Diberdayakan oleh Blogger.

Seharag Batik

Tokoh Batik

The Latest

Dugderan Tradisi Unik Kota Semarang

Batik Semarang - Dugderan merupakan festival untuk menandai dimulainya ibadah puasa di bulan Ramadan yang diadakan di Kota Semarang. Perayaan ini dimulai sejak masa kolonial  dan dipusatkan di daerah Simpang Lima. Perayaan dibuka oleh wali kota dan dimeriahkan oleh sejumlah mercon dan kembang api (nama "dugderan" merupakan onomatope dari suara letusan). Pada perayaan ini beragam barang dijual (semacam pasar malam) dan pada masa kini sering diikutkan berbagai sponsor dari sejumlah industri besar. Meskipun demikian, ada satu mainan yang selalu terkait dengan festival ini, yang dinamakan "warak ngendok". Dugderan dimaksudkan selain sebagai sarana hiburan juga sebagai sarana dakwah Islam.

Tradisi “Dugderan” ini berasal dari kota Semarang, Jawa Tengah. Nama “Dugderan” sendiri berasal dari kata “Dug” dan “Der”. Kata Dug diambil dari suara dari bedug masjid yang ditabuh berkali-kali sebagai tanda datangnya awal bulan Ramadhan. Sedangkan kata “Der” sendiri berasal dari suara dentuman meriam yang disulutkan bersamaan dengan tabuhan bedug.

Tradisi yang sudah berumur ratusan tahun ini terus bertahan ditengah perkembangan jaman. biasanya digelar kira-kira 1-2 minggu sebelum puasa dimulai. Karena sudah berlangsung lama, tradisi Dugderan ini pun sudah menjadi semacam pesta rakyat. Meski sudah jadi semacam pesta rakyat –berupa tari japin, arak-arakan (karnaval) hingga tabuh bedug oleh Walikota Semarang–, tetapi proses ritual (pengumuman awal puasa) tetap menjadi puncak dugderan.

Untuk tetap mempertahankan suasana seperti pada jamannya, dentuman meriam kini biasanya diganti dengan suara-suara petasan atau bleduran. Bleduran terbuat dari bongkahan batang pohon yang dilubangi bagian tengahnya, untuk menghasilkan suara seperti meriam biasanya diberi karbit yang kemudian disulut api.

Dugder terjadi pada masa pemerintahan Kanjeng Bupari RMTA Purbaningrat (1881). Beliaulah yang pertama kai menentukan mulainya hari puasa, yaitu setelah Bedug Masjid Agung dan Meriam di halaman Kabupaten dibunyikan masing-masing tiga kali. Namun sebelum bedug dan meriam dibunyikan, diadakan upacara di  halaman Kabupaten.

Adanya upacara Dug Der tersebut makin lama makin menarik perhatian masyarakat Semarang dan sekitarnya, menyebabkan datangnya para pedagang dari berbagai daerah yang menjual bermacam-macam makanan, minuman dan mainan anak-anak seperti yang terbuat dari tanah liat (Celengan, Gerabah), mainan dari bambu (Seruling, Gangsingan), dan mainan dari kertas (Warak Ngendog).

Jalannya upacara dugderan

Sebelum pelaksanaan dibunyikan bedug dan meriam di Kabupaten, telah dipersiapkan berbagai perlengkapan berupa:

1. Bendera

2. Karangan bunga untuk dikalungkan pada 2 (dua) pucuk meriam yang akan dibunyikan.

3. Mesiu dan kertas koran yang merupakan perlengkapan meriam.

4. Gamelan yang disiapkan di pendopo

Petugas yang harus siap agar prosesi upacara berjalan baik adalah:

1. Pembawa Acara

2. Petugas yang membunyikan bedug dan meriam

3. Pengrawit

4. Pemimpin upacara (biasanya lurah/kepala desa setempat).
Yuk Belajar Membuat Batik Cap !

Batik Semarang - Seperti yang kita ketahui bahwa batik ada beberapa jenis diantaranya yaitu batik tulis, batik cap dan batik printing/sablon. Pada artikel kali ini akan dijelaskan bagaimana proses pembuatan batik cap.

