Diberdayakan oleh Blogger.

Seharag Batik

Tokoh Batik

The Latest

Batik Semarang - Suara permainan gamelan terdengar mengalun merdu.

Gending Jawa yang dilantukan seorang penyanyi. Angin sepoi mengayunkan puluhan kain batik berwana-warni berbagai motif.

Empat orang wanita terlihat menarikan tangan yang memegang canting diatas kain berwarna putih.

Mereka sedang memainkan peran drama gambar keseharian seorang pembatik.

Suasana itu terlihat di gedung serba guna Kantor Desa Trihanggo Gamping Sleman, Sabtu (28/1/2017).

Drama itu yang dimainkan para pembatik itu merupakan bagian acara peringatan ulang tahun kedua Asosiasi Batik Mukti Manunggal Sleman.

Di tahun kedua ini, Ketua Asosiasi Asikhah Eko Putranti mengungkapkan, pihaknya tengah membangun identitas batik di Sleman.

Batik dengan bahan pewarna alami akan menjadi identitas batik yang diproduksi oleh warga Sleman.

"Awalnya ada (pembatik) yang berangkat dari pewarna sintetis, tapi tahun 2016 kita semua sudah memulai untuk memproduksi warna alami. Tujuan kami adalah batik warna alami identik dengan Sleman," ujar wanita yang akrab dipanggil Tanti.

Penggunaan pewarna alami itu juga untuk mendukung program pelestarian alam yang digemborkan pemerintah Kabupaten Sleman.

Pasalnya, pihaknya juga menyadari jika Sleman merupakan daerah resapan air untuk DIY.

Tercatat, lanjut Tanti, kini ada 27 kelompok dan individu perajin batik dari seluruh penjuru Sleman yang tergabung dalam asosiasi ini.

Anggota asosisasi tersebut sebelumnya merupakan binaan Disperindagkop Sleman.

Kelompok dahulu binaan dari disperindagkop Sleman. Asosiasi dibentuk untuk bersama meningkatkan kualitas dan menjalin hubungan promosi produksi batik.

Total ada tujuh motif batik khas Sleman yang akan segera dipatenkan. Pemasaran batik perajin Sleman ini telah merambah di beberapa kota di Indonesia.

"Yang khas dan sedang trend batik motif sinom pari jogo salak," ungkap Tanti.

Tak tanggung-tanggung. Guna memperkenalkan karya batik mereka bahkan membuat sebuah film berjudul 'Aduh Blaik'.

Tanti mengatakan, film itu secara keseluruhan melibatkan pembatik yang tergabung dalam asosiasi. Mulai dari pemain hingga sutradara merupakan pengrajin batik.

"Promosi kami kemas dalam sebuah drama yang menceritakan anggota asosiasi beserta seluruh kegiatan," ujarnya. 
Sumber : tribunnews.com
Batik Semarang - Keragaman dan keindahan batik serta tenun Indonesia membuat kagum khalayak San Francisco, Amerika Serikat, yang menghadiri pameran Textile and Tribal Art di kota pantai barat itu. Seusai pameran yang berlangsung selama empat hari itu, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) untuk San Francisco mengadakan lokakarya mengenai batik di Universitas UC-Berkeley pada 14 Februari 2017 dan di Wisma Indonesia pada 16 Februari.

Untuk acara ini, KJRI San Francisco mengundang pembatik Dalmini dari Desa Kebon Indah di Klaten, penenun Alfonsa Horeng dari Flores, serta perwakilan Museum Tekstil Jakarta yang menampilkan ratusan koleksi kekayaan kain tradisional Indonesia. Acara tahunan ini merupakan program pertunjukan kain tekstil paling bergengsi di San Francisco yang menampilkan lebih dari 80 kolektor, kurator, ataupun penjual barang-barang dengan nilai seni dan sejarah yang berusia hingga ratusan tahun.

“Indonesia telah memulai budaya untuk menghasilkan kain-kain tradisional sejak 2.000 tahun lalu, dan pada 2009 UNESCO mengakui batik sebagai warisan budaya dunia,” ujar Konsul Jenderal Ardi Hermawan saat pembukaan ekshibisi yang dihadiri oleh lebih dari 700 pengunjung. Acara pembukaan dihadiri para diplomat serta konsul jenderal negara-negara sahabat, budayawan, kolektor, filantropis, dan kurator di California. Lebih dari 2.000 pengunjung menghadiri ekshibisi yang diselenggarakan selama empat hari tersebut.

“Saya selalu mengikuti ekshibisi ini setiap tahun. Namun, dengan terlibatnya Indonesia, tahun ini adalah yang paling meriah dan menarik,” ujar kolektor kain tradisional asal San Francisco, Jane Shields, 52 tahun. Pengunjung lain mengagumi proses membuat batik dan kain tenun yang diperagakan di Pavillion Indonesia oleh Dalmini dan Alfonsa Horeng.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, yang kebetulan berada di San Francisco, juga menyempatkan diri mengunjungi ekshibisi sebagai tamu kehormatan panitia setempat. Tri tampak menikmati dan mengagumi berbagai koleksi kain batik, tenun, serta tari-tarian tradisional Indonesia pada saat acara.

