Diberdayakan oleh Blogger.

Seharag Batik

Tokoh Batik

The Latest

Batik Semarang - Baju Batik sangatlah beragam, dari mulai daster batik, sampai kemeja batik, baik untuk wanita maupun untuk pria. Memilih baju batik haruslah teliti, terutama ketika memilih motif batik dan model baju batiknya. Salah memilih baju batik, hanya akan terlihat aneh bahkan sangat mungkin akan ditertawakan.

Salah satu kegiatan yang sangat menyenangkan adalah berbelanja, termasuk dalam berbelanja baju batik. Batik adalah salah satu busana tradisional yang berasal dari Jawa. Kini, batik menjadi sebuah busana yang memiliki tampilan yang menarik dan modern.

Dalam menggunakan batik, kamu harus mengetahui beberapa tipsnya, seperti kain, motif dan warnanya. Berikut ini adalah beberapa cara dalam memilih baju batik agar sesuai dengan kebutuhan kamu, yaitu:
Memilih motif batik berdasarkan ukuran tubuh
Jika kamu memiliki tubuh yang besar, pilihlah baju batik yang memiliki motif geometris yang berukuran sedang, atau kombinasi motif geometris yang besar dengan yang ukurannya kecil agar sesuai dengan proporsi tubuh kamu. Sedangkan bila kamu memiliki tubuh yang mungil, jangan ragu untuk memilih baju batik bermotif geometris berukuran sedang agar bentuk tubuh tampak lebih proporsional.
Corak batik busana kasual
Untuk busana kasual sebaiknya kamu memilih baju batik yang bercorak fauna dan flora. Selain itu usahakan batik berada dalam paduan warna yang cerah sehingga memberi kesan aktif dan ceria. Selain itu, untuk gaya kasual, kenakan busana berpotongan simpel dengan aplikasi atau detail menarik. Agar nyaman dipakai, untuk busana kasual pilihlah batik yang terbuat dari katun.
Baju batik untuk kerja
Untuk busana kerja, sebaiknya Anda memilih baju batik dengan kombinasi warna gelap atau pastel, serta bercorak geometris agar penampilan kamu menjadi tetap terlihat rapi, dan formal. Pastikan kamu memilih desain busana batik yang simpel namun tegas, sehingga tetap berkesan profesional. Hanya jika diperlukan bisa ditambah detail atraktif yang terkesan minimalis, seperti opnaisel, ploi, saku, atau tali pinggang. Selain itu pilihlah baju batik yang terbuat dari katun dan tambahkan superlining sebagai pelapis dalam (furing) agar jatuhnya busana terlihat lebih tegas dan rapi.

Memilih Baju Batik untuk Kepesta
Apabila kamu ingin membuat busana pesta atau resmi dari kain batik, kamu bisa menggunakan berbagai jenis motif dan paduan warna.

Yang penting adalah memilih warna serta motif batik yang sesuai dengan jenis acara yang akan dihadiri (suasana pesta). Untuk acara pesta yang beratmosfer santai atau semiresmi, kamu bisa memilih batik bermotif fauna dan flora dalam paduan warna cerah ataupun terang. Untuk acara pesta yang resmi, batik bermotif fauna dan flora dalam paduan warna cerah ataupun terang.

Selain itu, untuk acara pesta yang resmi, baju batik bermotif geometris berukuran sedang atau motif-motif klasik, seperti motif Jlamprang dan Truntum dalam sentuhan warna terang atau gelap yang terkesan mewah bisa menjadi pilihan yang tepat. Batik bermotif flora juga bisa dipilih untuk menciptakan busana resmi yang terkesan elegan.
Sumber : www.hanleebatik.com
Batik Semarang - Keragaman batik dan tenun Indonesia merambah pasar dan masyarakat San Francisco, Amerika Serikat. Pencapaian itu terwujud melalui eksibisi "Textile and Tribal Art" yang menampilkan Indonesia sebagai "country focus" asing pertama.

