Diberdayakan oleh Blogger.

Seharag Batik

Tokoh Batik

The Latest

Batik Budaya INDONESIA Yang Melegenda
Batik Budaya INDONESIA Yang Melegenda
Batik Semarang - Batik berasal dari bahasa Jawa “amba” yang berarti menulis dan “nitik” atau “Mbatik” berarti “mbabate teko sitik” artinya mengerjakannya sedikit demi sedikit sehingga membatik membutuhkan kesabaran luar biasa. Konvensi batik Internasional di Yogyakarta pada tahun 1997 menyepakati bahwa definisi batik adalah proses penulisan gambar atau ragam hias pada media apapun dengan menggunakan lilin batik (wax) sebagai alat perintang warna.

Jadi, bilamana proses mbatik di kain tanpa menggunakan lilin batik maka kain batik tersebut tidak bisa diistilahkan sebagai batik, namun dikatakan sebagai tekstil bermotif batik.

Jenis Batik Indonesia

Batik Tulis (hand Drawn Batik), yaitu buatan tangan dengan alat canting yang berisi lilin batik (malam). Pembuatab batik ini per helai kain memakan waktu 2-3 bulan. Bahkan bisa 3-6 bulan untuk batik tulis halus.

Batik Cap (hand Stamp Batik), yaitu proses pembuatan kain batik dengan menggunakan alat cap/stamp (biasanya berbahan tembaga). Waktu yang dibutuhkan relatif singkat, yaitu sekitar 1- 3 minggu untuk sehelai kain batik cap.

Batik Printing Ini sebenarnya tidak termasuk batik karena tidak sesuai dengan definisi batik pada konvensi batik. Biasanya batik ini adalah produksi pabrikan dan diproduksi secara massal.

Motif dan Falsafah Batik Indonesia

Bagian terpenting dari batik sehingga dianggap menjadi warisan budaya bangsa Indonesia adalah bahwa di setiap motif batik mengandung falsafah budaya asli bangsa Indonesia.

Selain motif-motif diatas, terdapat juga motif-motif lain yang merupakan ciri khas suatu daerah, misalnya motif Megamendung dari Cirebon, motif Bunga Teluki dari Indramayu. Dan masih banyak motif-motif batik yang lain.  Saat ini terlihat semakin banyak masyarakat yang memakai pakaian dengan bahan Batik untuk bekerja, ke sekolah atau ke tempat pernikahan. Batik telah diakui oleh United Nation Educational, Scientific and Culture Organization (UNESCO), setelah resmi diakui sebagai warisan budaya bangsa Indonesia, masyarakat Indonesia juga turut menjaga kebudayaan Indonesia yang lain bukan hanya batik saja.
Batik Semarang - Boleh dibilang pasti hampir semua orang punya batik. Ya, minimal pasti punya kemeja batik buat kondangan dan pesta. Tapi yakin pasti enggak banyak yang tahu tentang sejarah batik di Indonesia. Di sini saya mau berbagi informasi tentang batik agar kita dan saya akan selalu terus bangga dan melestarikan batik.

Batik telah lama hadir di Nusantara sejak dulu kala. Disadari atau tidak, tradisi ini telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam setiap denyut kehidupan manusia Indonesia. Sejak lahir kalau ada yang berasal dari Jawa sudah dikainkan oleh batik, juga selama hidup dan berkarya, hingga meninggalkan alam dunia yang fana.

Batik adalah sebuah tradisi melukis di atas kain asli Indonesia. Kain-kain yang digambar dengan aneka motif unik dan khas itu kemudian dikreasikan dalam berbagai rupa dan fungsi, serta digunakan oleh masyarakat. Motif yang muncul pada kain tersebut dibuat dengan cara dilukis dengan menggunakan canting dengan teknik pewarnaan yang menggunakan bahan alami.

Keberadaan batik di Indonesia memiliki kisah yang panjang. Tradisi batik diperkirakan muncul di Nusantara, khususnya Jawa, pada masa kerajaan Majapahit atau abad ke-12. Hal itu ditandai dengan ditemukannya arca Prajnaparamita (Dewi Kebijaksanaan) di Jawa Timur abad ke-13. Pada arca tersebut digambarkan bahwa Sang Dewi mengenakan kain yang dihiasi dengan motif sulur tumbuhan dan bunga, motif yang masih dijumpai hingga sekarang.

Tak hanya di Jawa, batik sesungguhnya juga dijumpai di daerah lain di Tanah Air, seperti Sumatera, Bali, Sulawesi, hingga Papua. Seperti halnya di Jawa, setiap batik memiliki ciri khas masing-masing yang unik dan punya sejarah yang panjang.

Pada 1817 batik mulai dikenal di Eropa seiring dengan terbitnya buku History of Java, karya Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Inggris yang pernah bertugas di Jawa, yang di dalamnya terdapat kisahkan tentang batik. Kemudian pada 1873, seorang saudagar menyumbangkan batik Jawa ke Museum Etnik di Rotterdam, yang didapatkannya saat berkunjung ke Tanah Jawa.

Pada batik tulis, motif dan corak batik yang terdapat pada kain dibuat dengan menggunakan tangan dengan bantuan canting. Sementara pada batik cap, motif dibuat dengan cara dicap atau dengan alat cetak yang terbuat dari lempengan tembaga. Sedangkan batik lukis adalah proses pembuatan batik dengan cara langsung melukis pada kain putih.

Teknik pembuatan batik tersebut turut mempengaruhi waktu dalam pembuatannya. Untuk batik tulis, misalnya, batik ini memerlukan waktu pembuatan antara 2 hingga 3 bulan. Sedangkan untuk batik cap, waktunya lebih cepat, dimana hanya sekitar 2 sampai 3 hari saja.

Motif atau corak maupun warna yang terdapat pada batik juga sangat beragam. Secara umum, batik yang dibuat oleh komunitas atau warga yang hidup di daerah pesisir memiliki motif khas yang cenderung bersifat naturalis dan warna yang cerah sebagaimana yang nampak pada batik Cirebon atau Pekalongan. Sedangkan, pada batik Jogja atau Solo, warna cenderung gelap, cokelat, hitam atau kuning dan motifnya lebih bersifat abstrak.

Motif batik biasanya diwariskan secara turun temurun dan memiliki makna tersendiri. Ada pula motif yang menunjukkan status seseorang. Pada motif parang, misalnya, motif ini merupakan motif yang biasa digunakan oleh kalangan ningrat atau bangsawan di Jawa. Kain batik yang dibuat pada umumnya berupa produk yang berkaitan dengan busana. Selain berupa kain panjang, batik juga muncul dalam bentuk lain, seperti blangkon, ikat dan kain gendongan untuk anak.

Sampai dengan awal abad 21, batik masih kental dengan nuansa konservatif. Walau ada upaya untuk memperkenalkan batik lebih luas lagi, hasilnya masih belum sesuai harapan.

Tapi kondisinya mulai berubah sejak tahun 2009. Pamor batik jadi lebih bersinar dan makin banyak kalangan, terutama kaum muda, yang antusias mengenakan batik. Generasi muda penerus batik, biasanya ibunya masih membatik, anaknya yang masih kecil ikut tertarik belajar untuk membatik juga.