Untuk lebih mengenalkan kekayaan batik dan tenun Indonesia, KJRI San Francisco berkerja sama dengan Language of Cloth untuk menyelenggarakan workshop di universitas ternama UC-Berkeley dan Wisma Indonesia. Sekitar 200 mahasiswa dan pencinta seni sangat antusias untuk mengetahui sejarah, pembuatan, dan filosofi pembuatan kain tradisional Indonesia. Pengunjung sangat tertarik untuk mencoba mempraktekkan pembuatan batik secara langsung.

Kepada pihak KJRI, mereka menyampaikan niatnya untuk datang ke Indonesia agar dapat melihat serta mempelajari dari dekat proses pembuatan batik dan tenun secara langsung. “Kami memiliki studio seni untuk melukis di atas kain, dan setelah workshop ini saya berencana tinggal di Klaten selama beberapa minggu untuk mempelajari bagaimana membuat batik,” ujar seniman asal Oakland yang juga berprofesi sebagai perawat, Margareth Jones, 44 tahun.
Sumber : dunia.tempo.co
 Pemerintah diharapkan terus membantu pengembangan batik lokal dengan mengeluarkan kebijakan yang membantu memperbanyak penggunaan batik lokal kepada masyarakat di berbagai daerah.

"Misalnya dengan membuat imbauan agar PNS dapat menggunakan batik lokal pada hari tertentu," kata pembatik Amrizal dikutip dari Antara, Minggu, 12 Februari 2017.

Amrizal merupakan pembatik asal Batam yang telah belajar membatik di Yogyakarta pada tahun 2008. Dia mengemukakan setiap daerah sebenarnya memiliki keunikan tersendiri terhadap batik yang mereka hasilkan.
Misalnya di Batam, ujar dia, salah satu gambar motif batik yang kerap muncul dalam batik di daerah itu gong-gong, atau kerang asli Batam.

Amrizal yang berusia 36 tahun itu juga berpendapat, salah satu faktor kurang berkembangnya pengembangan batik lokal di sejumlah daerah karena SDM yang juga relatif minim.

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan akan membantu mempromosikan batik Banyuwangi yang kualitasnya dinilai sangat bagus ke sejumlah pasar di luar negeri.

"Saya cek kualitas produk UMKM Banyuwangi memang oke, jadi tahun ini beberapa UMKM terpilih akan difasilitasi Kementerian Perdagangan untuk promosi membuka pasar di luar negeri, antara lain di Abu Dhabi, Taiwan, dan Qatar yang pasarnya sedang tumbuh," kata Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito.

Mendag menyampaikan apresiasinya atas strategi yang dilakukan Pemkab Banyuwangi dengan melibatkan UMKM di ajang nasional, termasuk dalam ajang Indonesia Fashion Week (IFW) yang diselenggarakan di Jakarta Convention Center, Sabtu (4/2).

Menurut dia, strategi seperti itu bisa membuka pasar bagi pelaku UMKM karena memang di situ peran pemerintah membuka jalan bagi perajin lokal agar produknya dikenali dan laris.

Pada ajang pergelaran fashion ternama di Asia, Banyuwangi menampilkan beragam batik asal wilayah ujung paling timur Pulau Jawa itu dengan melibatkan para perajin lokal ditampilkan di hadapan desainer, pelaku industri fashion dan penggemar mode.
Sumber : metrotvnews.com
Batik sebagai suatu budaya dalam negeri tentunya perlu terus dilestarikan. Namun, dalam pengembangan dan pemasarannya, diperlukan strategi tertentu.

Demikian menurut Syaiful CH, pemilik kios Batik Madura di Trade Mall (TM) Thamrin City, yang berjualan di Lantai Dasar pusat batik terkenal di Jakarta tersebut.

“Awalnya saya berusaha Batik Madura dari nol, tetapi melalui berbagai pembinaan dan pembekalan, sekarang saya tahu pentingnya berkreasi untuk mengembangkan batik Madura sesuai tren pasar” ujar Saiful, dalam siaran pers yang diterima Metrotvnews.com, Selasa (15/2/2017).

Syaiful bahkan tidak segan untuk mempelajari berbagai referensi batik pesisir ini bahkan sampai ke Jepang untuk mengelaborasi potensi batik Madura yang ditekuninya.

“Saya kaget ketika menemukan referensi buku model batik Madura di Jepang yang sangat lengkap. Ini kesempatan untuk menampilkan ribuan corak Batik Madura hingga dikenal masyarakat luas,” kata Saiful.

Pedagang dan pengrajin batik asal Tanjungbumi Bangkalan, Madura tersebut pun mulai mengembangkan usaha dari daerahnya tersebut hingga memiliki 5 kios Batik Madura. 

Saiful menambahkan, saat ini ia juga melayani bisnis eceran maupun penjualan grosir berjumlah hingga ratusan kodi label Batik Madura ke berbagai kota di Indonesia.

Tak hanya di dalam negeri, juga mencapai ke luar negeri, contohnya seperti Medan, Banjarmasin, Makassar, Singapura, dan Kuala Lumpur. Ia mengaku, kebanyakan pesanan adalah jenis batik tulis.

