih murah dibandingkan dengan batik tulis, dikarenakan biasanya jumlahnya banyak dan miliki kesamaan satu dan lainnya tidak unik, tidak istimewa dan kurang eksklusif.
Disamping adanya perbedaan dari sisi visual antara batik tulis dan batik cap, namun dari sisi produksi ada beberapa kesamaan yang harus dilalui dalam pengerjaan keduanya. Diantaranya adalah sbb:
  1. Keduanya sama-sama bisa dikatakan kain batik, dikarenakan dikerjakan dengan menggunakan bahan lilin sebagai media perintang warna.
  2. Dikerjakan hampir oleh tangan manusia untuk membuat gambar dan proses pengerjaan buka tutup warnanya.
  3. Bahan yang digunakannya juga sama berupa bahan dasar kain yang berwarna putih, dan tidak harus dibedakan jenis bahan dasar benangnya (katun atau sutra) atau bentuk tenunannya.
  4. Penggunaan bahan-bahan pewarna serta memproses warnanya sama, tidak ada perbedaan anatara batik tulis dan batik cap.
  5. Cara menentukan lay-out atau patron dan juga bentuk-bentuk motif boleh sama diantara keduanya. Sehingga ketika keduanya dijahit untuk dibuat busana tidak ada perbedaan bagi perancang busana atau penjahitnya. Yang membedakan hanya kualitas gambarnya saja.
  6. Cara merawat kain batik (menyimpan, menyuci dan menggunakannya) sama sekali tidak ada perbedaan.
  7. Untuk membuat keduanya diperlukan gambar awal atau sket dasar untuk memudahkan dan mengetahui bentuk motif yang akan terjadi.
Tips Mencuci Batik Supaya Tidak Luntur, Tips Batik, Info Batik, Pola Batik, Desain Batik, Belanja Batik, Batik Semarang, Batik Jayakarta,]
Tips Mencuci Batik Supaya Tidak Luntur
Batik Semarang - Batik adalah busana yang memiliki keunikan tersendiri. Selain unik, busana batik juga sangat bagus dikenakan. Namun, di sisi lain, batik adalah busana yang dibuat dengan bahan yang mudah luntur setidaknya untuk pertama kali pemakaian. Maka, diperlukan perawatan yang khusus untuk batik. berikut adalah tips cara mencuci batik supaya tidak luntur.

- Jika batik tidak terlalu kotor, maka anda bisa mencucinya dengan hanya direndam menggunakan air hangat. Namun jika baju batik tersebut kotor, misal akibat kena noda makanan atau minyak, bisa dihilangkan dengan sabun mandi atau kulit jeruk. Caranya, usapkan sabun mandi atau kulit jeruk pada bagian yang kotor tersebut secara perlahan-lahan hingga hilang. Usahakan hanya membersihkan bagian yang kotor saja. Setelah bersih, rendam baju batik dengan air hangat.

- Saat mencuci baju batik, sebaiknya jangan menggunakan sabun deterjen, karena sifatnya yang terlalu keras sehingga dapat mengikis warna pada kain batik. Shampo rambut bisa digunakan untuk mencuci kain batik atau gunakan produk khusus yang banyak dijual di toko maupun galleri batik seperti klerak. Selain itu, hindari penggunaan mesin pengering karena bahan batik bisa rusak.

- Jemurlah pakaian batik di tempat teduh yang berangin-angin. Sebaiknya jangan menjemur batik di tempat yang langsung terkena sinar matahari secara langsung, sebab bisa mengakibatkan warna kain cepat memudar.

- Saat menyetrika, cukup disetrika bagian dalam saja, atau jika bagian luar cukup kusut bisa disetrika dengan sebelumnya dilapisi dengan kain bersih terlebih dahulu. Saat menyetrika hindari penggunaan cairan pengharum karena bisa merusak warna pada corak kain batik tersebut.

- Simpanlah baju batik di lemari, bisa digantung atau dilipat. Namun idealnya adalah digantung. Hindari pemakaian kapur barus secara langsung ke baju batik. Solusi agar lemari bebas rayap, bisa menggunakan merica atau lada yang dibungkus tissue dan diletakkan di pojok-pojok lemari.

Demikian tips cara mencuci batik supaya tidak luntur.