Pencapaian tersebut terukur dari lancarnya pelatihan membatik di Wisma Indonesia, San Francisco. "Setelah berakhirnya eksibisi selama empat hari, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) San Francisco mengadakan workshop mengenai pembuatan batik di Universitas UC-Berkeley dan Wisma Indonesia," kata Konsul Pensosbud KJRI San Francisco F Bernard Loesi seperti dalam laman bisnis.com, Ahad 19 Februari 2017.

KJRI San Francisco mengundang pembatik Dalmini dari Desa Kebon Indah di Klaten, penenun Alfonsa Horeng dari Flores dan Museum Tekstil Jakarta. KJRI menampilkan ratusan koleksi kekayaan kain tradisional Indonesia.

Acara tahunan ini merupakan program pertunjukan kain tekstil paling bergengsi di San Francisco yang menampilkan lebih dari 80 kolektor, kurator maupun penjual barang-barang dengan nilai seni berusia hingga ratusan tahun.

Pada tahun 2009 UNESCO mengakui batik sebagai warisan budaya. Acara pembukaan dihadiri konsul jenderal negara-negara asing, budayawan, kolektor, filantropis dan kurator di California.

Sementara pengunjung yang menghadiri eksibisi yang diselenggarakan selama empat hari tercatat lebih dari 2.000. "Saya selalu mengikuti eksibisi ini setiap tahun, namun dengan terlibatnya Indonesia maka tahun ini adalah yang paling meriah dan menarik," ujar kolektor kain tradisional asal San Francisco, Jane Shields (52).

Pengunjung lain mengagumi proses membuat batik dan kain tenun yang diperagakan di Pavillion Indonesia oleh Dalmini dan Alfonsa Horeng. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang kebetulan berada di San Francisco menyempatkan diri mengunjungi eksibisi sebagai tamu kehormatan panitia setempat.

KJRI San Francisco bekerjasama dengan Language of Cloth menyelenggarakan workshop di universitas ternama UC-Berkeley dan Wisma Indonesia. Sekitar 200 mahasiswa dan pencinta seni antusias untuk mengetahui sejarah, pembuatan dan filosofi pembuatan kain tradisional Indonesia. Pengunjung sangat tertarik mempraktikan pembuatan batik secara langsung.

Mereka menyampaikan kepada KJRI niatnya datang ke Indonesia agar dapat melihat dan mempelajari dari dekat proses pembuatan batik dan tenun. Seniman asal Oakland, Margareth Jones (44) pun mengatakan, keinginan untuk belajar melukis.

"Saya memiliki studio seni untuk melukis di atas kain dan setelah workshop ini saya berencana untuk tinggal di Klaten selama beberapa minggu untuk mempelajari bagaimana membuat batik," ujar Margareth Jones yang juga berprofesi sebagai perawat.

Sumber : tempo.com
Batik Semarang - Suara permainan gamelan terdengar mengalun merdu.

Gending Jawa yang dilantukan seorang penyanyi. Angin sepoi mengayunkan puluhan kain batik berwana-warni berbagai motif.

Empat orang wanita terlihat menarikan tangan yang memegang canting diatas kain berwarna putih.

Mereka sedang memainkan peran drama gambar keseharian seorang pembatik.

Suasana itu terlihat di gedung serba guna Kantor Desa Trihanggo Gamping Sleman, Sabtu (28/1/2017).

Drama itu yang dimainkan para pembatik itu merupakan bagian acara peringatan ulang tahun kedua Asosiasi Batik Mukti Manunggal Sleman.

Di tahun kedua ini, Ketua Asosiasi Asikhah Eko Putranti mengungkapkan, pihaknya tengah membangun identitas batik di Sleman.

Batik dengan bahan pewarna alami akan menjadi identitas batik yang diproduksi oleh warga Sleman.

"Awalnya ada (pembatik) yang berangkat dari pewarna sintetis, tapi tahun 2016 kita semua sudah memulai untuk memproduksi warna alami. Tujuan kami adalah batik warna alami identik dengan Sleman," ujar wanita yang akrab dipanggil Tanti.

Penggunaan pewarna alami itu juga untuk mendukung program pelestarian alam yang digemborkan pemerintah Kabupaten Sleman.