“Bagi saya dan keluarga besar yang mengembangkan Batik Madura di sini, usaha ini sangat menguntungkan tidak hanya dari sisi omzet tetapi juga dapat ikut melestarikan budaya batik nusantara,” katanya.
Sumber : metrotvnews.com
Batik menjadi salah satu ciri keanekaragaman bangsa Indonesia. Berbagai macam corak dan jenis batik yang beragam membuat batik makin digemari dan terus diburu para pedagang.

Di awal 2017 ini, pakaian dan kain batik pun masih menjadi primadona para pedagang untuk menaikkan omzet mereka. Dengan cara membeli grosiran, keuntungan yang diraih para pedagang pun bisa mencapai 30 persen.

Pedagang batik asal Cirebon Arief (45) mengaku mengalami kenaikan omzet hampir 30 persen dibanding hari-hari biasanya pada awal tahun baru dengan mengusung brand batiknya bermerek "Akhsan".

"Sepanjang 2016, masyarakat pecinta batik nusantara masih menjadikan TM Thamrin City sebagai tempat pencariannya. Kami berharap dengan berbagai inovasi di 2017 dapat melayani pengunjung lebih baik lagi. Pedagang pun terus untung dan maju terus," tutur AVP Marketing Trade Mall Agung Podomoro Ho Mely Surjani, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (5/1/2017).

Senada, pedagang yang juga pemilik toko  "Padma Kirana 1", Sahroni, pun merasakan keuntungan tersebut. Pria yang khusus menjual batik tenun asli Pekalongan sejak tiga tahun lalu mengalami peningkatan. Bahkan dia mampu membeli Ruko sendiri dan kini menjadi hak miliknya.

"Alhamdulillah selama 2016, omzet rata-rata Rp25 juta-Rp30 juta sebulan. Mengingat banyaknya pedagang  batik, persaingan antarpedagang juga kian ketat terutama soal harga dan kualitas," ujar Sahroni.

Lain lagi dengan Rina, pedagang batik yang buka toko di Pasar Mayestik Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Musim liburan akhir tahun kemarin, dia bisa belanja dua sampai tiga kali seminggu dengan cara kodian atau grosir untuk dijual kembali.
Sumber : ekonomi.metrotvnews.com
Batik Semarang -Sesuai namanya, Batik 3 Negeri ini memiliki tiga tempat berbeda untuk menyelesaikannya. Kekayaan budaya bangsa luhur ini sudah berlangsung pembuatannya sejak tahun 1900an dan menjadi karya seni bernilai tinggi. Dari sebuah keluarga yang ada di Solo bernama keluarga Tjoa yang membuat batik dengan berbagai unsur, akhirnya batik ini mempengaruhi kebudayaan lainnya di Nusantara.

Bentangan Batik 3 Negeri yang melegenda hingga penjuru nusantara

“Di Tataran Sunda, sebuah pernikahan bisa batal bila sang pengantin pria tidak membawa Batik Tiga Negeri. Bahkan keluarga Tjoa tidak pernah menduga hal ini akan terjadi. Bahkan mereka percaya ada kekuatan magis didalam kain ini. Kalau ada anak yang sakit, sobek kainnya, bakar dan minumkan ke anaknya” ujar Didi Budiarjo dalam diskusi “Design Talk, Collection, Inspiration, & Fashion” di Dia.Lo.Gue, Kamis (26/1/2017).

Batik 3 Negeri ini sendiri memiliki proses pembuatan yang sangat spesial dan tidak bisa diulangi lagi saat ini. Terdiri dari proses penggambaran sketsa dan memberikan malam hingga selesai di kedua sisinya di Solo. Batik ini akhirnya dikirim sejauh 160 kilometer jaraknya ke daerah Lasem, sebagai penghasil batik pesisir untuk mendapatkan warna merah yang terpengaruh dari budaya Tiongkok.

Setelah selesai diwarnai bagian merahnya oleh pengrajin di Lasem, kain ini dikirimkan kembali ke Solo untuk diperiksa pewarnaannya sudah tepat atau belum. Jika sudah sesuai, kain ini akan dibawa ke Pekalongan sejauh 200 Kilometer. Hal ini dilakukan untuk memberikan warna hijau dan biru yang menyala terang dan hanya dihasilkan di Pekalongan, Jawa Tengah.

Setelah semua bagian ornamen sudah sesuai dengan warna yang diinginkan, batik ini akhirnya diselesaikan di Solo dengan memberikan warna kuning yang menutupi seluruh bagian. Kekayaan budaya inilah yang dilakukan sejak zaman dahulu oleh keluarga Tjoa, seorang pengusaha Tionghoa yang menciptakan Batik 3 Negeri ini.

“Kejayaan dari Batik 3 Negeri ini tidak akan bisa terulang. Siapa yang mau untuk mengantar sebuah kain melewati perjalanan beratus kilo jaraknya? Tentunya jika diproduksi sekarang, kain ini akan berharga sangat mahal dan tidak semua orang mampu membelinya. Karena wastra akan hidup jika ada pembelinya.” Ujar Didi.
Sumber : liputan6.com
Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) bekerja sama dengan UNESCO terus berupaya melestarikan benda cagar budaya yang mereka miliki. Mereka berusaha mereinkarnasi candi-candi yang mereka kelola dan jaga dalam bentuk berbeda. Tidak sekadar menjaga agar tidak menjadi sasaran tangan jahil tetapi juga menuangkan dalam hal yang berbeda.