Kondisi ini tak lepas dari momentum diresmikannya batik sebagai “Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity” (Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi) oleh UNESCO. Berangkat dari momentum itu pula, pemerintah kemudian menetapkan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional. Imbauan Pemerintah kepada kalangan perusahaan swasta agar segenap karyawannya mengenakan batik sekali dalam seminggu pun mendapat sambutan yang sangat positif.

Selain itu, ada hal lain yang cukup membanggakan seiring dengan makin tingginya kesadaran akan berharganya nilai batik, yaitu dengan ditemukannya metode modern oleh komunitas pencinta batik, yang kemudian dikenal dengan batik faktal. Dengan metode baru ini, motif-motif batik Nusantara dapat didokumentasikan dan membuat para perajin batik khususnya dapat berkreasi lebih luas lagi.

Kini produk batik yang muncul pun makin bervariasi. Tak lagi sebatas pada busana kebaya atau kemeja pria, batik juga muncul dalam aneka produk atau aksesoris, seperti aneka tas hingga alas kaki (sandal atau sepatu). Adanya pengakuan dari lembaga internasional menjadi bukti bahwa batik merupakan sebuah karya agung masyarakat Indonesia yang sarat akan nilai-nilai luhur dan patut dilestarikan. Karenanya, sudah sepatutnya bila batik mendapatkan apresiasi dan dilestarikan serta bermanfaat bagi generasi yang akan datang.
Istilah Batik Pertama Kali Berasal dari Bahasa Melayu,
Istilah Batik Pertama Kali Berasal dari Bahasa Melayu


Batik Semarang - Diperkirakan, tradisi batik berawal di sekitar abad-abad ke-10, meskipun sulit melacak pastinya. Apalagi kata batik tidak ditemukan dalam bahasa Sansekerta atau Jawa kuno, bahasa mayoritas waktu itu. Ada dugaan kata batik berasal dari kata Melayu kuno tik yang berarti titik. Kain batik pada awalnya memang adalah kain yang dihiasi dengan gambar yang dibuat dari garis-garis dan titik-titik.

Dalam buku karangan Pepin Van Roojen dijelaskan “Batik” is originally an Indonesian-Malay word (Bahasa Indonesia and bahasa Malaysia, the official languanges of Indonesia and Malaysia are structurally very similar) - Batik Design, pg. 10-.Batik itu bahasa Melayu
Sumber

Melihat dan Menghargai Proses Membatik, Tips Batik, Info Batik, Pola Batik, Desain Batik, Belanja Batik, Batik Semarang, Batik Jayakarta,
Melihat dan Menghargai Proses Membatik
Batik Semarang -  Sebagai kaya seni, batik memiliki proses panjang penciptaan. Terlebih proses penciptaan klasik dengan warna alami dan mengkombinasikan lebih dari dua warna dalam satu helai kain. Minimal terdapat 12 proses dalam pembuatan satu helai kain batik, seperti berikut:

1. Memotong kain. Memotong kain merupakan prosesi pertama dalam membatik. Bahan kain untuk batik (mori) masih berbentuk piece (gebokan) dipotong menurut panjang kain yang akan dibuat (misalnya untuk jarik) lalu dijahit ujungnya (dilipit) supaya benang-benang yang paling tepi tidak lepas.

2. Ngeteli. Salah satu proses tradisional yang masih kita pertahankan dalam tekhnologi membatik adalah ngeteli. Proses ini biasanya memakan waktu sampai kurang lebih 15 hari. Proses ngeteli sendiri terbagi dalam beberapa tahapan, yaitu:

a. Kain di ulami dengan minyak jarak yang telah direbus dengan costic soda

b. Dijemur dan diulemi sebanyak 2x sehari yaitu pagi dan sore

c. Hari ke 15 kain melalui proses pelorotan dengan air panas

d. Digirah/dicuci ;Prosesi tersebut bertujuan untuk menghilangkan zat-zat yang terdapat pada serat kain (kecuali sellulosa) seperti lemak dan minyak, karena lemak kapas menghalangi penyerapan zat warna

3. Nganji. Penganjian dilakukan bertujuan untuk menjaga agar susunan benang tidak berubah dan stabil sehingga malam tidak menembus serat. Dan akan mempermudah proses penghilangan malam (nglorod).

4. Ngemplongi. Ngemplongi atau pengemplongan yaitu meratakan/menghaluskan permukaan kain mori yang akan di batik dengan jalan dipukul “berulang”.

5. Nyipati. Proses nyipati merupakan prosesi awal kain sebelum pemberian pola, yaitu kain diberi garis untuk pinggiran. Tujuannya adalah sebagai batasan hiasan pada kain/batasan pola.

6. Molo/nglengkreng. Molo atau memberi pola pada kain. Pola pertama yang dipakai dalam motif ini adalah nglengkreng putihan banggede atau pola bunga besar.

7. Nerusi. Proses nerusi adalah proses penghalusan pola kain bagian dalam/belakang hingga pola yang dibuat terlihat tembus. Tujuannya adalah pola dan warna bagian depan dan belakang kain sama.

8. Medel. Medel adalah memberi warna pada kain setelah ditulis. Medel dilakukan dengan cara celupan atau mencelupkan kain pada zat warna. Dulu warna didapat dari ekstrak akar ataupun daun tumbuh-tumbuhan, namun sekarang menggunakan zat warna kimia seperti indigo sintetis dan zat warna naphtol

9. Nglorot. Proses ini disebut juga mbakar (membakar) ialah menghilangkan seluruh lilin dengan cara memasukan kain kedalam air mendidih.

10. Nyutiki. Menutup warna kain yang dikehendaki untuk kemudian ditumpangi warna lain yang dikehendaki.

11. Nemboki. Nemboki juga merupakan proses melukis kain setelah pemberian warna pertama, yaitu menutup pola warna yang sudah didapat. Canting yang digunakan adalah canting Tembokan. Jika satu warna, proses ini tidak dilakukan, namun jika lebih dari satu warna, proses ini akan diteruskan lagi dengan proses nglorot dan nyukiti

12. Lipet & ngemplongi. Prosesi terakhir, yaitu meratakan/menghaluskan permukaan kain batik yang sudah jadi dengan jalan dipukul “berulang” kemudian dilipat/dikemas untuk pemasaran.

Setiap proses dilakukan dengan teknik dan perhatian penuh, namun juga sekaligus ketulusan dan keikhlasan. Mengingat jika satu proses tidak terlewati dengan baik, maka proses selanjutnya tidak akan maksimal. Misalnya saja, jika pada proses ngeteli kain tidak dilakukan dengan maksimal, maka proses selanjutnya pola yang akan dibentuk tidak akan maksimal. Ngeteli sangat berpengaruh pada kepadatan susunan kain serta kemampuan kain menyerap warna dan malam (lilin). Begitu pula prosesi yang lainnya. Itulah mengapa proses pembuatan batik tidak bisa dipaksakan atau dipercepat jika menginginkan kualitas batik yang optimal.

Rumit dan indahnya batik inilah yang kemungkinan digunakan sebagian masyarakat sebagai petanda dan lambang kehidupan.