Pasalnya, pihaknya juga menyadari jika Sleman merupakan daerah resapan air untuk DIY.

Tercatat, lanjut Tanti, kini ada 27 kelompok dan individu perajin batik dari seluruh penjuru Sleman yang tergabung dalam asosiasi ini.

Anggota asosisasi tersebut sebelumnya merupakan binaan Disperindagkop Sleman.

Kelompok dahulu binaan dari disperindagkop Sleman. Asosiasi dibentuk untuk bersama meningkatkan kualitas dan menjalin hubungan promosi produksi batik.

Total ada tujuh motif batik khas Sleman yang akan segera dipatenkan. Pemasaran batik perajin Sleman ini telah merambah di beberapa kota di Indonesia.

"Yang khas dan sedang trend batik motif sinom pari jogo salak," ungkap Tanti.

Tak tanggung-tanggung. Guna memperkenalkan karya batik mereka bahkan membuat sebuah film berjudul 'Aduh Blaik'.

Tanti mengatakan, film itu secara keseluruhan melibatkan pembatik yang tergabung dalam asosiasi. Mulai dari pemain hingga sutradara merupakan pengrajin batik.

"Promosi kami kemas dalam sebuah drama yang menceritakan anggota asosiasi beserta seluruh kegiatan," ujarnya. 
Sumber : tribunnews.com
Batik Semarang - Keragaman dan keindahan batik serta tenun Indonesia membuat kagum khalayak San Francisco, Amerika Serikat, yang menghadiri pameran Textile and Tribal Art di kota pantai barat itu. Seusai pameran yang berlangsung selama empat hari itu, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) untuk San Francisco mengadakan lokakarya mengenai batik di Universitas UC-Berkeley pada 14 Februari 2017 dan di Wisma Indonesia pada 16 Februari.

Untuk acara ini, KJRI San Francisco mengundang pembatik Dalmini dari Desa Kebon Indah di Klaten, penenun Alfonsa Horeng dari Flores, serta perwakilan Museum Tekstil Jakarta yang menampilkan ratusan koleksi kekayaan kain tradisional Indonesia. Acara tahunan ini merupakan program pertunjukan kain tekstil paling bergengsi di San Francisco yang menampilkan lebih dari 80 kolektor, kurator, ataupun penjual barang-barang dengan nilai seni dan sejarah yang berusia hingga ratusan tahun.

“Indonesia telah memulai budaya untuk menghasilkan kain-kain tradisional sejak 2.000 tahun lalu, dan pada 2009 UNESCO mengakui batik sebagai warisan budaya dunia,” ujar Konsul Jenderal Ardi Hermawan saat pembukaan ekshibisi yang dihadiri oleh lebih dari 700 pengunjung. Acara pembukaan dihadiri para diplomat serta konsul jenderal negara-negara sahabat, budayawan, kolektor, filantropis, dan kurator di California. Lebih dari 2.000 pengunjung menghadiri ekshibisi yang diselenggarakan selama empat hari tersebut.

“Saya selalu mengikuti ekshibisi ini setiap tahun. Namun, dengan terlibatnya Indonesia, tahun ini adalah yang paling meriah dan menarik,” ujar kolektor kain tradisional asal San Francisco, Jane Shields, 52 tahun. Pengunjung lain mengagumi proses membuat batik dan kain tenun yang diperagakan di Pavillion Indonesia oleh Dalmini dan Alfonsa Horeng.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, yang kebetulan berada di San Francisco, juga menyempatkan diri mengunjungi ekshibisi sebagai tamu kehormatan panitia setempat. Tri tampak menikmati dan mengagumi berbagai koleksi kain batik, tenun, serta tari-tarian tradisional Indonesia pada saat acara.

Untuk lebih mengenalkan kekayaan batik dan tenun Indonesia, KJRI San Francisco berkerja sama dengan Language of Cloth untuk menyelenggarakan workshop di universitas ternama UC-Berkeley dan Wisma Indonesia. Sekitar 200 mahasiswa dan pencinta seni sangat antusias untuk mengetahui sejarah, pembuatan, dan filosofi pembuatan kain tradisional Indonesia. Pengunjung sangat tertarik untuk mencoba mempraktekkan pembuatan batik secara langsung.