Kasubag Tata Usaha BPCB Daerah Istimewa Yogyakarta, Arie Setyastuti mengungkapkan, saat ini pihaknya memang tengah melakukan pemberdayaan terhadap warga yang tinggal di seputaran candi. Masing-masing Candi Ijo, Candi Boko, Candi Sojiwan dan juga Candi Prambanan. Dengan menggandeng beberapa lembaga termasuk diantaranya UNESCO, mereka berusaha menuangkan relief candi ke dalam media yang berbeda.

"Puluhan motif relief candi kami tuangkan menjadi batik," tuturnya saat peluncuran showroom batik jumputan Candi Ijo, Kamis (19/1/2017).

Tiga desa masing-masing Sambirejo, Bokoharjo dan Tirtomartani coba mereka berdayakan melalui batik  jumputan. Motif yang banyak mereka terapkan adalah relief candi yang berada di desa masing-masing. Relief mahkota, tokoh legenda ataupun relief yang lain coba mereka aplikasikan ke dalam motif batik.

Menurutnya, reinkarnasi relief ke dalam batik memang bagian dari upaya mereka melaksanakan pelestarian candi. Karena pelestarian tak sekadar menjaga, tetapi juga mendistribusikan atau mensosialisasikan relief yang mengandung cerita candi ke masyarakat yang lebih luas. Dengan semakin banyak masyarakat yang mengetahui dan memahami relief candi, maka sejarah akan terjaga.

Head of Culture UNESCO Jakarta, Bernards Zako menandaskan UNESCO memang berkomitmen untuk melakukan pelestarian benda cagar budaya dan juga batik yang sudah mereka akui sebagai warisan budaya. Salah satunya adalah melalui pemberdayaan masyarakat sekitar candi. Selain untuk mempertahankan benda cagar budaya juga untuk memberi manfaat lebih bagi masyarakat di seputaran candi.

"Agar jangan sampai yang merasakan manfaat candi hanyalah pengelola candi semata tetapi juga masyarakat luas," ujarnya.

Melalui beberapa pelatihan dan juga pendampingan, mereka akhirnya mampu melakukan pemberdayaan produksi batik motif relief candi. Sejak setahun terakhir, nilai ekonomi dari produksi batik jumputan yang dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga seputaran candi Ijo, Sojiwan dan Borobudur mulai dirasakan.

Ia menyebutkan, dalam setahun terakhir omzet rata-rata para ibu rumah tangga sudah mencapai Rp20 juta. Sebuah manfaat yang sudah dirasakan ibu rumah tangga setelah mereka ikutkan dalam pameran ataupun eksebisi lainnya. Ke depan, ia berharap akan semakin banyak masyarakat seputaran candi yang terlibat dalam produksi batik jumputan ini. "Kami turut bangga dengan hasil kerja keras ibu rumah tangga di seputaran candi ini," ujarnya.

Ketua kelompok Batik Jumputan Candi Ijo, Muryani mengakui sejak mereka menggeluti kerajinan batik ini, perekonomian keluarga mereka menjadi terangkat. Bahkan penghasilan ibu-ibu rumah tangga tersebut sudah mampu menjadi penopang ekonomi keluarga. Ibu rumah tangga yang berasal dari golongan ekonomi lemah kini sudah mulai menggeliat dan mampu lebih mandiri.

"Empat motif batik yang kami buat adalah Cempaka, Kala, Mutiara Muntah dan Mahkota menjadi motif andalan kami," paparnya. 
Sumber : sindonews.com
Batik Semarang - Kelompok Kerja (Pokja) Diplomasi Ekonomi KJRI Jeddah ikut memamerkan produk batik dalam negeri dalam pameran Manafe 2016 di Mekkah, Arab Saudi yang dihelat awal bulan ini.

Pokja terdiri atas Pelaksana Fungsi Ekonomi (PFE), Pelaksana Fungsi Pendidikan Sosial dan Budaya (Pensosbud), ITPC dan Atase Perhubungan, memboyong secara khusus batik tulis Pakidulan agar bisa unjuk gigi di ajang bergengsi itu.

"Batik tulis Pakidulan, sepatu dan tas kulit sangat tepat unjuk pamer di pameran Manafe ini untuk manggaet pasar kelas menengah di Arab Saudi," kata Kepala ITPC Jeddah Gunawan dalam rilisnya di Jakarta, Jumat (16/9/2016).

Menurutnya, semua produk Indonesia yang dibawa ke pameran ini sangat berkelas dan diakui internasional, seperti produk sepatu dan tas. "Produk-produk aneka sepatu dan tas kulit ini mempunyai kualitas terbaik dan diakui internasional," imbuhnya.

Dalam pameran ini, lanjut dia, booth Indonesia menayangkan video tentang komoditas unggulan Indonesia dan menyebarkan brosur produk-produk  industri farmasi, makanan dan minuman, komoditas tekstil dan produk tekstil serta  produk-produk lainnya.

"Booth Indonesia juga mempromosikan Trade Expo Indonesia (TEI) 2016 yang akan diadakan di Jakarta pada 12-16 Oktober 2016, melalui brosur dan banner TEI serta banner Wonderful Indonesia 2016," pungkasnya. 
Sumber : sindonews.com
Batik Semarang - Pemerintah diharapkan terus membantu pengembangan batik lokal dengan mengeluarkan kebijakan yang membantu memperbanyak penggunaan batik di tengah masyarakat di berbagai daerah.