Lasem dan sekitarnya, daerah pesisir pantai utara (pantura) Jawa, dahulu seorang anak laki-laki mendapatkan hadiah sarung batik Lasem saat mereka khitan. Sarung batik merupakan hadiah wajib yang diberikan orang tua di pesisir pantura sekaligus bukti bahwa anak mereka telah melewati masa kanak-kanak dan memasuki masa genting kehidupan, yaitu remaja. Alhamdulillah saya masih merasakan nuansa tersebut, meskipun dulu orang tua tidak memiliki uang berlebih untuk membeli dua sarung batik Lasem (karena saya khitan berbarengan dengan adik). Tapi tetap saja beliau membelikannya, demi perlambang dan internalisasi nilai kebudayaan.

Cerita saya diatas menggambarkan batik sebagai bentuk sekaligus lambang budaya. Leluhur mengajarkan pada kami bahwa batik merupakan warisan budaya yang menandai setiap langkah perkembangan kehidupan. Anak menuju remaja (dalam khitan), remaja menuju dewasa (dalam pernikahan) dan sebagainya.

Jadi bukan hanya masalah batik merupakan seni rumit dengan proses penciptaan panjang, namun juga masalah perlambangan memasuki jenjang kehidupan. Itulah mengapa kami menghargai batik dengan harga diatas rerata harga kain lainnya. Mungkin itu sama dengan kain khas kebudayaan lain, seperti songket, tenun, rajut dan lainnya. Dari sini saja sekali lagi saya menegaskan bahwa bagi kami batik adalah karya seni dengan proses, bukan cetak, blok, apalagi sablon. Batik mengidentifikasi diri kita sebagai Indonesia, dengan mengenakannya kita telah mengIndonesia
Referensi Baru Asal Mula Batik di Indonesia, Tips Batik, Info Batik, Pola Batik, Desain Batik, Belanja Batik, Batik Semarang, Batik Jayakarta,
Referensi Baru Asal Mula Batik di Indonesia
Batik Semarang - Tanggal 30 September 2009 kemarin. UNESCO PBB memasukkan batik Indonesia dalam Daftar Representatif Budaya. Satu dari 76 seni dan tradisi yang dipilih dari 27 negara. Dari berbagai referensi, yang diakui dari batik adalah prosesnya yang menggunakan canting dan lilin, yang juga merupakan budaya yang diwariskan secara turun temurun, di berbagai tempat di Indonesia.

Presiden SBY memutuskan untuk menetapkan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik. “Sebagai syukur kita, tanggal 2 Oktober kita tetapkan sebagai Hari Batik,” himbauan Presiden ini dikatakan dalam acara perayaan ditetapkannya batik sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO di pendopo kediamannya di Puri Cikeas.

Banyak hal seputar batik. Di dunia virtual, berita hari batik nasional yang tak sampai pada pedagang batik lebih dominan. Kalau di daerah saya, himbauan presiden kurang mampu memotivasi mereka, para masyarakat untuk sekedar memakai batik pada hari itu (tadi).

Dalam beberapa literatur sejarah, sebenarnya di Indonesia pernah dikembangkan batik yang dibuat dengan teknik wax-resist dyeing. Cikal bakal batik dapat ditelusuri dari kain simbut dari Banten dan kain Ma’a dari Toraja di Sulawesi Selatan yang memakai bubur nasi sebagai perintang warna.

Konon batik ini diperkenalkan oleh orang India, pada saat Raja Lembu Amiluhur menikahkan putranya dengan putri India, sekitar tahun 700. Dalam bagian lainnya, disebutkan kalau batik dalam bentuk yang lebih primitif justru sudah dimiliki oleh orang Toraja, Sulawesi Selatan (Heringa (1996).

Warna khas batik Toraja adalah hitam, merah, putih dan kuning. Untuk warna kombinasi setelah kain dicap, kemudian di celup dengan pewarna dan selanjutnya beberapa garis motif ditutup dengan warna yang berbeda,”ungkap Arfol.

Lantas kenapa batik Toraja tidak terlalu me-nasional. Oleh para pakar sejarah mengatakan posisi geografis Toraja terisolasi di pegunungan, menjadi penyebab utamanya. Para ahli menduga kemungkinan besar batik itu asli dari Tana Toraja, sebagaimana sejarah batik Jawa yang ditengarai dikenalkan pada jaman Raja Lembu Amiluhur (Jenggala). Hal ini juga memunculkan teori, kalau batik pertama Indonesia asalnya dari Toraja.

Benar tidaknya, referensi tersebut. Tulisan ini setidaknya menambah hiruk pikuk memperingati hari batik nasional. Secara pribadi, penulis berharap, bukan Cuma batik yang masuk dalam daftar representatif budaya, tapi juga hal lainya.

Menjadikan Batik sebagai Gaya Hidup Masa Kini, Tips Batik, Info Batik, Pola Batik, Desain Batik, Belanja Batik, Batik Semarang, Batik Jayakarta,
Menjadikan Batik sebagai Gaya Hidup Masa Kini
Batik Semarang - Saat ini siapa yang tidak mengenal Batik Indonesia atau yang biasa disebut sebagai Batik Nusantara. Satu maha karya dan warisan dari leluhur yang usianya sangat tua ini telah mendunia. Bahkan beberapa hari yang lalu dalam prosesi pelantikan menteri Kabinet Jokowi – JK semua mengenakan batik.

Batik telah mendobrak paradigm lama yang biasanya seremonial nasional mengenakan setelan jas lengkap dengan dasi. Batik telah menjadi ikon bangsa dan Presiden Jokowi berambisi untuk lebih memperkenalkan batik ke dunia internasional.

Batik bukan hanya produk asli Indonesia yang indah secara estetika. Tapi di dalamnya terkandung makna dan filosofis yang sangat tinggi. Bukan hanya itu saja tapi batik memiliki ciri khas masing-masing yang melambangkan asal daerah dan strata social dimana batik tersebut berasal.

Batik itu sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berasal dari dua suku kata yakni ‘amba’ atau menulis dan ‘nitik’ atau titik. Jadi secara sederhana batik itu adalah buah karya dari menulis dan menitik.

Dalam proses pembuatannya kini selain dengan cara konvensional atau dengan alat canting kini marak metode pembauatan batik dengan teknik cap. Sedang bahan dasar pembuatnya tetap dengan menggunakan malam atau wax.

Keunikan batik asli ini hanya bisa dibuat pada kain yang berasal dari serat alami semisal katun sutra atau wol. Batik original tidak bisa diberlakukan atau tidak lazim dibuat pada produk berbahan polyster atau serat buatan. Namun, untuk memenuhi kebutuhan pasar kini marak beredar batik tiruan yang bisa diproduksi dalam jumlah besar dengan waktu yang sangat cepat.

Perlu diketahui bahwa batik Indonesia adalah salah satu seni menggambar yang tertua di dunia. Jadi apa yang terpola dalam sebuah kain memiliki makna yang sangat mendalam. Bukan hanya itu saja, ada beberapa jenis batik yang hanya diperbolehkan dipakai pada saat tertentu dan oleh kalangan tertentu.