Kepada pihak KJRI, mereka menyampaikan niatnya untuk datang ke Indonesia agar dapat melihat serta mempelajari dari dekat proses pembuatan batik dan tenun secara langsung. “Kami memiliki studio seni untuk melukis di atas kain, dan setelah workshop ini saya berencana tinggal di Klaten selama beberapa minggu untuk mempelajari bagaimana membuat batik,” ujar seniman asal Oakland yang juga berprofesi sebagai perawat, Margareth Jones, 44 tahun.
Sumber : dunia.tempo.co
 Pemerintah diharapkan terus membantu pengembangan batik lokal dengan mengeluarkan kebijakan yang membantu memperbanyak penggunaan batik lokal kepada masyarakat di berbagai daerah.

"Misalnya dengan membuat imbauan agar PNS dapat menggunakan batik lokal pada hari tertentu," kata pembatik Amrizal dikutip dari Antara, Minggu, 12 Februari 2017.

Amrizal merupakan pembatik asal Batam yang telah belajar membatik di Yogyakarta pada tahun 2008. Dia mengemukakan setiap daerah sebenarnya memiliki keunikan tersendiri terhadap batik yang mereka hasilkan.
Misalnya di Batam, ujar dia, salah satu gambar motif batik yang kerap muncul dalam batik di daerah itu gong-gong, atau kerang asli Batam.

Amrizal yang berusia 36 tahun itu juga berpendapat, salah satu faktor kurang berkembangnya pengembangan batik lokal di sejumlah daerah karena SDM yang juga relatif minim.

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan akan membantu mempromosikan batik Banyuwangi yang kualitasnya dinilai sangat bagus ke sejumlah pasar di luar negeri.

"Saya cek kualitas produk UMKM Banyuwangi memang oke, jadi tahun ini beberapa UMKM terpilih akan difasilitasi Kementerian Perdagangan untuk promosi membuka pasar di luar negeri, antara lain di Abu Dhabi, Taiwan, dan Qatar yang pasarnya sedang tumbuh," kata Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito.

Mendag menyampaikan apresiasinya atas strategi yang dilakukan Pemkab Banyuwangi dengan melibatkan UMKM di ajang nasional, termasuk dalam ajang Indonesia Fashion Week (IFW) yang diselenggarakan di Jakarta Convention Center, Sabtu (4/2).

Menurut dia, strategi seperti itu bisa membuka pasar bagi pelaku UMKM karena memang di situ peran pemerintah membuka jalan bagi perajin lokal agar produknya dikenali dan laris.

Pada ajang pergelaran fashion ternama di Asia, Banyuwangi menampilkan beragam batik asal wilayah ujung paling timur Pulau Jawa itu dengan melibatkan para perajin lokal ditampilkan di hadapan desainer, pelaku industri fashion dan penggemar mode.
Sumber : metrotvnews.com
Batik sebagai suatu budaya dalam negeri tentunya perlu terus dilestarikan. Namun, dalam pengembangan dan pemasarannya, diperlukan strategi tertentu.

Demikian menurut Syaiful CH, pemilik kios Batik Madura di Trade Mall (TM) Thamrin City, yang berjualan di Lantai Dasar pusat batik terkenal di Jakarta tersebut.

“Awalnya saya berusaha Batik Madura dari nol, tetapi melalui berbagai pembinaan dan pembekalan, sekarang saya tahu pentingnya berkreasi untuk mengembangkan batik Madura sesuai tren pasar” ujar Saiful, dalam siaran pers yang diterima Metrotvnews.com, Selasa (15/2/2017).

Syaiful bahkan tidak segan untuk mempelajari berbagai referensi batik pesisir ini bahkan sampai ke Jepang untuk mengelaborasi potensi batik Madura yang ditekuninya.