Tidak seperti batik tulis yang proses pembuatannya menggunakan canting, pada proses pembuatan batik cap alat yang digunakan yaitu cap (semacam stempel besar yang terbuat dari tembaga) yang sudah didesain dengan motif tertentu dengan dimensi 20cm X 20cm.

Berikut adalah proses pembuatan batik cap:
  1. Kain mori diletakkan di atas meja dengan alas dibawahnya menggunakan bahan yang empuk.
  2. Malam direbus hingga suhu 60 – 70 derajat Celsius.
  3. Cap dicelupkan ke malam yang telah mencair tadi tetapi hanya 2cm saja dari bagian bawah cap.
  4. Kemudian kain mori di cap dengan tekanan yang cukup supaya rapih. Pada proses ini, cairan malam akan meresap ke dalam pori-pori kain mori.
  5. Selanjutnya adalah proses pewarnaan dengan cara mencelupkan kain mori yang sudah di cap tadi ke dalam tangki yang berisi cairan pewarna.
  6. Kain mori direbus supaya cairan malam yang menempel hilang dari kain.
  7. Proses pengecapan>pewarnaan>penggodogan diulangi kembali jika ingin diberikan kombinasi beberapa warna.
  8. Setelah itu, proses pembersihan dan pencerahan warna dengan menggunakan soda.
  9. Penjemuran kemudian disetrika supaya rapih.
Proses pembuatan batik cap ini lebih cepat dibandingkan dengan proses pembuatan batik tulis karena pembuatan motifnya dengan menggunakan cap (stempel) yang lebar. Bandingkan dengan batik tulis yang menggunakan guratan-guratan canting. Walaupun begitu, kedua jenis batik ini mempunyai keunikan tersendiri. Baca juga ciri-ciri batik cap.
Membuat Batik Tulis, Jangan Lupa Ijuk

Batik Semarang -  Ijuk (duk, injuk) adalah serabut hitam dan keras pelindung pangkal pelepah daun enau atau aren (Arenga pinnata). Manfaat ijuk amat banyak, sebut saja sikat, sapu, tali atau tambang, kuas, atap (rumah, kandang, gazebo), lapisan penyaring di dalam sumur resapan, hingga lapisan peresap air di bawah lapangan sepakbola. Tak hanya itu. Seutas ijuk sangat berarti pada proses membuat batik tulis. Tanpa seutas ijuk, pembatik bisa kerepotan. Mengapa?

Dalam proses membuat batik tulis, salah satu tahapan kerjanya yaitu nyanthing. Nyanthing atau mbatik, yakni menorehkan cairan malam (lilin batik) panas ke pola gambar di kain menggunakan alat bernama canthing atau canting.

Proses mbatik lebih dari satu tahap. Tahap pertama disebut nglowong atau ngrengrengi. Ini pekerjaan menorehkan malam di kerangka gambar motif utama batik. Itu sebabnya, dinamai nglowong, dari kata klowong atau ngrengrengi dari reng-rengan, yang maksudnya adalah kerangka. Pada tahap ini canting yang dipakai adalah canting klowong.

Tahap berikut, ketika pembatik mengisi ruang-ruang kosong di kerangka yang sudah diklowong, dengan titik-titik atau garis-garis halus, disebut tahap ngiseni atau mengisi dengan isen-isen (isi motif). Untuk pekerjaan ini, pembatik menggunakan canting isen (dari kata isi) yang terdiri dari beragam canting cecek. jika akan mengisi ruang dengan motif isen titik-titik. Bisa juga pembatik menggunakan canting klowong, tergantung kebutuhan desain.

Canting cecek pun beragam bentuk. Ada cecek siji (berlubang satu, untuk menghasilkan titik tunggal sekali toreh), cecek loron (berlubang dua, untuk menghasilkan titik ganda sekali toreh di kain), cecek telon (berlubang tiga), cecek papat, juga ada cecek liman dan galaran (untuk membuat garis sejajar dua atau tiga).

Tahap selanjutnya, jika ada bagian-bagian dari kain batik atau motif yang akan ditutup atau diblok (untuk membiarkan berwarna putih), istilah pembatik ditembok, maka penutupan menggunakan cairan malam menggunakan canting tembokan. Untuk bidang yang cukup luas, pembatik bisa juga menggunakan kuas.