Batik Semarang -  Batik merupakan salah satu hasil budaya Indonesia yang terntu sangat berharga. Kain batik yang ada biasanya dibentuk menjadi pakaian yang tentunya akan menjadi indah. Namun, pakaian dengan corak batik ini tentunya berbeda dari baju lain. Bahan kain yang digunakan merupakan bahan khusus sehingga membutuhkan perhatian ekstra untuk mencucinya. Jadi, bagaimana cara mencuci baju batik dengan benar?

1. Anda harus menyediakan sabun lerak sebelum mencuci batik. Anda bisa mendapatkannya di toko bahan laundry atau toko baju batik.

2. Anda tidak boleh menggunakan mesin cuci untuk mencuci baju / kain batik. Anda harus melakukan pencucian dengan teknik handwash.

3. Masukan Sabun Lerak secukupnya kedalam ember yg telah diisi air 2-3 liter air ( untuk kapasitas mencuci per piece / per potong ).

4. Rendam batik kedalam larutan sabun lerak sekitar 15-30 menit.

5. Saat mencuci, batik jangan dikucek atau diperas, cukup dengan diangkat-celup saja. Untuk bagian yg terlihat kotor seperti kerah, gunakan jari anda untuk menggosok-gosokan secara lembut bagian tersebut agar kotorannya hilang.

6. Bilas batik dengan cara merendam ke dalam air bersih sekitar 5 menit dengan cara diangkat-celup juga, jangan pakai softener, cukup dengan air bersih.

7. Setelah selesai membilas, angkat batik dan serap airnya dengan handuk sambil diremas-remas lembut. Jangan memeras batik karena dapat menghancurkan serat dan merusak bentuknya.

8. Gantung batik di hanger lalu jemur di tempat teduh, jangan terkena sinar matahari langsung.

9. Setelah batik kering, jangan menyetrikanya dengan setrika biasa, gunakanlah hand steamer untuk merapihkannya.

Dengan kemewahan bahan baju / kain batik yang Anda miliki, akan menjadi sangat baik jika Anda merawatnya dengan cara yang tepat agar kemewahan dan ke-ekslusifaanya terjaga. Selamat mencoba!
Tips Cara Merawat Batik Yang Benar, Tips Batik, Info Batik, Pola Batik, Desain Batik, Belanja Batik, Batik Semarang, Batik Jayakarta,Batik Semarang - Nah, akhirnya saya memiliki kesempatan lagi untuk mengulas ide - ide yang saya miliki mengenai cara merawat batik yang baik dan benar supaya batik kesayangan anda dapat bertahan lama dan tidak mudah luntur loh..

Yap. Tips cara merawat batik yang benar ini dapat anda jadikan referensi agar batik kesayangan anda menjadi terlihat selalu baru. Kami pun telah meringkas ide kami menjadi 7 tips unik menarik.

Nah, berikut ini merupakan tips cara merawat batik yang benar yang perlu anda ketahui, yaknu :

1. Hindari penggunaan sabun deterjen, karena sifatnya terlalu keras dalam mengikis warna yang menempel pada kain.

2. Mencuci dengan cairan khusus yang banyak dijual di pasaran (lerak) atau shampoo. Larutkan air sampo sehingga tidak ada bagian yang mengental, sehingga tidak merusak warna kain .

3. Mencuci kain batik cukup dengan dikucek lembut, terutama pada bagianyang kotor saja. Tidak perlu diperas, cukup ditarik bagian ujung-ujungnya saja agar kain batik lurus kembali.

4. Hindari menjemur kain/baju batik di tempat yang langsung terkena sinar matahari, cukup dijemur ditempat teduh atau diangin-anginkan saja.

5. Hindari menyetrika langsung kain/baju batik  (setrika bagian dalamnya saja) atau lapisi dengan kain lain pada saat disetrika.

6. Hindari menyemprot langsung kain/baju batik dengan parfum atau pengharum badan yang lainnya, karena akan merusak warna pada corak batik.

7. Pada saat menyimpan kain/baju batik di lemari, hindari menggunakan kapur barus dan sejenisnya, karena akan merusak kain. Untuk mengusir ngengat gunakan lada yang dibungkus dengan tissue, letakkan di sudut lemari pakaian.

Nah, sekarang bagaimana? Dengan pemberian tips cara merawat batik yang benar ini dapat membantu esulitan anda dalam menjaga kualitas baju batik kesayangan anda agar selalu tetap bertahan lama,ya.