"Misalnya dengan membuat imbauan agar PNS dapat menggunakan batik lokal pada hari tertentu," kata pembatik Amrizal yang mengikuti eksibisi "Wonderful Indonesia" di Travel Tour Expo (TTE) Philippines 2017 di Manila, Filipina.

Amrizal merupakan pembatik asal Batam yang telah belajar membatik di Yogyakarta pada tahun 2008.

Dia mengemukakan setiap daerah sebenarnya memiliki keunikan tersendiri terhadap batik yang mereka hasilkan.

Misalnya di Batam, ujar dia, salah satu gambar motif batik yang kerap muncul dalam batik di daerah itu gong-gong, atau kerang asli Batam.

Amrizal yang berusia 36 tahun itu juga berpendapat, salah satu faktor kurang berkembangnya pengembangan batik lokal di sejumlah daerah karena SDM yang juga relatif minim.

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan akan membantu mempromosikan batik Banyuwangi yang kualitasnya dinilai sangat bagus ke sejumlah pasar di luar negeri.

"Saya cek kualitas produk UMKM Banyuwangi memang oke, jadi tahun ini beberapa UMKM terpilih akan difasilitasi Kementerian Perdagangan untuk promosi membuka pasar di luar negeri, antara lain di Abu Dhabi, Taiwan, dan Qatar yang pasarnya sedang tumbuh," kata Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito sebagaimana disampaikan dalam pesan tertulis Pemkab Banyuwangi di Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu (5/2).

Mendag menyampaikan apresiasinya atas strategi yang dilakukan Pemkab Banyuwangi dengan melibatkan UMKM di ajang nasional, termasuk dalam ajang Indonesia Fashion Week (IFW) yang diselenggarakan di Jakarta Convention Center, Sabtu (4/2).

Menurut dia, strategi seperti itu bisa membuka pasar bagi pelaku UMKM karena memang di situ peran pemerintah membuka jalan bagi perajin lokal agar produknya dikenali dan laris.

Pada ajang pergelaran fashion ternama di Asia, Banyuwangi menampilkan beragam batik asal wilayah ujung paling timur Pulau Jawa itu dengan melibatkan para perajin lokal ditampilkan di hadapan desainer, pelaku industri fashion dan penggemar mode.
Sumber : www.beritasatu.com
Batik Semarang - Dalam pelaksanaan pendampingan pada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Badan Standardisasi Nasional (BSN) menggandeng Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta untuk ikut mempromosikan Batik Mahkota Laweyan sebagai role model penerap Standard Nasional Indonesia (SNI).

“Kerjasama tersebut dapat dilakukan dengan mengedukasi masyarakat untuk memilih batik yang sudah ber-SNI karena lebih terjamin dari segi kualitas,” kata Kepala Balai Besar Kerajinan dan Batik, Isananto Winursito, dalam siaran persnya, Selasa (7/2/2017).

Peran UNS untuk lebih mengenalkan UMKM bersertifikat SNI pada segenap civitas akademika UNS dan masyarakat umum.

“Sehingga produk lokal tak hanya berjaya di pasar domestik namun juga mampu menguasai pasar global,” imbuhnya.

Batik Mahkota Laweyan merupakan UMKM produsen batik tulis dari kota Surakarta yang telah mendapatkan sertifikat produk SNI.

Dengan sertifikat tersebut, Batik Mahkota Laweyan memiliki beberapa kelebihan, diantaranya kekuatan kain yang telah sesuai standard.

Kemudian warna kain yang tidak mudah luntur, dan proses produksi yang telah tertata dengan baik.

“Diharapkan kelebihan tersebut dapat menjadi nilai tambah di mata para konsumen dalam membeli batik,” katanya.

Batik Mahkota Laweyan memproduksi batik dalam bentuk kain, pakaian, perlengkapan interior, lukisan dan juga kerajinan tangan.

Selain dapat menyaksikan proses pembuatannya, pengunjung Batik Mahkota Laweyan juga dapat mengikuti workshop pelatihan batik untuk mempelajari jenis-jenis batik dari koleksi terdahulu.

Untuk memaksimalkan potensi tersebut, BSN memberikan pembinaan pada UMKM untuk mendapatkan sertifikat SNI dan untuk dapat bersaing dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Selain itu, dukungan dari pemerintah daerah dan pihak terkait juga diperlukan untuk perkembangan UMKM.
Sumber : tribunnews.com
Hasil gambar untuk batik Batik Semarang - Tips singkat memilih kain dan busana batik tidak banyak diulas oleh kebanyakan toko batik offline maupun online, padahal inilah salah satu kunci komunikasi antara penjual dengan pembeli dalam mengenalkan kualitas produk mereka. Sangat kami maklumi jika ternyata kebanyakan produk batik yang ditawarkan, dan masing-masing mengklaim bahwa busana batik yang mereka tawarkan adalah yang (ter-)murah sangat sebanding dengan kualitas kain batik yang akan Anda dapatkan.