Ketiga jenis canting tersebut mempunya diameter cucuk (saluran cairan malam) berbeda. Canting dengan diameter terkecil canting cecek. Lebih besar dari cecek, yaitu canting klowong. Canting tembokan berdiameter paling besar. Diameter terbesar canting yaitu 1 mm (tembokan).

Karena kecilnya diameter cucuk canting dan tidak selamanya cairan malam stabil kekentalannya -- semakin lama dipanaskan makin kental bahkan bercampur dengan gentho (kotoran hitam yang mengendap di wajan) -- aliran malam di cucuk bisa tersumbat. Jika cucuk tersumbat maka tidak ada cairan malam panas bisa ditetes-torehkan ke kain yang sedang dibatik. Ini tentu mengganggu kelancaran kerja pembatik.

Mengatasi tersumbatnya aliran malam di cucuk, bisa dengan memanaskan cucuk. Namun, jika cucuk tetap tersumbat, biasanya akibat adanya kotoran, berupa gentho bercampur malam yang memadat. Tindakan yang harus dilakukan yaitu membersihkan lubang cucuk dengan cara memasukkan seutas ijuk hingga ke pangkal cucuk. Utas ijuk didorong-tarik secara pelahan beberapa kali, hingga ijuk tak terhambat, kemudian bisa dilihat di bagian dalam nyamplung (wadah penampung cairan malam pada canting).

Pada proses memasukkan utas ijuk, tekanan harus perlahan, tidak dipaksakan, Jika dipaksakan, ijuk bisa patah. Jika patahnya terjadi di dalam cucuk, ini menyulitkan pembatik untuk mengambilnya. Akibatnya, cucuk akan tersumbat ijuk secara permanen.

Mengapa digunakan ijuk? Kenapa tidak kawat atau serabut kabel? Atau serabut kulit buah kelapa (sepet)?

Kawat atau serabut kabel tidak digunakan karena merupakan penghantar panas, sehingga bisa mencederai jari saat membersihkan cucuk. Sebab, membersihkan cucuk dari sumbatan hanya bisa dilakukan ketika canting dalam keadaan panas. Panas di canting akan merambat ke kabel/kawat. Selain itu, karena diameter cucuk berbeda-beda, diperlukan utas kawat/kabel dengan diameter berbeda pula. Tentu tak mudah menyediakannya.

Serabut kulit buah kelapa jarang digunakan untuk membersihkan cucuk tersumbat karena terlalu lentur, sehingga tidak bisa mendorong kotoran di dalam cucuk.

Ijuk menjadi pilihan paling efektif untuk pembersih cucuk dari sumbatan saat membatik karena sifatnya bukan penghantar panas, tidak terlalu lentur, cenderung kaku, lebih keras dari serabut sepet , tahan panas, ukuran diameter beragam dan sesuai dengan berbagai ukuran diameter cucuk canting. Ijuk juga mudah didapat. Jika di rumah tersedia sapu ijuk, pembatik tinggal mencabut beberapa utas yang sesuai dengan diameter lubang cucuk.

Itulah sebabnya di dekat seorang pembatik tulis yang sedang membatik selalu tersedia beberapa utas ijuk. Jika ijuk sampai terlupakan, maka pekerjaan membatik pun akan terhambat. Tampak sepele, bukan? Tapi…seutas ijuk penting artinya dalam membuat batik tulis. Sampai bertemu lagi di artikel batik berikutnya
Sepanjang Sejarah, Baru Kali Ini Pelantikan Kabinet Pakai Batik

Batik Semarang -  Kabinet Kerja di bawah pimpinan Presiden Jokowi dilantik hari ini. Presiden Jokowi meminta dress code batik untuk pelantikan menterinya. Tercatat sepanjang sejarah, baru kali ini pelantikan kabinet menteri memakai dress code batik.

Menurut penelusuran , sejak era Presiden pertama, Soekarno, pelantikan kabinet selalu mengenakan pakaian formal yaitu setelan kemeja, celana, jas dan dasi. Hal ini tampak dalam foto dokumentasi Kabinet Presidensial, kabinet pertama di bawah Presiden Soekarno yang dilantik setelah Proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945.