Dan semoga artikel kami yang berjudul " Tips Cara Merawat Batik Yang Benar " dapat bermanfaat untuk anda semua. Dan semoga tips cara merawat batik yang benar ini akan berguna jika anda mengikuti tahap yang benar sesuai dengan pemberian tips kami.
Cara Mengeringkan Kain Batik, Tips Batik, Info Batik, Pola Batik, Desain Batik, Belanja Batik, Batik Semarang, Batik Jayakarta,
Cara Mengeringkan Kain Batik

Batik Semarang - Ada beberapa teknik tertentu yang harus digunakan saat mengeringkan kain batik:
  1.  Hindari memeras batik setelah dicuci dalam mesin cuci,.
  2.  Lebih disarankan untuk mengeringkan kain batik di udara terbuka, karena pengeringan didalam mesin pengering dapat merusak bahan dan warna.
  3.  Usahakan untuk mengeringkan kain batik pada jemuran di luar rumah, namun hindari sinar matahari langsung untuk mencegah pemudaran warna.
  4. Anda dapat menyetrika batik Anda, namun hindari menempelkan setrika panas langsung kepada bahan. Semprotkan sedikit air di permukaan kain dan lapisi kain bersih diatasnya sebelum memulai menyetrika.
  5. Ingat, sangat tidak disarankan untuk menggunakan pemutih atau bahan kimia kuat lainnya pada kain batik. Selalu merujuk kepada label perawatan pakaian sebelum mencuci batik pertama kalinya, karena tiap pakaian dapat memiliki petunjuk mencuci yang berbeda tergantung bahannya.
  6. Dengan perhatian dan perawatan yang benar, Anda dapat menikmati indahnya motif dan warna kain batik kesayangan anda lebih lama!

Tips Agar Batik Anda Tetap Awet, Tips Batik, Info Batik, Pola Batik, Desain Batik, Belanja Batik, Batik Semarang, Batik Jayakarta,
Tips Agar Batik Anda Tetap Awet
Batik Semarang - Pakaian batik memerlukan perlakuan khusus agar awet dan warnanya tak pudar. Berikut tips merawat kain batik agar  dari Mis Ari, Kepala Seksi Koleksi dan Perawatan Museum Tekstil Jakarta.

"Pertama, menggunakan sabun yang banyak mengandung pemutih akan membuat warna cepat pudar. Usahakan menggunakan buah lerak yang asli kalaupun tidak bisa menggunakan deterjen yang menggunakan sari buah lerak," kata Mis Ari saat ditemui Antaranews di Jakarta.

Kedua, hindari merendam pakaian terlalu lama dan sebaiknya batik tidak dicuci dengan mesin.

"Cukup direndam sebentar dan kain dikucek perlahan agar kain tidak cepat berlubang karena rapuh."

Selanjutnya, kain tidak  dijemur di bawah sinar matahari langsung. Hal ini  agar kain tidak cepat rapuh dan warna baju tetap terjaga.

"Cukup diangin-anginkan biar kain tidak cepat rapuh dan warna kain tidak pudar," katanya.

Ketiga,  kain jangan disetrika dengan suhu terlalu panas terlalu sering.

"Usahakan seminimal mungkin kain terkena setrika, tujuannya sama dengan menghindari matahari langsung yaitu agar kain tidak cepat rapuh dan warna tidak cepat pudar," kata Mis Ari.

Keempat, jangan melipat kain batik dengan lipatan-lipatan kecil karena hal ini dapat merusak kain dan jika dilakukan terus menerus dapat meninggalkan bekas pada kain.

"Usahakan jangan sering membuat lipatan 'wiron' kalaupun terpaksa segera buka lipatan setelah kain tidak digunakan lagi," katanya.

Kelima, simpan kain ditempat yang sejuk dan kering. Secara berkala di angin-anginkan agar kain tidak ditumbuhi jamur karena kondisi yang lembab.

"Jangan menggunakan pewangi yang mengandung alkohol terlalu banyak. Saat penyimpanan almari cukup diberi akar wangi dan taruhlah merica yang dibungkus kain kasa untuk mengusir serangga," katanya.

Tips yang terakhir, kain tidak perlu dicuci jika dirasa penggunaannya tidak terlalu berlebihan. Setelah dipakai cukup kain diangin-anginkan agar kain kembali kering.
Batik Harus Punya Cerita , Tips Batik, Info Batik, Pola Batik, Desain Batik, Belanja Batik, Batik Semarang, Batik Jayakarta,
Batik Harus Punya Cerita

Batik Semarang
- Menciptakan sebuah batik yang memiliki nilai tinggi memang tidak mudah. Pasalnya, si pembatiknya harus dimodali ilmu spiritual dan kemampuan visualisasi.