Melalui tips singkat bagaimana memilih kain batik maupun baju batik pada posting ini, kami jadikan sarana memicu diri agar senantiasa berusaha memberikan kualitas busana batik terbaik bagi pelanggan kami, sekaligus upaya edukasi yang semoga bermanfaat luas bagi para pecinta batik dimanapun Anda berbelanja batik.

Bicara soal fesyen batik, terutama soal kualitas, hal yang mendasar tentu kita wajib pastikan bagaimana kualitas kain batik yang digunakan. Lalu bagaimana trik menilai kualitas sehelai kain batik yang baik?
Menilai Kain Batik Berkualitas Baik

Secara umum, kualitas materi bahan/jenis kain yang digunakan dalam sebuah produk batik erat terkait dengan jenis batik yang dihasilkan/teknik pembatikannya, seperti: biasanya jenis kain yangdigunakan pada jenis batik tulis akan lebih halus dibandingkan jenis kain mori yang digunakan pada batik cap.

1. Perhatikan jenis kain batik

Oleh sebab itu, ada baiknya di awal Anda tentukan, jenis batik apakah yang akan Anda beli, tulis atau cap. Pada umumnya jenis kain yang digunakan pada jenis batik tulis lebih baik dengan jenis kain pada batik cap. Itulah sebabnya harga batik tulis berlipat-lipat dibanding jenis kain batik cap. Selain dibutuhkan keterampilan tingkat tinggi dalam proses pembuatannya, waktu yang diperlukan untuk menghasilkan sehelai kain tulis bisa memakan waktu berbulan-bulan.

Nah, karena proses yang rumit dan memakan waktu lam tersebut wajar saja jika kemudian produk batik tulis ini diimbangi dengan penggunaan kain yang memiliki kualitas tinggi sehingga hasil kriya para seniman batik tulis ini dapat memiliki umur lebih panjang. Oleh sebab itu, dari bahan dasar berupa kainnya saja batik tulis sudah membutuhkan modal tinggi, jadi wajar setelah melalui proses pembatikan yang tidak sederahana, helai kain batik yang dihasilkan juga berharga jauuh lebih mahal ketimbang batik cap.

2. Lihat jenis bahan

Jenis kain yang digunakan sebagai media pembatikan sangat banyak ragamnya, hampir sebagian besar adalah jenis kain (mori) berbahan katun dan sutra untuk batik-batik premium (kecuali batik printing/kain tekstil bermotif batik/batik palsu yang banyak juga berserat rayon atau benang sintetis). Kain katun pun masih dipilah dengan banyak pilihan lagi, seperti katun primis, primisima, katun dobi, katun paris dsb.

Saat membeli kain batik, jangan lupa untuk memilih jenis kainnya yan ‘wajib’ kita sesuaikan dengan aktivitas kita yang berkenaan dengan batik, misalnya saja baju batik tersebut akan kita kenakan untuk berbusana sehari-hari, so pilihlah kain batik berjenis bahan katun yang mudah menyerap keringat serta memberikan kenyamanan berpakaian yang baik.

Ketika salah pilih jenis kain, dan pengenaan baju batik tersebut membuat anda merasa gerah, aspek kenyamanan pun hilang, dan hal ini justru dapat mengganggu aktivitas Anda. So, sangat direkomendasikan memilih jenis kain katun atau sutra pada kain batik, kedua bahan tersebut adalah bahan terbaik untuk batik Anda.

3. Menilai kualitas pewarnaan batik

Tips selanjutnya adalah dengan meraba permukan kain batik secara umum, untuk memastikan apakah pewarnaan pada kain batik tersebut berkualitas batik. Pastikanlah bahwa warna pada batik tersebut tidak menempel pada tangan Anda.

Jika saja ternyata warna batik meninggalkan bekas pada tangan anda, hal tersebut menjadi salah satu pertanda bahwa kain batik tersebut memiliki kualitas pewarnaan yang rendah. Kemungkinannya sangat besar ketika Anda mencuci kain/baju batik tersebut, warna akan luntur sehingga motif batik pun akan lebih mudah/cepat pudar.

4. Melihat sisi dalam kain batik

Cobalah untuk melihat sisi dalam kain/baju batik dengan cara membaliknya. Kain batik berkualitas sangat bagus, biasanya terdapat pada jenis batik full tulis, nah jenis batik tulis pun memiliki beberapa grade ya, pada jenis batik tulis berkualitas tertinggi, proses pembatikan/pencantingan lilin/malam untuk membentuk motif dilakukan secara bolak-balik. Hal ini menghasilkan ‘penampakan’ motif dan warna yang sama pada kedua sisi kain batik (motif dan warna sisi dalam batik sama dengan motif dan warna pada sisi luar).

Pada jenis kain batik cap, warna sisi dalam kain mungkin sama dengan warna sisi luar, namun penampakan motifnya tidak serapi sisi luar kainnya. Pada tingkat kualitas terendah dan sangat mudah dibedakan bisa kita temui pada jenis kain batik sablon atau printing tekstil, dimana sisi luar kain memiliki motif yang nampak sempurna namun pada bagian dalam kain nampak warna dasar kain/putih atau bahkan polos.

Konon, kain batik dengan proses pencantingan lilin secara bolak-balik akan memiliki kualitas yang lebih awet. Tentunya, anda harus merogoh kocek yang cukup dalam karena wajar saja sebab kain tersebut telah melalui proses pembuatan yang detail.