“Saya kaget ketika menemukan referensi buku model batik Madura di Jepang yang sangat lengkap. Ini kesempatan untuk menampilkan ribuan corak Batik Madura hingga dikenal masyarakat luas,” kata Saiful.

Pedagang dan pengrajin batik asal Tanjungbumi Bangkalan, Madura tersebut pun mulai mengembangkan usaha dari daerahnya tersebut hingga memiliki 5 kios Batik Madura. 

Saiful menambahkan, saat ini ia juga melayani bisnis eceran maupun penjualan grosir berjumlah hingga ratusan kodi label Batik Madura ke berbagai kota di Indonesia.

Tak hanya di dalam negeri, juga mencapai ke luar negeri, contohnya seperti Medan, Banjarmasin, Makassar, Singapura, dan Kuala Lumpur. Ia mengaku, kebanyakan pesanan adalah jenis batik tulis.

“Bagi saya dan keluarga besar yang mengembangkan Batik Madura di sini, usaha ini sangat menguntungkan tidak hanya dari sisi omzet tetapi juga dapat ikut melestarikan budaya batik nusantara,” katanya.
Sumber : metrotvnews.com
Batik menjadi salah satu ciri keanekaragaman bangsa Indonesia. Berbagai macam corak dan jenis batik yang beragam membuat batik makin digemari dan terus diburu para pedagang.

Di awal 2017 ini, pakaian dan kain batik pun masih menjadi primadona para pedagang untuk menaikkan omzet mereka. Dengan cara membeli grosiran, keuntungan yang diraih para pedagang pun bisa mencapai 30 persen.

Pedagang batik asal Cirebon Arief (45) mengaku mengalami kenaikan omzet hampir 30 persen dibanding hari-hari biasanya pada awal tahun baru dengan mengusung brand batiknya bermerek "Akhsan".

"Sepanjang 2016, masyarakat pecinta batik nusantara masih menjadikan TM Thamrin City sebagai tempat pencariannya. Kami berharap dengan berbagai inovasi di 2017 dapat melayani pengunjung lebih baik lagi. Pedagang pun terus untung dan maju terus," tutur AVP Marketing Trade Mall Agung Podomoro Ho Mely Surjani, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (5/1/2017).

Senada, pedagang yang juga pemilik toko  "Padma Kirana 1", Sahroni, pun merasakan keuntungan tersebut. Pria yang khusus menjual batik tenun asli Pekalongan sejak tiga tahun lalu mengalami peningkatan. Bahkan dia mampu membeli Ruko sendiri dan kini menjadi hak miliknya.

"Alhamdulillah selama 2016, omzet rata-rata Rp25 juta-Rp30 juta sebulan. Mengingat banyaknya pedagang  batik, persaingan antarpedagang juga kian ketat terutama soal harga dan kualitas," ujar Sahroni.

Lain lagi dengan Rina, pedagang batik yang buka toko di Pasar Mayestik Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Musim liburan akhir tahun kemarin, dia bisa belanja dua sampai tiga kali seminggu dengan cara kodian atau grosir untuk dijual kembali.
Sumber : ekonomi.metrotvnews.com
Batik Semarang -Sesuai namanya, Batik 3 Negeri ini memiliki tiga tempat berbeda untuk menyelesaikannya. Kekayaan budaya bangsa luhur ini sudah berlangsung pembuatannya sejak tahun 1900an dan menjadi karya seni bernilai tinggi. Dari sebuah keluarga yang ada di Solo bernama keluarga Tjoa yang membuat batik dengan berbagai unsur, akhirnya batik ini mempengaruhi kebudayaan lainnya di Nusantara.

Bentangan Batik 3 Negeri yang melegenda hingga penjuru nusantara

“Di Tataran Sunda, sebuah pernikahan bisa batal bila sang pengantin pria tidak membawa Batik Tiga Negeri. Bahkan keluarga Tjoa tidak pernah menduga hal ini akan terjadi. Bahkan mereka percaya ada kekuatan magis didalam kain ini. Kalau ada anak yang sakit, sobek kainnya, bakar dan minumkan ke anaknya” ujar Didi Budiarjo dalam diskusi “Design Talk, Collection, Inspiration, & Fashion” di Dia.Lo.Gue, Kamis (26/1/2017).