Pendapat itu dilontarkan desainer kondang Iwan Tirta, di sela-sela pagelaran busana Himpunan Ratna Busana di Cascade Lounge Hotel Mulia Jakarta, akhir Maret 2008. Menurut pemilik nama lengkap Nusjirwan Tirtaamidjaja, batik itu jangan bagus hanya dari tampilannya saja, tetapi juga harus ada isinya atau punya cerita.

"Kalau mau tahu batik itu bagus atau tidak, bisa kita lihat dalam jarak tiga sampai empat meter. Kita lihat pengulangan warna ataupun motif yang tertera pada material bahannya," kata Iwan kepada okezone.

Selama proses mencipta batik, Iwan mengaku pikiran harus dikosongkan. Karena kalau pikiran ke mana-mana lantas membatik, hasilnya pasti tidak sesuai harapan.

Saat mau membatik pun Iwan selalu menetapkan waktu khusus, pagi atau malam. Alasannya pun sederhana, dirinya tidak mau diganggu oleh orang lain. "Pikiran harus kosentrasi," ujar lulusan School of Economic's, London dan School of Oriental and African Studies itu pendek.

Untuk menyelesaikan satu lembaran kain batik, Iwan bisa menghabiskan waktu dua sampai tiga bulan. Ukuran kainnya pun biasanya berbeda-beda, tergantung untuk keperluan apa. Semisal untuk kain, bahan yang dibutuhkan bisa sampai dua meter tiga per empat, sementara untuk dress bisa empat meter dan kain sari sepanjang enam meter.

"Namun hanya karena alasan bisnis, kini banyak orang yang masih tidak jujur atau mengelabuhi orang lain. Mereka sebenarnya menjual batik cap atau print, tetapi mengaku batik tulis. Itulah yang harus diperhatikan baik-baik saat membeli kain batik," saran peraih penghargaan dari Presiden Republik Indonesia Upakarti (1990) dan Adikarya Wisata (1992).

Mengenai batik yang kini ditampilkan lebih ramai dengan imbuhan detail, Iwan mengatakan bahwa tidak harus begitu untuk menampilkan batik itu indah.

"Batik yang bagus tidak perlu ditampilkan secara berlebihan. Tetapi kalau harus diberi macam-macam detail seperti payet, itu pasti batiknya yang murahan. Tapi kenyataannya, masih banyak masyarakat yang memilih tampilan yang semakin ramai akan semakin oke," pungkas pria kelahiran 18 April 1935, di Blora, Jawa Tengah.
Antara Nilai Filosofis Batik Tradisional dan Inovasi Batik Modern , Tips Batik, Info Batik, Pola Batik, Desain Batik, Belanja Batik, Batik Semarang, Batik Jayakarta,Batik Semarang - Dalam sebuah pementasan wayang nilai filosofis sebuah cerita sebagian besar disampaikan dalam bentuk ujaran dan gerakan . Dalam pelantunan lagu macapat nilai filisofis disampaikan dalam bentuk lirik dan lagu. Dalam sehelai batik tiap goresan canthing adalah lukisan penuh makna dari sang pembatik. Tiap motif adalah simbolisasi dari sebuah peristiwa besar yang dituangkan dalam bentuk gambar.


Batik selama beberapa tahun terakhir seolah-olah mengalami suatu masa reinassance. Pakaian batik yang sebelumnya hanya digunakan pada kesempatan-kesempatan tertentu, sekarang menjadi jamak dikenakan dalam berbagai kesempatan. Para designer dan majalah-majalan mode ramai-ramai mengangkat batik sebagai tema utama sehingga booming fashion batik terjadi.

Kebangkitan luar biasa terjadi dalam industri batik di berbagai daerah . Kota-kota sentra batik seperti Solo, Yogya, Cirebon, Pekalongan, Lasem menjadi begitu hidup seiring bergeliatnya industri batik dalam negri. Modernisasi terhadap berbagai batik pun terus terjadi berbanding lurus dengan meningkatnya permintaan barang dan pesaingan bisnis antar produsen batik. Effeknya inovasi-inovasi terus berkembang dan batik terus dimodifikasi dan dimodernisasi.