5. Cobalah tempelkan pada kulit Anda

Cara mengukur kenyamanan yang paling simpel/sederhana dalam menilai kualitas sebuah kain/baju batik adalah dengan menempelkan kain batik/baju batik yang ingin kita beli langsung ke kulit (langsung fitting di badan untuk baju batik), dari sini kita bisa langsung merasakan apakah kain yang kita pilih memberikan rasa nyaman (akan terasa dingin saat dikenakan). Ini artinya bahan batik tersebut merupakan kain dengan kualitas bagus.
Tips Lanjutan Memilih Baju Batik Berkualitas

tips bagaimana menilai kualitas sebuah kain batik sudah kita lalui, selanjunya, jika yang hendak kita beli berupa baju, entah itu kemeja, dress, blouse, gamis batik dsb, maka patut Anda perhatikan beberapa tips lanjutan berikut.

6. Fitting is King

Ya, bicara soal baju, ..apapun termasuk batik ya bicara soal ukuran, terkait ukuran baju yang sesuai dengan masing-masing pribadi maka fitting adalah hal ideal yang semestinya dilalui, sehingga wajar kiranya jika kami mengatakan bahwa ‘fitting is king’, pun demkian fitting yang ideal dilakukan sebelum busana/baju tersebut dibuat.

Problemnya adalah tidak semua rekan memiliki waktu untuk menunggu proses jahit dilakukan terlebih dahulu, karena tempo waktu/kebutuhan pengenaan baju batik tersebut sangat mendadak misalnya, sehingga beli baju jadi menjadi keputusan tak tergantikan.

Banyak batik yang sudah jadi siap pakai ternyata tidak proporsional dengan ukuran fitting pembelinya, hal ini disebabkan kebanyakan produsen menawarkan ukuran baju/size S M L XL XLL XLLL mengikuti standar pasar tanpa memberik panduan tambahan ukuran misalnya saja yang paling efektif adalah gambaran ukuran lebar dada dan panjang kemeja seperti yang kami berikan pada rumahbatikpekalongan.com ini.

Perlu diketahui juga style saat memakai batik kebanyakan diperuntukan memakai baju batik yang dikeluarkan, tidak dimasukan dalam celana (untucked). Oleh karena itu perlu diperhatikan agar tidak terlalu panjang atau terlalu pendek.

Gak peduli seberapa mahal batik yang Anda pakai, jika itu tidak pas di badan Anda maka penampilan Andalah yang akan terlihat “murahan”

7. Pilihan Warna

Secara umum, kaidah pemilihan warna untuk baju batik hampir serupa ketika kita memilih warna baju pada umumnya. Namun pada pada kain batik dikenal dua jenis warna utama, yaitu warna ‘tanahan’ atau warna dasar kain batik serta warna corak atau motif batik. Hal utama terkait pilihan warna yaitu perhatikanlah warna ‘tanahan’ batik. Warna dasar inilah yang bisa digunakan patokan Anda ketika memilih batik untuk dapat dipadu padankan dengan pakaian lainnya.

Ada baiknya/disarankan menyesuaikan pilihan warna sesuai dengan momen/acara dimana batik tersebut akan kita kenakan. Untuk acara kasual misalnya, kita bisa mengenakan baju batik dengan warna-warna yang cerah, seperti merah, kuning, atau ungu. Sedangkan untuk acara formal Anda bisa memilih warna  tanahan yang lebih gelap  seperti warna indigo atau warna-warna sogan.

Ada sebagian pendapat yang menyatakan ‘pilihan warna busana disesuaikan warna kulit’. Nah, menurut kami, saat ini hal tersebut bisa jadi tidak begitu relevan, karena teranyata pengenaan warna juga dipengaruhi tingkat percaya diri seseorang dan kebutuhannya. Kini warna-warna cerah dan terang bukan lagi monopoli orang-orang berkulit putih saja atau orang berkulit gelap hanya cocok mengenakan warna sogan.

Namun demikian ada baiknya, soal pilihan warna tanahan batik anda sesuaikan dengan motif yang akan kami ulas singkat pada poin berikut.

8. Memilih Motif

Pilihan motif batik Indonesia memang sangat kaya dan beragam. Setiap daerah sentra penghasil batik memiliki kekhasan dan ciri corak atau motifnya masing-masing. Kemunculan atau sejarah hadirnya tiap motif itu pun memiliki cerita atau riwayat tersendiri. Jika kita mendalami arti makna motif yang terkandung dalam batik maka akan kita ketahui apa makna yang terkandung dalam filosofi motif sida mukti, parang barong, parang rusak, mega mendung dan lain sebagainya.

Termasuk bagaimana dan pada situasi/kondisi atau acara apa motif-motif tersebut dikenakan. Seperti pada budaya jawa, khususnya berkembang di wilayah jawa tengah, ada adat pengenaan motif batik tertentu untuk acara kematian, batik dengan motif tertentu untuk acara pernikahan.

Nah, tentu Anda tidak ingin bukan mengenakan motif kain yang biasa dikenakan pada acara kematian lalu anda kenakan pada acara pesta perkawinan? –salah kostum–. Selain itu perhatikan pula padu padan motif dan warna baju batik yang kita kenakan dengan setelah bawahan (celana atau rok yang dikenan) agar nampak serasi dan selaras.