Dalam foto dokumentasi Kabinet Presidensial itu, Presiden Soekarno tampak memakai baju safari putih yang menjadi ciri khasnya, begitu juga Wapres M Hatta. Ada yang mengenakan kemeja biasa dan berdasi, ada pula yang memadukan kemeja, jas plus celana pendek.

Sedangkan untuk Kabinet Pembangunan di bawah Presiden Soeharto, para menteri yang dilantik memakai setelan jas untuk menteri pria, sedangkan menteri perempuan memakai kebaya, kain dan tatanan rambut bersanggul. Dress code ini tidak berubah kendati presiden telah berganti ke BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri hingga Susilo Bambang Yudhoyono.

Gebrakan tak biasa tentang dress code ini dilakukan Presiden Jokowi. Sejak hari kedua dia dilantik menjadi presiden, Jokowi menerima tamu pemimpin negara asing seperti PM Singapura Lee Hsien Loong dan PM Malaysia Najib Razak, dengan mengenakan kemeja putih polos. Tanpa setelan jas. Sedangkan malamnya, Presiden Jokowi menerima kepala negara PM Australia Tony Abbott dan Menlu AS John Kerry, mengenakan batik lengan panjang.

Dress code baju putih ini juga wajib saat Presiden Jokowi mengumumkan dan memperkenalkan menteri-menterinya. Tak cuma baju putih, lengan kemeja putih itu juga dilinting.

"Itu permintaan Pak Jokowi, agar menteri bekerja sesuai dengan presidennya. Simboliknya, baju putih lengan digulung," kata mantan Deputi Tim Transisi Andi Widjajanto di halaman Istana Negara, Jakarta, Minggu (26/10).

"Bahwa ini adalah kabinet kerja, pakaian yang dipakai menunjukan simbolik," tambah Andi.

Sedangkan untuk pelantikan kabinet pagi ini, Presiden Jokowi meminta para menterinya mengenakan batik. Hingga siang ini, menjelang pelantikan, para menterui memakai batik lengan panjang, celana panjang, plus peci. Sedangkan menteri perempuan juga memakai blus batik, namun ada juga yang mengenakan kebaya dan kain seperti Susi Pudjiastuti
Go Tik Swan Pelopor Batik Indonesia

Batik Semarang - Saat menginjak usia 7 tahun, sebagai anak dari keluarga berada, Tik Swan menempuh pendidikan dasarnya di Neutrale Europesche Lagere School (NELS) di Raja Kasunanan Surakarta, 1893-1939
Surakarta. Hanya warga keraton, anak-anak ningrat, pemuka masyarakat, serta pejabat yang boleh mengenyam pendidikan di sekolah Belanda itu.

Di bawah asuhan kakeknya, Tik Swan kecil amat dimanjakan, ia bebas bermain apa saja yang disukainya. Ia juga mulai terbiasa dengan aktivitas para pembatik. Bermain di antara para tukang cap, dengan anak-anak yang membersihkan malam dari kain, dan mencucinya, mereka yang membubuhkan warna coklat dari kulit pohon soga, serta para pekerja yang tengah sibuk menulisi kain dengan canting, telah menjadi keseharian Tik Swan saat itu.

Meski terlahir sebagai orang keturunan namun Tik Wan menunjukkan ketertarikannya pada budaya tradisional khususnya budaya Jawa. Hal tersebut terlihat jelas pada raut wajahnya yang begitu antusias tiap kali mendengarkan tembang-tembang Jawa yang dilantunkan para pembatik yang bekerja pada kakeknya, atau tatkala mendengarkan dongeng tentang Dewi Sri dan berbagai cerita tradisional Jawa lainnya. Dari mereka pula, ia belajar mengenal macapat, pedalangan, gending, suluk dan antawacana (dialog) wayang, Hanacaraka dan tarian Jawa.

Ketika usianya makin bertambah, keingintahuannya pada budaya Jawa pun kian tak terbendung. Segala sesuatu yang berbau seni tradisional Jawa selalu menyedot perhatiannya. Kebetulan tak jauh dari kediaman kakeknya di Coyudan, terdapat sebuah klenteng yang kerap mengadakan pertunjukan wayang. Maka setiap ada kesempatan, Go Tik Swan hampir tidak pernah absen untuk menonton.