Khusus di Jawa batik dibedakan menjadi dua yakni batik kraton dan batik pesisir. Sesuai dengan namanya, batik kraton lazimnya hanya dipakai oleh mereka yang ada di lingkungan kraton. Sedang batik pesisir adalah batik yang tumbuh kembang di luar batik kraton.

Batik kraton lebih sarat nilai akan falsafah kehidupan. Sedang motif atau pola batik pesisir banyak dipengaruhi faktor interaksi dengan lingkungan pasar atau komoditas barang dagangan.

Seiring perkembangan jaman kini batik telah disesuikan dengan perkembangan budaya setempat. Berbagai macam pakaian saat ini telah banyak dibuat dengan bahan dasar batik. Batik yang dulunya bersifat kaku dan sakral kini telah bisa dikenakan oleh seluruh kalangan dari balita hingga yang tua. Batik bisa disulap untuk berbagai macam kegiatan mulai dari yang resmi hingga yang santai.

Bahkan banyak desainer muda yang memfokuskan diri untuk menciptakan berbagai produk dengan bahan dasar batik. Menjadikan salah satu kekayaan bangsa ini menjadi sesuatu yang dicinta oleh semua anak bangsa.
Melestarikan Budaya Bangsa dengan Memakai Batik, Tips Batik, Info Batik, Pola Batik, Desain Batik, Belanja Batik, Batik Semarang, Batik Jayakarta,
Melestarikan Budaya Bangsa dengan Memakai Batik
Batik Semarang - Batik merupakan kebudayaan khas bangsa Indonesia yang sudah ada sejak masa kerajaan majapahit. Meluasnya kesenian batik menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Batik yang dihasilkan ialah batik tulis sampai awal abad XX dan batik cap dikenal baru setelah usai Perang Dunia I atau sekitar 1920.

Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.

Lama-lama kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga kraton, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria.

Batik pertama kali diperkenalkan kepada dunia dan dipopulerkan oleh Presiden Soeharto yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB. Langkah pemerintah menetapkan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional terkait pengakuan dunia ter­hadap batik sebagai bagian dari budaya negeri ini. Sekarang tinggal kita mensupport dan menunjukkan kebanggaan kita terhadap batik. Untuk menjaga sebuah kelestarian batik, maka ada dua hal yang paling penting adalah animo masyarakat dan pelaku batik itu sendiri. Animo masyarakat adalah hal yang wajib dipelihara jika ingin batik tetap lestari. Begitu juga dengan pelaku batik itu sendiri kedua-duanya harus saling ketergantungan. Sebagai masyarakat umum kita hendaknya dapat mengambil nilai-nilai batik yang sesungguhnya, karena nilai-nilai etika dan estetika dari maha karya batik inilah yang wajib kita lestarikan. Bukan hanya sekadar batik sebagai simbol saja, karna yang beginilah secara jangka panjang akan menjadi batik tradisional yang telah turun-temurun diwariskan oleh para leluhur kita. Teknik-teknik pembuatan batik di berbagai daerah di Indonesia pun juga beragam teknik pengerjaannya,namun dari yang beragam tersebut bisa kita pahami seberapa besar bangsa ini menghasilkan maha karya yang mendunia.

Selama ini kita sering menyimak iklan maupun jargon dari pemerintah yang menyerukan agar lebih mencintai batik. Bahkan dibuat beberapa acara khusus untuk menumbuhkan kecintaan batik. Batik tentu harus dianggap sebagai barang istimewa. Apalagi setelah badan kebudayaan PBB UNESCO mengukuhkan batik sebagai warisan budaya Indonesia.

Kebanyakan dari kaum muda tidak ingin memakai baju batik karena menganggap batik itu budaya jadul, keting­galan jaman, kolot dan lain sebagainya. Namun jika desainer baju sudah bertindak dan bisa memodifikasi sedemikian rupa, maka baju batik tidak lagi ketinggalan zaman namun malah bisa menjadi trend yang tak kalah dengan trend baju dari bangsa lain. Sekarang ini sudah banyak pakaian model batik yang bisa anda temui di pasaran Indonesia. Beragam pakaian batik tersebar luas di pasaran dengan harga yang bervariasi dan dengan motif yang beragam.

Batik merupakan  budaya  bangsa yang harus kita lestarikan keberadaannya. Banyak bangsa lain yang ingin merebut batik dari Indonesia. Jika kita tidak melestarikannya, mungkin budaya yang sangat kental dengan unsur seni dan estetika ini akan hilang dengan cepat dan anak cucu kita tidak bisa lagi melihat batik sebagai karya bangsa.

Batik, Mahakarya Anak Bangsa yang Agung, Tips Batik, Info Batik, Pola Batik, Desain Batik, Belanja Batik, Batik Semarang, Batik Jayakarta,
Batik, Mahakarya Anak Bangsa yang Agung
Batik Semarang - Hari batik nasional adalah moment, dimana kita diingatkan oleh satu karya anak bangsa yang agung nan elegan, yaitu Batik.

Batik bukan hanya soal sulam-menyulam ataupun soal jahit-menjahit, tapi Batik adalah soal dimana kita belajar untuk menjaga tradisi dan warisan budaya yang cukup agung.

Negara Indonesia sangatlah beruntung mempunyai pakaian tradisional yang mode atau style-nya bisa di sejajarkan dengan mode dari fashion dunia. Apalagi pakaian batik bisa dipakai dimanapun dan kapanpun, elegan bukan ?? Hehe..

Untuk modelnya sendiri, saya kira batik lebih unggul dari pakaian-pakaian tradisional manapun, baik itu pakaian negara eropa, cina, jepang, india, Timur tengah, dll. Karena pakaian tradisional mereka “seakan-akan tidak nyeh di mata saja” ketika dipakai untuk hal-hal yang berbau formal. Terkesan seperti pakaian tradisional yang dipakai untuk hari-hari tertentu saja.

Di Tunisia sendiri ada pakaian khas, dan pakaian itu dipakai pada moment-moment tertentu saja. Ciri-cirinya: topi merah sama pakaian yang berwarna agak putih kekuning-kuningan, terlihat seperti jubah (gamis) tapi panjangnya sampai di atas lutut disertai celana panjang berwarna putih. Sampai sekarang masyarakat yang memakai pakaian itu bisa kita temui di acara pernikahan, pengajian, sama hari besar lainya.

Tapi batik sendiri bisa kita pakai di acara pernikahan, pengajian, hari-hari besar, di sekolah, di kantor, di pertemuan, di rapat, dan di di di di lainya. Apalagi kalau kita memakai batik, terlihat seperti anggun (untuk perempuan) dan style untuk laki-laki. (pokonya Mahabrata banget, hehe..)

Batik Indonesia juga bukan miliknya kota pekalongan saja, kota solo punya corak batik sendiri, di papua punya khas tersendiri, di Minang punya ciri sendiri, Cirebon dengan batik mega mendungnya, begitu juga jogja, dll. Coraknya yang beragam menandakan bangsa kita punya tradisi sulam-menyulam yang tinggi.