Di kota Solo dikenal dua jenis batik, yang pertama batik kratonan dan batik saudagaran. Batik Saudagaran adalah batik yang diproduksi oleh para pengusaha batik, misalnya di daerah kauman dan laweyan. Batik yang diperdagangkan bebas dan dipakai oleh orang kebanyakan termasuk dalam batik jenis ini. Yang kedua batik larangan, adalah batik yang hanya boleh digunakan oleh keluarga kerajaan dalam acara-acara tertentu. Keberadaan batik ini tertutup karena hanya boleh dikenakan oleh kalangan tertentu dalam Keraton.


Adapun batik yang sekarang beredar luas dan dianggap merupakan motif larangan sebenarnya belum tentu merupakan batik larangan yang sesungguhnya, karena yang benar-benar mengetahui tentang batik larangan hanyalah keluarga Raja, jelas Quintanova.

Berkenaan dengan nilai filosofis batik asal Surakarta Drs. Sabar Narimo menjelaskan lebih lanjut tentang hal tersebut.

Gagrag Surakarta Hadiningrat adalah sebutan motif batik asal Kraton Surakarta Hadiningrat. Terdapat sekitar 317 motif yang berasal dari wilayah Kraton Surakarta, itu belum termasuk motif batik pada kain jarit yang saat ini banyak diangkat untuk batik-batik modern.

Sebelum menciptakan sebuah motif batik, sang pembuat batik menjalani proses yang dinamakan lelaku dimana ia merenungi suatu peristiwa dan mengamati keadaan sekitarnya. Hal itu yang menyebabkan tiap lekuk motif batik dan tiap goresan canthing memiliki makna mendalam jika dibedah. Nilai filosofis batik tidak hanya terdapat pada latar belakang sejarah penciptaan suatu motif semata. Nilai pendidikan batik juga tercermin dari cara pemakaian dan waktu pemakaian.

Motif batik memiliki nilai eksklusifitas yang berbeda-beda artinya tidak semua orag dapat menggunakan suatu motif batik. Batik larangan adalah sebutan bagi batik yang hanya boleh digunakan oleh keluarga Raja atau bangsawan. Lereng atau Parang adalah salah satu contoh motif larangan.

Berikut adalah beberapa motif batik dan penjelasan singkatnya:
1. Batik Parang atau lereng menurut pakem nya hanya boleh digunakan oleh sentono dalem ( anak dari ratu). Lereng berasal dari kata mereng (lereng bukit). Sejarah motif ini diawali ketika terjadi pelarian keluarga kerajaan dari Kraton Kartasura. Para keluarga Raja terpaksa bersembunyi di daerah pegunungan agar terhindar dari bahaya

[Motif Parang]

Motif Parang



2. Jenis batik Truntum dipakai saat seseorang menggelar pesta hajatan. Motif truntum sendiri ditemukan oleh Istri dari Pakubuwana V. Saat itu beliau sedang menjalani hukuman karena melanggar peraturan kerajaan. Pada suatu malam beliau merenung dan memandangi langit berbintang yang ada di angkasa kemudian beliau menuangkan apa yang dia lihat dengan chanthing sehingga menjadi motif batik truntum.
[Motif Truntum]

Motif Truntum



3. Batik Sido Mukti dipakai oleh pasangan pengantin. Sida mukti sendiri melambangakan sebuah harapan, jadi seketika sepasang pengantin menggunakan kain sidamukti maka muncul keinginan untuk mencapai kehidupan baru yang berhasil atau dalam bahasa jawa disebut mukti.



4. Batik Sido Drajad dipakai oleh besan ketika upacara pernikahan



Cara pemakaian batik juga memiliki nilai pendidikan tersendiri, berikut adalah beberapa uraian dari cara pemakaian kain batik.

Bagi anak-anak batik dipakai dengan cara sabuk wolo. Pemakaian jenis ini memungkinkan anak-anak untuk bergerak bebas. Secara filosofis pemakaian sabuk wolo diartikan bebas moral, sesuai dengan jiwa anak-anak yang masih bebas dan belum dewasa dan belum memiliki tanggungjawab moral di dalam masyarakat.

Ketika beranjak remaja maka seseorang tidak lagi mengenakan batik dengan cara sabuk wolo melainkan dengan jarit. Panjang jarit yang dipakai memiliki arti tersendiri. Seamakin pajang jarit maka semakin tinggi derajad seseorang dalam masyarakat. Semakin pendek jarit maka semakin rendah pula strata sosial orang tersebut dalam masyarakat.