Dari wayang, ia mulai tertarik mendalami tari Jawa pada putra Pakubuwono IX yakni G.P.H. Prabuwinata yang dikenal sebagai seniman keraton yang ahli di bidang karawitan, tari dan pedalangan. Di rumah Prabuwinata yang letaknya berdekatan dengan kediaman kakeknya, Tik Swan mulai berlatih gamelan dan menari. Selain pada Prabuwinata, ia juga mendalami tari pada penari Jawa klasik yang juga merupakan tetangga sang kakek, yakni Pangeran Hamidjojo, putra dari Pakubowono X . Tik Swan yang sudah sejak awal terpesona pada gerakan-gerakan indah khas tarian Jawa mulai tertarik untuk berguru pada indolog lulusan Universitas Leiden, Belanda itu. Tak heran jika sejak kecil ia sudah dikenal sebagai penari terbaik gaya Surakarta dari kalangan Tionghoa.
Meski terlahir sebagai orang keturunan namun Tik Wan menunjukkan ketertarikannya pada budaya tradisional khususnya budaya Jawa.

Sayangnya, ayah dan ibunya tidak menyukai kegiatan berkeseniannya. Namun, lantaran tekadnya untuk terus menekuni kesenian Jawa sudah sedemikian bulat, sulung dari empat bersaudara ini tak terlalu memperdulikan sikap kedua orangtuanya.

Setelah lulus dari Neutrale Europesche Lagere School (NELS), Tik Swan meneruskan studinya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) kemudian ke Voorbereiden Hoger Onderwys (VHO), keduanya berada di Semarang. Begitu tamat dari VHO, orangtuanya mengirim Tik Swan ke Jakarta pada tahun 1953 untuk berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Akan tetapi karena sudah terlanjur jatuh cinta pada kebudayaan Jawa, ia lebih memilih untuk meneruskan pendidikannya di Fakultas Sastra & Filsafat, Jurusan Sastra Jawa UI. Belajar aksara Jawa untuk menghitung hutang, menonton wayangan dan tari-tari Jawa membulatkan niatnya untuk memilih jurusan tersebut. "Saya diam-diam masuk jurusan Sastra Jawa di Fakultas Sastra UI. Ketika ayah tahu, beliau khawatir saya tidak bisa mencari nafkah yang memadai dengan memilih bidang itu," ceritanya.

Saat orangtuanya mengetahui jurusan yang dipilihnya, segala biaya dan fasilitas langsung ditarik. Meski demikian, Tik Swan tetap bersikeras. Tanpa dukungan orangtua, ia tetap giat belajar. Semasa kuliah, ia terlibat aktif pada berbagai kegiatan kemahasiswaan, seperti menjadi anggota Senat Mahasiswa Fakultas Sastra dan ketua seksi kebudayaan Dewan Mahasiswa UI. Ketika menimba ilmu di bangku kuliah, ada dua orang dosen yang dianggapnya memberikan pengaruh besar padanya yakni Profesor Dr. Tjan Tjoe Siem, seorang ahli sastra Jawa lulusan Leiden yang berasal dari Solo dan Profesor Dr. R.M.Ng. Poerbatjaraka, seorang otodidak yang legendaris.

Di saat yang bersamaan, minatnya untuk mendalami seni tari juga kian tak terbendung. Di sela waktu luangnya ketika masih belajar di Jakarta, ia sering mengunjungi rumah Prof. Poerbatjaraka untuk berlatih tari Jawa. Sejak saat itu, ia kerap mendapat undangan untuk tampil dalam berbagai pertunjukan. Misalnya, saat perayaan Dies Natalis Universitas Indonesia tahun 1955. Tik Swan dan rombongannya mendapat kehormatan untuk tampil membawakan tarian Gambir Anom di Istana Negara Jakarta.

Dalam kesempatan itu, Go Tik Swan mulai menggunakan nama Indonesianya, Hardjonagoro. Nama tersebut tak muncul begitu saja namun ada latar belakangnya. Kakek buyutnya yang bernama Tjan Sie Ing dahulu menjabat sebagai Luitenant der Chinezen van Soerakarta dan merupakan orang pertama yang mendapat pacht (hak sewa) atas pasar yang paling besar di Surakarta, yaitu Pasar Hardjonagoro.

Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Presiden Soekarno yang saat itu hadir tak urung dibuat terkesan dengan tarian Hardjonagoro, terlebih saat itu boleh dikatakan belum ada keturunan Tionghoa yang tertarik untuk menari Jawa. Begitu mengetahui bahwa keluarganya sudah turun-temurun menjadi Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
pengusaha batik, Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Bung Karno kemudian menyarankannya untuk menciptakan batik yang tidak beridentitas lokal seperti batik Yogya, Solo, Pekalongan, Lasem, melainkan Batik Indonesia. Mendapat dorongan dari orang nomor satu di masa itu, tak ayal membuat semangatnya tergugah. Pada tahun 1955, ia pulang ke kampung halamannya untuk mendalami segala sesuatu tentang batik, termasuk sejarah dan falsafahnya. Kuliahnya di Fakultas Sastra UI yang baru sampai tingkat tiga pun ditinggalkan demi menapaki karir barunya sebagai seniman batik.

Kedekatannya dengan keluarga Keraton Solo memungkinkannya belajar langsung dari ibunda Susuhunan Paku Buwana XII yang memiliki pola-pola batik pusaka. Pola batik langka yang tadinya tidak dikenal umum maupun pola tradisional lainnya digali dan dikembangkan tanpa menghilangkan ciri khasnya. Agar terlihat lebih menarik, pola-pola tadi diberi sentuhan baru dengan warna-warna cerah seperti merah darah, pink, kuning dan hijau, bukan hanya coklat soga, biru nila, hitam, dan putih kekuningan seperti yang lazim dijumpai pada batik Solo-Yogya.

Ia mengaku mendapat inspirasi menciptakan batik dengan warna-warna cerah dari Ibu Soed, pencipta lagu Indonesia yang juga dikenal piawai dalam seni batik. Selain banyak memberi saran berharga karena seleranya bagus dalam memadukan warna, sosok Ibu Soed juga membantu Go Tik Swan dalam memasarkan hasil karyanya.

Bukan hanya soal warna, Tik Swan juga mengembangkan motif-motif baru pada batiknya, namun tetap bermakna. Dari hasil pengembangan pola tersebut, lahirlah Batik Indonesia. Batik dengan warna dan motif baru hasil eksplorasinya antara lain Parang Bima Kurda, Sawunggaling, Kukila Peksa Wani, Rengga Puspita dan Pisan Bali. Selain itu, ia mengembangkan batik yang tetap dalam nuansa batik klasik keraton, seperti Tumurun Sri Narendra, Slobog, dan Truntum.

Inovasi yang dilakukan Go Tik Swan mengantarkan batik pada masa jaya di tahun 1960-1970. Bahkan pada sebuah pameran di tahun 1953, Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Presiden Soekarno, sebagai orang pertama yang memberinya motivasi berjanji akan membeli apa saja yang dibuat Go Tik Swan. Undangan untuk tampil sebagai pembicara tentang batik di mancanegara pun mulai berdatangan di sela rutinitasnya melakukan berbagai penelitian di bidang kebudayaan, serta menggelar pameran.

Tak hanya menciptakan batik dengan warna dan motif indah yang akan mempercantik penampilan pemakainya, Go Tik Swan juga menjadikan batik ciptaannya sebagai wadah untuk menyalurkan aspirasi. Batik Kembang Bangah yang berarti bunga yang berbau busuk, diciptakan Go Tik Swan sebagai ungkapan protes terhadap pemerintah yang tidak memihak rakyat tetapi memihak kaum kapitalis. Motif ini sering kali disinggung ketika ceramah atau menulis tentang batik. Ternyata kreasinya itu mendapat banyak penghargaan sehingga ia bangga dengan pola kembang bangah itu.

Di era Soekarno, tiap kali ada tamu negara, Go Tik Swan kerap mendapat tugas sebagai anggota Panitia Negara Urusan Penerima Kepala Negara Asing yang bertanggung-jawab menyelenggarakan pameran batik di Istana Negara termasuk mendesain batik untuk cinderamata para tamu. Setelah Soekarno meninggal, Go Tik Swan sempat kehilangan gairah merancang batik. Ia bahkan merasa tersisih, tidak dihargai dan jerih payahnya sia-sia.