Gusdur adalah salah satu tokoh Indonesia sekaliber international, ia tidak sungkan-sungkan memakai batik di acara international. Ia seakan-akan memberikan gambaran publik bahwa –iniloh pakaian khas indonesia– dan memberikan makna tersirat yang menandakan bangsa kita punya tradisi jahit-menjahit nan elegan, esklusif, dan modis, “Tidak terikat tempat dan waktu”.

Setelah resmi ditetapkan dunia dan pemerintah kita sendiri. Kini keberadaan batik terus menjadi sorot pandang masyarakat luas, berbondong orang ingin belajar mem-batik dan memakai batik.

Salah satu majunya peradaban bangsa bisa dilihat dari ‘bagaimana bangsa tersebut menciptakan mahakarya yang kelak dikenang sampai ratusan bahkan milenia tahun’ dan batik adalah salah satunya.

Pyramide, Menara eiffel, Taj mahal, Tembok raksasa cina, Colloseum, dan masih banyak lagi adalah salah satu contoh bahwa bangsa mereka dulunya adalah bangsa yang kuat, punya peradaban tinggi, dan tentunya kuat juga secara garis politik.

Masyarakat Indonesia patut bersyukur telah dititipkan Batik oleh nenek moyang kita. Reintrepetasi maknanya adalah kita disuruh untuk menjaga tradisi kita, dan mempopulerkan pakaian batik ini.

Semoga di hari Batik ini, kita semua tidak termasuk dari orang orang yang tercerabut akar budaya kita. Wallahu a’lam

Batik Tulis Ekspresif yang Eksklusif, Tips Batik, Info Batik, Pola Batik, Desain Batik, Belanja Batik, Batik Semarang, Batik Jayakarta,
Batik Tulis Ekspresif yang Eksklusif
Batik Semarang - Mendahulukan keluarga dibandingkan pekerjaan adalah suatu hal yang penting untuk Astri Lazauardhini. Ia yakin, bahwa ia masih dapat bekerja dengan memulai wirausaha.

Kelinglungan tidak berhenti menghampiri Astri, ia merasa ia tidak memiliki suatu bakat tertentu untuk memulai bisnis wirausaha. Akhirnya, berbekal modal pas-pasan dan pengetahuan yang minum, Astri memutuskan untuk memproduksi batik dengan motif yang lebih modern. Ia merasa bahwa konsumen batik hanya didominasi oleh masyarakat berumur sekitar 40 tahun, pemakaian batik juga terbatas ke acara-acara khusus saja. Untuk itulah, Astri mengkolaborasikan batik tulis dengan tenun.

Usaha batik modern dari Sidoarjo atau batik tulis Kunto ini, ia ekspresikan dnegan menghilangkan motif titik-titik pada kain batik dan menonjolkan motif utama dengan gambar besar. Astri pun menciptakan motif-motif baru yang lebih beragam, sehingga tidak terpaku dengan motif tradisional dan tidak terkesan jadul. Ia juga memperhatikan teknik pewarnaan kain batik dengan bahan alam agar menghasilkan warna yang menarik.

Perubahan selera pasar pun membawanya untuk menciptakan keeksklusifan dari produknya dengan hanya menciptakan satu motif kain batik pada satu produk.

Astri ingin bahwa usahanya ini dapat dikenal oleh banyak orang di seluruh penjuru dunia, untuk itulah ia tidak malu untuk menawarkan produknya secara perseorangan. Ia pun memberanikan diri untuk melakukan perluasan pasar hingga mancanegara dengan mengikuti pameran-pameran yang ada. Ia bahkan tidak merasa canggung untuk mengangkat barang-barangnya sendiri, maupun berbagi kamar hotel dengan peserta lainnya. Ia tidak mampu untuk membawa sekretaris, karena semua biaya yang harus ditanggung sendiri.

Baru setelah tahun 2005, pesanan batik tulis mengalir kepadanya. Sekarang, tidak kurang dari 30 pengrajin batik tulis membantu Astri mengerjakan pesanan yang datang dari kota-kota di Tanah Air dan mancanegara.

Berjuang di tengah keterbatasannya, Astri, merupakan cerminan dari sosok Mutiara Bangsa BerHasanah. Walau bermodal pas-pasan, ia rela berjuang untuk mengikuti pameran di luar negeri demi mencapai pangsa pasar yang lebih luas. Bukan hanya untuk menjadi sukses, namun ia juga membuka lapangan pekerjaan bagi orang-orang di sekitarnya.
 “Menjadi Indonesia” dengan Batik Setiap Hari, Tips Batik, Info Batik, Pola Batik, Desain Batik, Belanja Batik, Batik Semarang, Batik Jayakarta,
“Menjadi Indonesia” dengan Batik Setiap Hari
Batik Semarang - Tak cukup ribuan kata untuk melukiskan batik. Apalagi batik Indonesia adalah sebuah warisan budaya yang agung. Apapun corak dan motif batik, di dalamnya ada cerita tentang unsur asli bangsa Indonesia yang menarik. Cerita tentang keindahan, filsafat, budi pekerti dan banyak hal lagi.

Batik lebih dari sekadar artefak hasil kreasi pendahulu kita. Akan tetapi sebuah karya universal tentang bangsa Indonesia. Dilihat saja batik sudah sangat menarik apalagi jika mampu menyerap lapis demi lapis makna di dalamnya.

Oleh karena itu ketika UNESCO menetapkan batik sebagai Warisan Budaya Dunia (World Heritage) dari Indonesia pada 2 Oktober 2009, sudah sepantasnya kita merasa bangga dan bahagia. Namun itu bukan berarti kita bisa puas dan berlega hati karena yang harus kita lakukan selanjutnya adalah melestarikan batik secara terus menerus.

Melestarikan bukanlah sesuatu yang bermakna sempit dan terbatas pada pengertian “menjaga”. Akan tetapi juga “memberi perhatian” dengan mengenal, mengapresiasi mengkaji dan memasyarakatkan batik agar “abadi” dan “terawat” sepanjang masa. Memang tidak mudah untuk mencintai hasil kebudayaan yang sebelumnya identik dengan golongan ningrat dan kaum tua. Batik pernah mendapat cap seperti itu. Apalagi ada anggapan yang berkembang sejak lama bahwa untuk mengenakan batik seseorang juga perlu untuk memamahi makna dari corak batik.

Untuk melestarikan batik kita tidak harus menjadi seseorang yang mengenal sangat dalam makna dari corak batik. Mempelajari batik memang penting tapi sebelum itu ada hal yang penting dilakukan untuk mulai melestarikan batik yakni dengan “mendekati” batik lebih dulu. Salag satu cara terbaik dan paling mudah untuk mulai mendekati batik adalah mengenakan batik sebagai pakaian sehari-hari.

Saya mungkin termasuk salah satu yang terlambat mengenal batik. Saya baru benar-benar “mendekati” batik di akhir tahun 2010. Kemeja batik berwarna coklat pemberian Ibu saat itu adalah kemeja batik pertama saya. Semenjak saat itulah saya mulai suka mengenakan batik.

Kini kemeja batik itu sudah terlalu kecil untuk saya kenakan dan hanya disimpan di rumah. Namun berkat kemeja tersebut saya akhirnya menjadi sangat menyukai kemeja batik. Saat ini 5 hari dalam 1 minggu saya selalu mengenakan kemeja batik untuk menemani aktivitas keseharian.