Bagi dewasa pemakaian batik memiliki pakem tersendiri antara laki-laki dan perempuan. Pada laki-laki wiru diletakkan di sebelah kiri. Sedangkan pada wanita wiru diletakkan di sebelah kanan, yang berarti nengeni. Artinya seorang putri tidak boleh melanggar kehendak suami.

Batik Modern

Mungkin selama ini masyarakat masih rancu dengan apa yang disebut dengan batik modern. Quintanova, salah satu pengamat batik sekaligus panitia SBC, menjelaskan istilah modern dalam konteks batik dapat dilihat dari beberapa segi:

Yang pertama modern dalam arti motif dan yang kedua modern dalam teknis pembuatan. Contoh modernisasi motif diantaranya memadukan dua motif batik dalam satu kain misalnya perpaduan antara lereng dengan kawung menjadi motif lereng-kawung. Batik kontemporer bahkan mengaplikasikan motif-motif modern atau bahkan abstrak dalam kain yang diproses dengan teknis pembuatan batik.

Modern yang kedua adalah dalam hal teknis. Batik printing adalah salah satu bentuk modenisasi teknis pembuatan batik. Namun istilah batik printing yang dikenal masyarakat sebenarnya bukan termasuk batik karena tidak melalui tahapan pembuatan batik. Proses pembuatan batik secara singkat harus melalui beberapa tahap, penggambaran motif, pelapisan dengan malam, pewarnaan, dan terakhir proses lorot (penghilangan malam). Tanpa proses tersebut sebuah kain tidak bisa dikatakan batik tetapi hanya tekstil yang bermotif batik.


Inovasi lain dalam hal teknis pembuatan adalah dengan printing malam seperti yang dilakukan di Desa Wisata Batik Kliwonan dimana malam yang panas dicetak pada sebuah kain secara massal. Dengan proses ini dimungkinkan membuat batik dengan jumlah besar dan dalam waktu singkat tetapi tidak menyimpang dari aturan proses pembuatan batik.

Perlu Inovasi agar batik bisa bertahan

Hal ini senada dengan yang diungkapkan Arifatul Uliana, putri Solo tahun2009, batik modern merupakan usaha agar batik lebih memasyarakat. Demi menjangkau konsumen kaum muda batik yang modern keberadaan batik modern memang sangat perlu. Dengan motif yang bervariasi maka kaum muda tidak lagi enggan menggenakan kain batik dan perlahan-lahan stereotype batik sebagai pakain untuk yang lebih “senior” bisa terkikis.


Menurut Uli pakem filosofis batik tidak harus dikorbakan walaupun proses modernisasi terus terjadi. Nilai filosofis batik bisa dipertahankan dengan menciptakan motif baru dengan pakem-pakem yang sudah ada. Tanpa variasi dan modernisasi batik akan terkesan monoton, dan tidak bisa bertahan membudaya sampai saat ini.

Edukasi Pertahankan Nilai Filosofis Batik

Para pencipta motif batik baru perlu lebih berhati-hati dalam menuangkan kreasinya, paling tidak seorang creator motif batik memiliki pengetahuan dan literature tentang batik-batik terdahulu. Agar motif batik yang diciptakan tidak menyalahi aturan dan pakem yang telah ada.

Batik yang saat ini menjadi trend mode sesunguhnya adalah suatu modal untuk memperkenalkan sejarah dan filosofis batik pada masyarakat. Edukasi budaya diperlukan agar ketika seseorang mengenakan batik dia tidak hanya mengenakannya dengan alasan trend fashion semata tetapi dengan diiringi kesadaran bahwa batik adalah warisan budaya yang patut untuk dilestarikan.

Upaya edukasi nilai filosofis batik dapat dilakukan dengan membawa batik ke sekolah baik dalam bentuk pelajaran intrakulikuler ataupun ekstrakulikuler. Dengan upaya tersebut generasi muda khususnya pelajar menjadi mengenal batik secara lebih mendalam. Sehingga di masa depan batik tetap berjaya. Pameran batik yang digelar perlu lebih menekankan pada pengenalan nilai sejarah batik, tidak hanya pengenalan sekilas tentang kain batik saja tanpa ada tidak lanjut yang lebih mendalam.