Batik 3 Negeri ini sendiri memiliki proses pembuatan yang sangat spesial dan tidak bisa diulangi lagi saat ini. Terdiri dari proses penggambaran sketsa dan memberikan malam hingga selesai di kedua sisinya di Solo. Batik ini akhirnya dikirim sejauh 160 kilometer jaraknya ke daerah Lasem, sebagai penghasil batik pesisir untuk mendapatkan warna merah yang terpengaruh dari budaya Tiongkok.

Setelah selesai diwarnai bagian merahnya oleh pengrajin di Lasem, kain ini dikirimkan kembali ke Solo untuk diperiksa pewarnaannya sudah tepat atau belum. Jika sudah sesuai, kain ini akan dibawa ke Pekalongan sejauh 200 Kilometer. Hal ini dilakukan untuk memberikan warna hijau dan biru yang menyala terang dan hanya dihasilkan di Pekalongan, Jawa Tengah.

Setelah semua bagian ornamen sudah sesuai dengan warna yang diinginkan, batik ini akhirnya diselesaikan di Solo dengan memberikan warna kuning yang menutupi seluruh bagian. Kekayaan budaya inilah yang dilakukan sejak zaman dahulu oleh keluarga Tjoa, seorang pengusaha Tionghoa yang menciptakan Batik 3 Negeri ini.

“Kejayaan dari Batik 3 Negeri ini tidak akan bisa terulang. Siapa yang mau untuk mengantar sebuah kain melewati perjalanan beratus kilo jaraknya? Tentunya jika diproduksi sekarang, kain ini akan berharga sangat mahal dan tidak semua orang mampu membelinya. Karena wastra akan hidup jika ada pembelinya.” Ujar Didi.
Sumber : liputan6.com
Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) bekerja sama dengan UNESCO terus berupaya melestarikan benda cagar budaya yang mereka miliki. Mereka berusaha mereinkarnasi candi-candi yang mereka kelola dan jaga dalam bentuk berbeda. Tidak sekadar menjaga agar tidak menjadi sasaran tangan jahil tetapi juga menuangkan dalam hal yang berbeda.

Kasubag Tata Usaha BPCB Daerah Istimewa Yogyakarta, Arie Setyastuti mengungkapkan, saat ini pihaknya memang tengah melakukan pemberdayaan terhadap warga yang tinggal di seputaran candi. Masing-masing Candi Ijo, Candi Boko, Candi Sojiwan dan juga Candi Prambanan. Dengan menggandeng beberapa lembaga termasuk diantaranya UNESCO, mereka berusaha menuangkan relief candi ke dalam media yang berbeda.

"Puluhan motif relief candi kami tuangkan menjadi batik," tuturnya saat peluncuran showroom batik jumputan Candi Ijo, Kamis (19/1/2017).

Tiga desa masing-masing Sambirejo, Bokoharjo dan Tirtomartani coba mereka berdayakan melalui batik  jumputan. Motif yang banyak mereka terapkan adalah relief candi yang berada di desa masing-masing. Relief mahkota, tokoh legenda ataupun relief yang lain coba mereka aplikasikan ke dalam motif batik.

Menurutnya, reinkarnasi relief ke dalam batik memang bagian dari upaya mereka melaksanakan pelestarian candi. Karena pelestarian tak sekadar menjaga, tetapi juga mendistribusikan atau mensosialisasikan relief yang mengandung cerita candi ke masyarakat yang lebih luas. Dengan semakin banyak masyarakat yang mengetahui dan memahami relief candi, maka sejarah akan terjaga.

Head of Culture UNESCO Jakarta, Bernards Zako menandaskan UNESCO memang berkomitmen untuk melakukan pelestarian benda cagar budaya dan juga batik yang sudah mereka akui sebagai warisan budaya. Salah satunya adalah melalui pemberdayaan masyarakat sekitar candi. Selain untuk mempertahankan benda cagar budaya juga untuk memberi manfaat lebih bagi masyarakat di seputaran candi.