Ada beberapa kemeja batik yang kebanyakan berlengan panjang. Saya memang lebih menyukai pakaian lengan panjang. Hanya ada 2 kemeja batik saya yang berlengan pendek dan itu pun lebih sering digunakan sebagai “pakaian dalam” ketika mengenakan sweater.

Dari beberapa kemeja batik yang saya miliki, hampir semuanya dibuat oleh penjahit langganan. Hanya ada 3 kemeja batik yang saya beli di toko. Sejak dulu saya memang lebih banyak mengenakan pakaian yang dijahit atas pesanan sendiri daripada membelinya di toko. Sebagai konsekuensinya di rumah saya dan orang tua memiliki stok kain batik beraneka corak dan motif yang bisa dijahit kapan saja menjadi pakaian. Bulan lalu saya baru saja menjahit sebuah kemeja batik berwarna hijau dengan motif dedaunan. Penjahit langganan mengerjakan kemeja batik saya itu dalam waktu 3 hari.

Memang dengan membeli bahan dan menjahitnya sendiri di penjahit membuat biaya setiap kemeja batik menjadi sedikit lebih mahal dibanding dengan membeli kemeja jadi di toko. Tapi bagi saya rasa bangga dan nyaman mengenakan pakaian bercorak batik adalah pengalaman yang lebih menyenangkan.

Ada 5 kemeja batik favorit yang bisa leluasa saya pilih untuk dikenakan secara bergantian setiap hari dalam satu Minggu. Biasanya di hari Senin saya mengenakan batik yang berwarna hitam dengan motif bunga berwarna merah atau kemeja batik berwarna coklat gelap dengan motif parang kuning keemasan. Lalu di hari Selasa saat saya cuap-cuap tentang tumbuhan, maka saya akan mengenakan kemeja batik berwana hijau dengan motif dedaunan. Hari-hari berikutnya saya lebih fleksibel mengenakan kemeja batik lainnya. Jika pagi dirasa terlalu dingin saya akan menggunakan kemeja batik berlengan pendek untuk dirangkap dengan sweater.

Bagi saya mengenakan batik setiap hari adalah cara untuk mengapresiasi dan mendekati batik dengan segala makna yang terkandung di dalamnya. Tak mengapa gaya berpakaian saya terkesan itu-itu saja. Bahkan saudara-saudara sayapun kerap mengkritik gaya berpakaian saya yang terlalu sering terlihat menggunakan batik bahkan ketika sedang bersantai di dalam rumah. Begitu nyamannya menggunakan batik memang membuat saya sering lupa untuk segera berganti pakaian.

Dengan mengenakan batik setiap hari saya merasa tak pernah kehabisan alasan untuk bangga dengan Indonesia. Melalui batik saya selalu bisa menemukan Indonesia. Dari mengenakan batik setiap hari itulah saya merasa “menjadi Indonesia”. Ada rasa sayang jika kemeja itu rusak atau harus ditanggalkan karena sudah kekecilan. Sebaliknya ada rasa percaya diri setiap kali mengenakan kemeja batik. Apalagi beberapa kemeja batik yang saya miliki memiliki model dan corak yang mewakili sebagian kepribadian diri saya, mulai dari yang berwarna gelap hingga yang bercorak bunga dan dedaunan.

Semoga Hari Batik yang diperingati setiap tanggal 2 Oktober seperti hari ini bisa menginspirasi dan melahirkan berjuta-juta ide untuk mengapresiasi dan merawat batik. Tindakan-tindakan sederhana yang nyata seperti mengenakan batik adalah satu cara untuk melestarikan batik.  Mengenakan batik adalah salah satu cara untuk “Menjadi Indonesia”. Selamat Hari Batik.

Batik Warisan Budaya Dunia, Tips Batik, Info Batik, Pola Batik, Desain Batik, Belanja Batik, Batik Semarang, Batik Jayakarta,
Batik Warisan Budaya Dunia
Batik Semarang - Siapa yang tak kenal batik? Bisa dikatakan hampir semua orang Indonesia mengenal batik, bahkan orang asing sekalipun sudah tak asing dengan batik. Batik kini tak dipungkiri telah menjadi bagian penting dari keberadaan bangsa Indonesia di percaturan global, sebagai sebuah karya adiluhung anak bangsa di bidang budaya. Menghargai karya bangsa sendiri adalah kewajiban kita semua sebagai perwujudan rasa cinta tanah air dan nasionalisme. Di negeri ini sebetulnya banyak hal yang dapat menumbuhkan rasa bangga kita menjadi orang Indonesia, termasuk batik.

Secara etimologi dan terminologi, batik merupakan rangkaian kata mbat dan tik. Mbat dalam bahasa Jawa diartikan sebagai ngembat atau melempar berkali-kali, sedangkan tik berasal dari kata titik. Jadi, membatik berarti melempar titik-titik berkali-kali pada kain, sehingga akhirnya bentuk titik tersebut berhimpitan menjadi bentuk garis. Selain itu, batik juga berasal dari kata mbat yang merupakan kependekan dari kata membuat, sedangkan tik adalah titik. Ada juga yang berpendapat bahwa batik berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa amba yang bermakna menulis dan titik yang bermakna titik.

Batik adalah warisan budaya bagi bangsa Indonesia yang sudah mendunia. Sebagai ahli waris kita berkewajiban untuk menjaga, merawat, melestarikan dan mengembangkan batik sebagai sebuah ikon budaya bangsa.

Sekilas Sejarah Batik

Batik sudah ada sejak zaman Majapahit dan amat populer pada abad 18 atau awal abad 19. Hingga abad 20, semua batik yang dihasilkan adalah batik tulis, baru setelah perang dunia pertama batik cap diperkenalkan. Konon, meskipun kata batik berasal dari bahasa Jawa, namum kehadiran awal batik di tanah Jawa tidaklah tercatat. Ada yang berpendapat bahwa teknik batik kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke-6 atau ke-7. Dalam hal ini, masih banyak kesimpangsiuran mengenai asal batik Indonesia. Bahkan, sebagian ahli berpendapat bahwa batik berasal dari daratan Cina. Namun, apapun itu tidaklah penting, kenyataannya dewasa ini batik diakui adalah sebagai karya bangsa Indonesia. Perkembangan batik yang begitu pesat tidak terdapat di manapun, kecuali di Indonesia sebagai pusatnya.

Batik merupakan kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja di Indonesia. Konon, pada awalnya batik memang dikerjakan hanya terbatas dalam keraton, untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Bahkah hingga sekarang ada motif-motif batik tertentu yang tidak boleh digunakan untuk masyarakat umum, tapi khusus untuk keluarga kerajaan.

Oleh karena banyak pengikut raja yang tinggal di luar keraton, maka kesenian batikpun mereka bawa keluar keraton dan dikerjakan di tempat masing-masing. Akhirnya pembuatan batik ditiru oleh rakyat setempat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan, utamanya kaum wanita dalam rumah tangga, lantas menjadi pakaian rakyat yang digemari oleh wanita dan pria.