Jangan sampai aset budaya yang tak ternilai harganya hilang bersama hilangnya kepedulian kita untuk nguri-uri budaya sendiri.Dengan usaha-usaha tersebut booming trend batik tidak akan luntur seiring bergantinya trend busana.
Cara Sederhana Membedakan Batik Original dengan Batik Palsu
Batik Semarang - Unesco mengakui bahwa Batik Indonesia mempunyai teknik pembuatan dan simbol budaya yang menjadi identitas rakyat Indonesia mulai dari lahir sampai meninggal dunia. Bayi digendong dengan batik bercorak simbol membawa keberuntungan. Dan yang meninggal ditutup dengan kain batik.

Batik yang diakui adalah batik yang pembuatannya menggunakan teknik tertentu, yaitu pembuatan coraknya menggunakan malam / lilin / wax.

Dan di Indonesia batik yang memenuhi syarat sebagai batik adalah Batik Tulis dan Batik Cap.

Tetapi batik yang saat ini mendominasi pasar ternyata batik palsu. Dan ironisnya mayoritas merupakan produk impor. Lebih disayangkan lagi Pemerintah seolah-olah tidak melakukan upaya apa pun untuk mengatasi ‘palsu-isasi’ batik.

Ada cara yang sederhana untuk membedakan antara batik original dengan batik palsu. Batik original, warna dan corak kain bagian luar dan bagian dalam sama warnanya. Warna bagian dalam sama tajamnya dengan bagian luar.

Sebaliknya, batik palsu warna bagian dalamnya samar-samar.
Cara Sederhana Membedakan Batik Original dengan Batik Palsu

Nah, dengan cara yang sederhana ini sekarang kita bisa tahu apakah batik yang kita pakai adalah batik original atau batik palsu.
Batik - Batik di Semarang, Tips Batik, Info Batik, Pola Batik, Desain Batik, Belanja Batik, Batik Semarang, Batik Jayakarta,
Batik - Batik di Semarang

1.  Franquemont dan Oosterom

Batik Semarang - Batik Franquemont memiliki warna beragam dengan warna hijau sebagai kekhasan dan memiliki pola-pola bermotif Eropa, Cina dan pesisir utara khususnya Madura dan pola dari keraton. Franquemont juga mengambil figure-figur dan atribut dari berbagai dongeng Eropa yang ditampilkan berulang pada badan kain batik.

Batik Oosterom cirinya memiliki pola yang rumit salah satu kreasinya dengan motif pola sirkus yang menggambarkan penunggang kuda, orang berdansa, bangunan mirip kastil, pohon palma, dilengkapi dedaunan dan burung mirip phoenix.

2. Tan Kong Tien

Motif-motif batik dari “Batikkerij Tan Kong Tien” merupakan hasil akulturasi motif pesisiran yang berkarakter terbuka dan motif keraton. Contoh motif dasar parang yang merupakan motif batik keraton, seringkali dipadu dengan motif burung merak.

3. Neni Asmarayani

Neni membuka galeri batik pada tahun 1970-an di Semarang dan melibatkan beberapa pelukis dan seniman ternama dalam penciptaan desain. Ada dua motif nuansa Semarang yang diciptakan yaitu Warak Ngendog dan Pandan Arang. Namun usaha pembatikan ini kemudian tidak berlanjut.

4. Batik Sri Retno

Keunikan batik Sri Retno adalah inovasi yang dilakukan dalam hal motif karena bertempat produksi di Semarang, jejak-jejak kekhasan kota tersebut juga menjadi sumber explorasi penciptaan motif batiknya. Namun sangat disayangkan perusahaan yang sebenarnya telah punya pasar dan popular sebagai pencipta batik dengan motif khas itu beroperasi tidak sampai satu decade.

5. Batik Semarang 16

Setelah sekian lama vakum pada tahun 2005, Umi. S. Adi Susilo aktif menghidupkan kembali aktivitas perbatikan. Selain banyak mengadakan pelatihan batik juga membentuk perusahaan kerajinan Batik Semarang 16. Ratusan motif telah dihasilkan Batik Semarang 16 terutama motif-motif baru yang berhubungan dengan landmark kota Semarang seperti Tugu Muda, Lawang Sewu, Pohon Asem, Blekok Srondol dan banyak lagi. 11 motifnya telah dipantenkan di HAKI.