"Agar jangan sampai yang merasakan manfaat candi hanyalah pengelola candi semata tetapi juga masyarakat luas," ujarnya.

Melalui beberapa pelatihan dan juga pendampingan, mereka akhirnya mampu melakukan pemberdayaan produksi batik motif relief candi. Sejak setahun terakhir, nilai ekonomi dari produksi batik jumputan yang dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga seputaran candi Ijo, Sojiwan dan Borobudur mulai dirasakan.

Ia menyebutkan, dalam setahun terakhir omzet rata-rata para ibu rumah tangga sudah mencapai Rp20 juta. Sebuah manfaat yang sudah dirasakan ibu rumah tangga setelah mereka ikutkan dalam pameran ataupun eksebisi lainnya. Ke depan, ia berharap akan semakin banyak masyarakat seputaran candi yang terlibat dalam produksi batik jumputan ini. "Kami turut bangga dengan hasil kerja keras ibu rumah tangga di seputaran candi ini," ujarnya.

Ketua kelompok Batik Jumputan Candi Ijo, Muryani mengakui sejak mereka menggeluti kerajinan batik ini, perekonomian keluarga mereka menjadi terangkat. Bahkan penghasilan ibu-ibu rumah tangga tersebut sudah mampu menjadi penopang ekonomi keluarga. Ibu rumah tangga yang berasal dari golongan ekonomi lemah kini sudah mulai menggeliat dan mampu lebih mandiri.

"Empat motif batik yang kami buat adalah Cempaka, Kala, Mutiara Muntah dan Mahkota menjadi motif andalan kami," paparnya. 
Sumber : sindonews.com
Batik Semarang - Kelompok Kerja (Pokja) Diplomasi Ekonomi KJRI Jeddah ikut memamerkan produk batik dalam negeri dalam pameran Manafe 2016 di Mekkah, Arab Saudi yang dihelat awal bulan ini.

Pokja terdiri atas Pelaksana Fungsi Ekonomi (PFE), Pelaksana Fungsi Pendidikan Sosial dan Budaya (Pensosbud), ITPC dan Atase Perhubungan, memboyong secara khusus batik tulis Pakidulan agar bisa unjuk gigi di ajang bergengsi itu.

"Batik tulis Pakidulan, sepatu dan tas kulit sangat tepat unjuk pamer di pameran Manafe ini untuk manggaet pasar kelas menengah di Arab Saudi," kata Kepala ITPC Jeddah Gunawan dalam rilisnya di Jakarta, Jumat (16/9/2016).

Menurutnya, semua produk Indonesia yang dibawa ke pameran ini sangat berkelas dan diakui internasional, seperti produk sepatu dan tas. "Produk-produk aneka sepatu dan tas kulit ini mempunyai kualitas terbaik dan diakui internasional," imbuhnya.

Dalam pameran ini, lanjut dia, booth Indonesia menayangkan video tentang komoditas unggulan Indonesia dan menyebarkan brosur produk-produk  industri farmasi, makanan dan minuman, komoditas tekstil dan produk tekstil serta  produk-produk lainnya.

"Booth Indonesia juga mempromosikan Trade Expo Indonesia (TEI) 2016 yang akan diadakan di Jakarta pada 12-16 Oktober 2016, melalui brosur dan banner TEI serta banner Wonderful Indonesia 2016," pungkasnya. 
Sumber : sindonews.com
Batik Semarang - Pemerintah diharapkan terus membantu pengembangan batik lokal dengan mengeluarkan kebijakan yang membantu memperbanyak penggunaan batik di tengah masyarakat di berbagai daerah.

"Misalnya dengan membuat imbauan agar PNS dapat menggunakan batik lokal pada hari tertentu," kata pembatik Amrizal yang mengikuti eksibisi "Wonderful Indonesia" di Travel Tour Expo (TTE) Philippines 2017 di Manila, Filipina.

Amrizal merupakan pembatik asal Batam yang telah belajar membatik di Yogyakarta pada tahun 2008.