9. Sesuaikan dengan situasi dan momennya

Keputusan dalam membeli baju atau busana batik harus Anda sandarkan kepada kebutuhan pengenaannya, untuk acara seperti apa baju batik tersebut Anda kenakan? untuk acara formal, semi formal atau kebutuhan berbusana kasual sehari-hari? Tidak ada patokan khusus batik mana yang kasual dan mana yang formal, namun akan lebih tepat jika kita menghindari komentar salah pilih kostum karena salah memilih warna dan motif batik.

Tidak ada standar khusus memang terkait pemilihan motif formal dan kasual misalnya saja. Yang acapkali menjadi tolok ukur umum adalah element motif dan corak pada batik tersebut serta warna dasarnya.

Motif batik kasual seringkali diidentikkan dengan pilihan motif flora atau fauna, dengan dominasi warna dasar/tanahan cerah dan terang. Selain kemeja lengan pendek, batik kasual bisa saja dalam bentuk kaos batik atau kemeja batik/hem dengan pola jahitan yang menonjol, seperti jahitan smoke.

Sedangkan untuk batik formal lebih ke bentuk kemeja yang tidak terlalu banyak variasi model, hanya sekedar simpel dan minimalis dan mempunyai satu corak motif batik (motif berulang, seperti misalnya motif-motif parang, kawung dengan tanahan sogan) dengan warna-warna yang lebih soft dan elegan.

Nah, lengkap bukan tips memilih batik dari kami rumahbatikpekalongan.com, semoga memberi manfaat kepada anda semua, rekan-rekan pecinta batik, dan…semangat cinta batik, semoga panduan singkat ini membuat kita lebih cinta lagi terhadap seni budaya adiluhung bernama batik Indonesia
Sumber : rumahbatikpekalongan.com
Batik Semarang - Berawal dari banyaknya pelajar yang sedang belajar membatik terluka terkena bahan batik yang panas, membuat Ade Supriyadi mencari inovasi baru, untuk bisa mengajarkan batik dengan aman. Sampai akhirnya, ia berhasil mencetuskan batik lem. Inovasi ini sudah ia lakukan sejak tahun 2008, tetapi baru kali ini Ade baru berani untuk menerapkannya.

Menurut Ade, Batik lem ini lebih aman dibandingkan dengan menggunakan bahan batik yang harus dipanaskan  terlebih dahulu. Karena bahan lem yang digunakanpun, ramah lingkungan dan mudah digunakan. Ade, membuat lem tersebut dari komposisi tepung tapioka, terigu, kopi dan direbus dengan air. Cantingnya pun diganti dengan menggunakan botol plastik kecil, yang memiliki ukuran lobang yang berbeda.

"Kalau menggunakan bahan sebelumnya, jika kena kulit itu panas. Kalau ini tidak," kata Ade.

Untuk kualitasnya, tidak perlu diragukan lagi. Ade tetap menggunakan pewarna Batik dan juga cairan penguat untuk menghasilkan kualitas yang bagus. Walaupun idealnya, batik yang dibuat harus menunggu kering terlebih dahulu, namun dengan batik lem ini, bisa langsung dicelupkan ke pewarna dan penguat, walaupun kondisinya masih basah.

"Walaupun baru saja dibuat batiknya dan belum kering. Langsung bisa dicelupkan ke pewarna,” kata Ade.

Ade, mengenalkan karyanya tersebut, dalam acara pameran yang diselenggarakan oleh SMPN 6 Kota Cirebon bekerjasama dengan Komunitas Kuno Kini Nanti. Dalam kegiatan yang bertema semua orang bisa membatik tersebut, ratusan siswa, guru dan tamu undangan, mencoba secara langsung batik lem yang diciptakan oleh Ade.

Bukan hanya untuk bahan dasar kain, namun juga bisa digunakan untuk bahan dasar sepatu.  Hadir juga dalam kesempatan tersebut, Ketua DPRD Kota Cirebon Edi Suripno dan Kepala Dinas Pendidikan Kota Cirebon, Jaja Sulaeman.

Kepala Sekolah Lilik Agus Darmawan mengapresiasi adanya penemuan ini. Dengan adanya batik lem ini, membuat siswanya lebih mudah untuk belajar membatik. Jika sebelumnya, banyak siswa yang terluka terkena panas bahan batik, dengan batik lem ini, hal tersebut tidak terjadi lagi. Ia juga, bahkan akan terus meningkatkan pengenalan batik lem ini, melalui kegiatan ekstrakulikuler.

"Nanti kita akan terus tingkatkan pengenalan batik lem ini, melalui kegiatan ekstrakurikuler,” kata Lilik.

Sementara itu, Zahra, salah satu siswa SMPN 6 Kota Cirebon, mengaku senang dengan adanya penemuan batik lem ini. Karena dengan adanya inovasi ini, ia bisa membuat batik dengan mudah dan tidak takut terluka. Zahra juga terlibat dalam pembuatan batik lem sepanjang 10 meter, yang dilakukan secara bersama-sama dengan ratusan murid, guru dan tamu undangan.

"Senang, soalnya bikin batiknya lebih mudah,” kata Zahra.
Sumber : metrotvnews.com