6. Kampung Batik

Merupakan sentra batik di Semarang yang pernah mengalami kejayaan pada zaman Belanda. Tak hanya Kampung Batik yang merupakan tempat perajin batik, tetapi juga Bugangan, Rejosari, Kulitan, Kampung Melayu, dan Kampung Darat, yang notabene adalah kampung-kampung yang terletak di sekitar pusat Kota Semarang tempo dulu. Berdasarkan penelitian Dr Dewi Yuliati MA dari Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Undip Umumnya orang Semarang tempo dulu membatik dengan motif naturalis (ikan, kupu-kupu, bunga, pohon, bukit, dan rumah), tidak simbolis seperti batik-batik di Surakarta dan Yogyakarta. Motif naturalis menjadi ciri khas batik yang diproduksi oleh masyarakat pesisir utara Jawa. Ciri itu dapat dimaknai sebagai karakter masyarakat pesisir, yang lebih terbuka dan ekspresionis jika dibandingkan dengan masyarakat di Surakarta dan Yogyakarta, yang lebih dilingkupi oleh sistem simbol, norma-norma, dan aturan-aturan di bawah kekuasaan raja.

7. Desa Gemawang

Berdasarkan literatur, sejak jaman Hindia Belanda di wilayah ini memang telah ada industri batik. Setelah Gunung Ungaran meletus hebat sekitar tahun 1800-an, kerajinan batik lalu menyebar ke berbagai wilayah. Batik Gemawang mulai bangkit pada tahun 2005, setelah diadakan pelatihan membatik. Batik ini mempunyai ciri khas unsur batik kopi, tala madu dan baruklinting. Sedangkan pewarnaan utama menggunakan indigo (indigofera).

8. LOKA Batik by Hanna Lestari

LOKA Batik adalah sebuah label dan gallery untuk kreasi produk fashion dan cultural creative product dengan motif batik semarang khususnya dan Jawa Tengah umumnya. LOKA Batik menjalin kerjasama dengan para pengrajin untuk menghasilkan produk yang berkualitas dan bercita rasa seni tinggi. Dengan menggunakan e-commerce sebagai salah satu media pemasarannya diharapkan Batik Semarang khususnya dan batik di Jawa Tengah umumnya dapat dikenal lebih luas baik dalam negeri maupun mancanegara.
Mengenal Motif Batik Semarang, Tips Batik, Info Batik, Pola Batik, Desain Batik, Belanja Batik, Batik Semarang, Batik Jayakarta,
Mengenal Motif Batik Semarang
Batik Semarang - Robyn Maxwell, seorang peneliti tekstil di Asia Tenggara, menjumpai sebuah sarung di Tropenmuseum Amsterdam yang di buat di Semarang. Dalam bukunya Textiles of Southeast Asia: Tradition, Trade and Transformation (2003:386), Maxwell menyebut sebuah kain produksi Semarang berukuran 106,5×110 cm yang terbuat dari bahan katun dengan dekorasi dari warna alam memiliki motif yang sangat berbeda dengan motif Surakarta atau Yogyakarta.

Pepin Van Roojen, menemukan beberapa jenis batik dari Semarang seperti yang ditulis dalam bukunya berjudul Batik Design (2001:84). Ada kain sarung yang dibuat pada akhir abad ke-19 di Semarang. Sarung itu memiliki papan dan tumpal dengan ornament berupa bhuta atau sejenis daun pinus runcing asal Kashmir. Motif badannya berupa ceplok. Ini menunjukkan meskipun secara spesifik batik Jawa Tengah yang diwakili Surakarta dan Yogyakarta berbeda dengan batik pesisir, Semarang termasuk di dalamnya, namun pola-pola baku tetap pula dipakai seperti ditunjukkan pada pola ceplok itu.

Peneliti batik lain, menegaskan batik semarang dalam beberapa hal memperlihatkan gaya laseman karakter utama laseman berupa warna merah (bangbangan) dengan latar belakang gading (kuning keputih-putihan). Lee Chor Lin (2007:65) mengatakan laseman dengan cirri bangbangan mempengaruhi kreasi batik di beberapa tempat di pesisir utara lainnya seperti Tuban, Surabaya dan Semarang.

Maria Wonska-Friend yang mengkaji koleksi batik milik Rudolf G Smend (Smend et al, 2006:53) menyebutkan ciri pola batik Semarang berupa floral, yang dalam banyak hal serupa dengan pola Laseman. Tidak heran pada koleksi tersebut banyak sekali kain batik dari abad ke-20 yang disebut batik Lasem atau Semarang. Maksudnya, batik-batik tersebut tidak secara spesifik disebut sebagai kreasi satu kota misalnya batik Lasem saja atau batik Semarang saja.