Pada awal keberadaannya, motif batik terbentuk dari simbol-simbol yang bermakna, bernuansa tradisional Jawa, Islami, Hinduisme, dan Budhisme. Dalam perkembangannya, batik diperkaya oleh nuansa budaya lain seperti Cina dan Eropa modern.

Dewasa ini batik telah berkembang menjadi produk tekstil dengan beragam corak dan model, sesuai dengan perkembangan dan permintaan pasar. Batik kini telah menjadi pakaian nasional, bahkan pakaian resmi Indonesia. Pada awalnya batik kerap dikenakan pada acara-acara resmi untuk menggantikan jas. Tetapi dalam perkembangannya batik juga dipakai sebagai pakaian resmi sekolah dan pegawai negeri. Perkembangan selanjutnya batik bergeser menjadi pakaian sehari-hari yang bisa dipakai oleh semua kalangan, baik untuk seragam kerja atau acara-acara lain.

Warisan Budaya Dunia

Sebagai negara dengan kekayaan budaya yang beragam terbentang dari Sabang hingga Merauke, Indonesia sudah selayaknya menjaga kekayaan tersebut menjadi aset nasional yang diakui keberadaannya oleh dunia Internasional. Menjaga kekayaan budaya tersebut amatlah penting untuk menghindari klaim-klaim dari pihak lain yang tidak berhak. Beberapa budaya Indonesia telah diakui sebagai warisan budaya dunia, salah satu adalah batik.

Keputusan bahwa batik diakui sebagai salah satu warisan budaya dunia yang dimiliki oleh Indonesia, telah dikuatkan oleh keputusan ENESCO yang menyatakan bahwa batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non Bendawi(Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak Oktober 2009.

Dengan diakuinya batik sebagai warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia, maka secara otomatis batik adalah identik dengan Indonesia. Artinya tidak ada lagi pihak lain yang berhak mengakui batik sebagai budaya mereka. Sehinga bisa dikatakan, jika berbicara mengenai batik, orang akan merujuk ke Indonesia sebagai akar dan pemilik dari budaya adiluhung ini. Tugas kita sebagai anak bangsa adalah menjaga, melestarikan dan mengembangkan menjadi aset nasional yang memberi nilai tambah bagi keberlangsungan pembangunan nasional, utamanya, sebagai pelaku wisata, dunia pariwisata.

Batik dan modernitas

Perkembangan teknologi produksi serta dinamika aspirasi konsumen membuka peluang lebar bagi para pelaku industri untuk berupaya seoptimal mungkin memasuki pasar yang semakin terbuka. Demikian pun industri tekstil, terbuka berbagai kemungkinan bagi pembuatan produk-produk dengan keanekaragaman corak, model dan aspek fungsinya. Batik, jika ingin lebih dikenal di pasar global, maka industri batik nasional harus berupaya opitimal mempromosikan batik dalam ajang persaingan yang semakin tajam di kancah industri tekstil modern, tentu dengan tetap mempertahankan identitas bahwa batik sebagai budaya adiluhung bangsa.

Berbincang soal batik, berarti juga berbincang tentang budaya komunal, budaya lokal, bahkan budaya nasional sebuah bangsa. Batik sejak lama dikenal sebagai kreasi seni budaya yang memiliki identitas serta karakter khas sebagai hasil karya yang bernilai tradisi. Sejak dulu batik telah menjadi salah satu ungkapan budaya yang terpenting dari masyarakat (jawa), terutama dalam kontek adati, misalnya sebagai busana dan serta perangkat pendukung upacara. Karena karakter yang khas tersebut, batik tidak cukup disebut sebagai kreasi seni tapi juga mengalami kategori ketat dalam aspek estetis dan teknisnya.

Dewasa ini batik menghadapi tantangan kekinian dengan memasuki dunia industri tekstil modern dengan sifatnya yang dekoratif sekuler serta amat dinamis dalam siklus-siklus penggantiannya. Bentuk, gaya, dan corak industri tekstil modern masa kini dapat dikatakan memiliki kemungkinan gagasan-gagasan yang tidak terbatas, bahkan cenderung “liar”. Kebutuhan terhadap kain bercorak tidak selalu memerlukan corak dengan latar belakang budaya tertentu seperti batik dengan segenap kekhasannya. Industri tekstil modern, secara umum, cenderung tampil dalam variasi bentuk dan gaya yang amat luas dan bebas, yang dikendalikan oleh perkembangan berbagai konsep di bidang seni dan kendali pasar eksternal, sesuai dengan keperluan dan tuntutan masyarakat modern masa kini yang identik dengan istilah in fashion.

Menghadapi tantangan dewasa ini, industri batik nasional mesti bertindak cermat dan cerdas dalam menyiasati kondisi yang berkaitan dengan industri tekstil modern yang high fashion. Kreativitas dan inovasi memegang peran penting tatkala industri batik nasional menginginkan agar batik mampu menapaki, memasuki, dan mewarnai dunia mode masa kini dan diterima secara luas sebagai bagian dari industri tekstil modern.

Para pelaku industri batik nasional tidak dapat menolak dan menghindari akan serbuan modernitas industri tekstil masa kini. Yang harus dilakukan adalah berkreasi dan berinovasi agar bagaimana batik mampu memasuki dan mewarnai dunia mode global yang high fashion tersebut, tanpa kehilangan karakter dan kekhasan batik dengan tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional yang terkandung di dalamnya.

Batik dan Ekonomi Pariwisata

Mempromosikan batik sebagai ikon budaya kepada para wisatawan menjadi pekerjaan bersama para pekerja pariwisata nasional; pemerintah dan swasta. Bagaimana agar para wisatawan dapat mengenal batik secara langsung, baik keragaman produk jadi ataupun proses pembuatannya, terus menerus harus diupayakan untuk lebih memopulerkan batik di kalangan wisatawan. Bagi mereka yang belum mengenal batik supaya mengenal dan mengerti batik, bagi yang sudah mengenal akan lebih mengenal lagi dan diharapkan lebih menyukai serta mau membelanjakan uangnya untuk membeli batik.

Batik telah menjadi bagian tak terpisahkan dari pariwisata tanah air, ini adalah sebuah keunggulan komparatif bagi dunia pariwisata yang tentunya akan berdampak pada keuntungan secara ekonomi. Tatkala batik semakin disukai dan digemari oleh wisatawan, pertumbuhan industri batik tentu akan naik secara signifikan. Dampaknya tentu peningkatan ekonomi kerakyatan, karena batik sebagian besar merupakan industri yang melibatkan jutaan pengrajin yang notabene adalah rakyat kecil.

Dunia kini tengah memasuki era industri gelombang ke empat, yaitu industri ekonomi kreatif, sebuah era yang amat mengandalkan pada gagasan-gagasan dan ide kreatif. Bagi Indonesia ini adalah peluang sekaligus tantangan bagi peningkatan kejayaan ekonomi, mengingat bangsa ini dianugerahi berbagai ragam kekayaan potensi ekonomi kreatif berbasis seni dan budaya khas dan unik, dan batik adalah salah satunya.