Dia mengemukakan setiap daerah sebenarnya memiliki keunikan tersendiri terhadap batik yang mereka hasilkan.

Misalnya di Batam, ujar dia, salah satu gambar motif batik yang kerap muncul dalam batik di daerah itu gong-gong, atau kerang asli Batam.

Amrizal yang berusia 36 tahun itu juga berpendapat, salah satu faktor kurang berkembangnya pengembangan batik lokal di sejumlah daerah karena SDM yang juga relatif minim.

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan akan membantu mempromosikan batik Banyuwangi yang kualitasnya dinilai sangat bagus ke sejumlah pasar di luar negeri.

"Saya cek kualitas produk UMKM Banyuwangi memang oke, jadi tahun ini beberapa UMKM terpilih akan difasilitasi Kementerian Perdagangan untuk promosi membuka pasar di luar negeri, antara lain di Abu Dhabi, Taiwan, dan Qatar yang pasarnya sedang tumbuh," kata Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito sebagaimana disampaikan dalam pesan tertulis Pemkab Banyuwangi di Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu (5/2).

Mendag menyampaikan apresiasinya atas strategi yang dilakukan Pemkab Banyuwangi dengan melibatkan UMKM di ajang nasional, termasuk dalam ajang Indonesia Fashion Week (IFW) yang diselenggarakan di Jakarta Convention Center, Sabtu (4/2).

Menurut dia, strategi seperti itu bisa membuka pasar bagi pelaku UMKM karena memang di situ peran pemerintah membuka jalan bagi perajin lokal agar produknya dikenali dan laris.

Pada ajang pergelaran fashion ternama di Asia, Banyuwangi menampilkan beragam batik asal wilayah ujung paling timur Pulau Jawa itu dengan melibatkan para perajin lokal ditampilkan di hadapan desainer, pelaku industri fashion dan penggemar mode.
Sumber : www.beritasatu.com
Batik Semarang - Dalam pelaksanaan pendampingan pada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Badan Standardisasi Nasional (BSN) menggandeng Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta untuk ikut mempromosikan Batik Mahkota Laweyan sebagai role model penerap Standard Nasional Indonesia (SNI).

“Kerjasama tersebut dapat dilakukan dengan mengedukasi masyarakat untuk memilih batik yang sudah ber-SNI karena lebih terjamin dari segi kualitas,” kata Kepala Balai Besar Kerajinan dan Batik, Isananto Winursito, dalam siaran persnya, Selasa (7/2/2017).

Peran UNS untuk lebih mengenalkan UMKM bersertifikat SNI pada segenap civitas akademika UNS dan masyarakat umum.

“Sehingga produk lokal tak hanya berjaya di pasar domestik namun juga mampu menguasai pasar global,” imbuhnya.

Batik Mahkota Laweyan merupakan UMKM produsen batik tulis dari kota Surakarta yang telah mendapatkan sertifikat produk SNI.

Dengan sertifikat tersebut, Batik Mahkota Laweyan memiliki beberapa kelebihan, diantaranya kekuatan kain yang telah sesuai standard.

Kemudian warna kain yang tidak mudah luntur, dan proses produksi yang telah tertata dengan baik.

“Diharapkan kelebihan tersebut dapat menjadi nilai tambah di mata para konsumen dalam membeli batik,” katanya.

Batik Mahkota Laweyan memproduksi batik dalam bentuk kain, pakaian, perlengkapan interior, lukisan dan juga kerajinan tangan.

Selain dapat menyaksikan proses pembuatannya, pengunjung Batik Mahkota Laweyan juga dapat mengikuti workshop pelatihan batik untuk mempelajari jenis-jenis batik dari koleksi terdahulu.

Untuk memaksimalkan potensi tersebut, BSN memberikan pembinaan pada UMKM untuk mendapatkan sertifikat SNI dan untuk dapat bersaing dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Selain itu, dukungan dari pemerintah daerah dan pihak terkait juga diperlukan untuk perkembangan UMKM.
Sumber : tribunnews.com