Pengembangan Industri kreatif batik ditengarai memberi dua manfaat sekaligus, yakni sebagai leverage pertumbuhan ekonomi dan penguatan identitas kultural bangsa. Oleh karena itu, pengembangan ekonomi kreatif batik sebagai salah satu dari 14 komponen ekonomi kreatif, dengan melihat prospek pasar batik yang menjanjikan, harus terus ditingkatkan dan dikembangkan. Ekonomi kreatif batik juga telah berkontribusi menggerakkan ekonomi nasional dengan nilai ekspor sebesar 69 juta dollar AS. Disamping itu sebesar 99,39% dari 55.912 unit usaha yang bergerak di dalam industri batik adalah usaha mikro dan kecil, dengan konsumen batik dalam negeri lebih dari 72,86 juta orang. Saat ini penyerapan tenaga kerja industri batik sekitar 3,5 juta orang yang menyebar di berbagai wilayah, tentunya hal ini sangat signifikan dalam memberi kontribusi penciptaan lapangan kerja dan peningkatan penghasilan rakyat.

Peluang pengembangan ekonomi kreatif batik semakin memperoleh momentum pasca penetapan batik sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO. Dengan pengakuan ini setidaknya membuat brand awareness batik semakin nyata di mata dunia. Pengakuan UNESCO tersebut juga merupakan bentuk pengakuan yang strategis terhadap eksistensi batik dan nilai pentingnya bagi peradaban dan perkembangan kebudayaan di Indonesia, sekaligus menjadi kekuatan dahsyat bagi industri batik Indonesia untuk melakukan penetrasi pasar internasional. Menilik semua itu, tentu harapan besar akan berdampak positif pada perkembangan dunia pariwisita nasional.

Penutup

Sebagai bangsa besar kita patut menghargai hasil karya nenek moyang yang telah bersusah payah berlelah-lelah menciptakan suatu kreasi yang amat fenomenal dan menyejarah, yakni batik. Telah dikenal di manca negara bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan keunggulan budaya yang layak diperhitungkan menjadi negara adidaya budaya. Mencermati semua itu, tentu kita sebagai ahli waris tak pantas jika hanya sekedar bebangga-bangga, menggagumi dan menikmati. Tapi lebih dari itu, kita mesti berbuat sesuatu yang lebih bermakna dengan menjaga, melestarikan, mengembangkan agar lebih maju lagi. Sebagai pelaku pariwisata kita harus memanfaatkan keunggulan ini sebagai bagian dari promosi pariwisata dengan harapan akan lebih banyak menarik wisatawan manca negara. Bolehlah kita bermimpi, suatu saat kita secara rutin dapat menyaksikan sebuah pagelaran akbar berskala global bertajuk “Jakarta International Batik Festival”…..Waw! Salam.

Pakaiaan Batik Indonesia Sebagai Filosofi Perjuangan Hidup Nelson Mandela, Tips Batik, Info Batik, Pola Batik, Desain Batik, Belanja Batik, Batik Semarang, Batik Jayakarta,
Pakaiaan Batik Indonesia Sebagai Filosofi Perjuangan Hidup Nelson Mandela

Batik Semarang - Kepergian Nelson Mandela seorang Presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan yang mengorbankan dirinya selama 27 tahun dalam penjara demi memperjuangkan anti-apartheid,telah meninggalkan banyak kenangan.Nelson Mandela tutup usia dalam umur 95 tahun,setelah mengalami sakit sejak beberapa tahun terakhir.

Salah satu kenangan Nelson Mandela adalah kecintaannya dalam menggunakan pakaian batik Indonesia sebagai pakaian resminya dalam banyak kesempatan dan kunjungan kerja maaaupun aktivitasnya sebagai seorang tokoh yang dikagumi dan kesabarannya dalam memperjuangkan bangsa Afrika Selatan dari perbedaan warna kulit.Kecintaannya pada batik mungkin melebihi orang Indonesia sendiri dalam menghargai pakaian itu.Tentu timbul pertanyaan dalam diri kita kenapa Mandela begitu menyukai memakai pakain batik tersebut.
Pakaiaan Batik Indonesia Sebagai Filosofi Perjuangan Hidup Nelson Mandela
Pakaiaan Batik Indonesia Sebagai Filosofi Perjuangan Hidup Nelson Mandela

Pembuatan  dan pengerjaan awal batik yang memerlukan kesabaran dan ketekunan serta keharmonisan dalam menentukan pilhan warna dan corak  menjadi daya tarik  sendiri bagi Nelson mandela. Filosofi Pembuatan Batik yang memerlukan kesabaran yang tinggi dalam pembuatan ini sebagai identik dengan diri Nelson Mandela sendiri. Jadi tidaklah berlebihan bila menyebut nama Nelson Mandela akan selalu identik dengan batik Indonesia,karena kegemarannya memakai pakaian asal negeri kita tersebut.Sebagai seorang pejuang sejati Nelson Mandela telah membuktikan kesabarannya dalam berjuang demi negaranya Afrika Selatan bebas dari perbedaan warna kulit, dengan mendekam selam 27 tahun dalam penjara. Kesabaran itu dilengkapi lagi dengan sikapnya yang tidak pendendam terhadap prilaku orang yang tidak senang dengan dirinya dan telah memenjarakannya.

 Mantan duta besar Indonesia untuk Afrika Selatan Sugeng Rahardjo mengakui Nelson Mandela memang sangat menyukai batik.Sugeng menjelaskan Nelson Mandela pertama kali mengenal batik adalah pada tahun 1990,sesudah dibebaskan dari dalam penjara.Batik itu diberikan pada saat Nelson Mandela berkunjung ke Indonesia. Sejak menerima batik untuk pertama kalinya itu Nelson Mandela semakin sering dan acap kali memakai batik dalam kegiatan resmi kenegaraan dan acara lainnya.

Batik ini juga menjadi sebuah tanda atau simbol kedekatan hubungan anatara Negara Indonesia dan Afrika Selatan.Kebiasaan Nelson Mandela memakai batik telah ikut mendorong warga Afrika Selatan untuk mencari tahu tentang keberadaan batik itu sendiri.Mandela juga ikut mempromosikan batik Indonesia.Mandela tokoh terkenal dan sering bertemu dengan banyak tokoh penting di dunia sering memakai batik dalam pertemuan.

 Nelson Mandela kecintaannya terhadap pakaian Batik melebihi banyangan kita semua.Bagi Nelson Mandela batik bukan hanya sekedar pakaian biasa-biasa saja.Bagi Nelson Mandela batik juga berarti sebagai simbol kepribadian dirinya sendiri yang tercermin dari filosopi pembuatan batik itu sendiri.Kesabaran ,ketekunan dan harmonisasi dalam perpaduan corak dan warna dalam penyelesaian sebuah proses pembuatan batik.Semuanya itu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan hidup Nelson Mandela.

Sekarang Nelson Mandela yang sering memakai pakaian batik itu telah tiada.Kecintaanmu terhadap pakaian batik melebihi kecintaan kami sendiri dalam memaknai nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah pakaiaan yang bernama batik itu.Selamat jalan Mandela Duta Batik Indonesia. Kami turut berduka cita atas kepergianmu.Dunia akan selalu mengenangmu.

Sumber : sosok.kompasiana.com