Sepanjang karirnya dari tahun 1950an hingga 2008, Go Tik Swan telah menciptakan sekitar 200 motif batik Indonesia, bahkan diantaranya banyak yang menjadi koleksi museum-museum di Eropa, Amerika, Australia, serta para kolektor batik. Tak jarang ia juga mendapat pesanan dari para tokoh nasional salah satunya adalah Presiden Presiden Republik Indonesia Kelima (2001-2004)
Megawati Soekarnoputri. Motif batik yang secara khusus dipersembahkannya untuk putri kedua Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Bung Karno itu diberi nama Parang Megakusumo. Selain Mega, ada sejumlah nama lain seperti Gubernur DKI Jakarta (2007-2012)
Fauzi Bowo dan Menteri Penerangan (1983-1997) dan Ketua DPR/MPR (1997-1998)
Harmoko yang menjadi pengagum batik karya Go Tik Swan.

Selain sebagai penari dan pengusaha batik, ia juga dikenal sebagai seorang kolektor benda purbakala seperti naskah sastra kuno, buku yang ditulis tangan para pujangga, arca-arca kuno, bahkan keris. Ia juga mendirikan tempat pembuatan keris di Wakil Presiden Republik Indonesia (1972-1978)
Yogyakarta dengan bantuan The Ford Foundation dari AS serta membidani kelahiran hampir semua tempat pembuatan keris di Jawa dan Bali.

Di samping itu, pada tahun 1959, Go Tik Swan bersama K.G.P.H. Hadiwijaya mendirikan paguyuban pecinta keris dengan nama Bawarasa Tosan Aji (BTA). Kegiatan utama BTA adalah mengadakan perbincangan atau sarasehan tentang tosan aji yang dilakukan satu bulan sekali. Selain itu juga diadakan pameran dan ceramah. Bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Jawa baik ngoko maupun krama. Sementara untuk materi yang dibahas antara lain ilmu tosan aji (krisologi), lingkungan atau pusat-pusat pembuatan dan penyebarannya, jenis, kegunaan dan kedudukannya, kecuali masalah jual beli. BTA memang tidak melarang anggotanya melakukan jual beli tetapi hendaknya secara wajar.

Kedekatan keluarganya terutama kakek dan neneknya di Solo dengan keluarga Pakubuwana sangat mempengaruhi Go Tik Swan. Kesetiaannya mengabdi pada keraton Kasunanan sangat tinggi. Berbagai upaya terus dilakukannya demi melestarikan budaya warisan keraton, antara lain dengan memprakarsai berdirinya Art Gallery Karaton Surakarta. Berkat perhatiannya yang amat mendalam pada seni dan budaya Jawa, Sri Sultan Pakubuwono XI menganugerahkan Go Tik Swan pangkat Bupati Anom bergelar Raden Tumenggung (R.T) Hardjonagoro. Pemberian gelar tersebut dilakukan bertepatan pada saat perayaan Jumenengan (kenaikan tahta), 11 September 1972.

Selanjutnya di tahun 1984, pangkatnya dinaikkan setingkat lebih tinggi, menjadi Bupati Sepuh, dengan gelar Kangjeng Raden Tumenggung (K.R.T.). Sepuluh tahun kemudian, pangkatnya kembali dinaikkan menjadi Bupati Riyo Nginggil dengan gelar Kangjeng Raden Hariyo Tumenggung (K.R.H.T.). Pada 1998, ia mendapat gelar pangerannya yaitu Kangjeng Pangeran Tumenggung (K.P.T.) yang kemudian disusul dengan gelar keduanya yakni sebagai Kangjeng Pangeran Aryo (K.P.A.) di tahun 2001.

Gelar dan pangkat yang diberikan oleh keraton menunjukkan bahwa derajat pengabdiannya sangat tinggi. Hampir dalam setiap upacara keraton, Go Tik Swan Hardjonagoro selalu berperan penting, misal upacara Jumenengan, Kirab Pusaka, Garebeg Mulud. Ia hampir selalu berperan sebagai pengatur laku. Demikian juga apabila keraton menerima tamu penting, ia selalu menjadi juru bicara atau pemandu. Yang tak kalah penting adalah peranannya ketika membangun kembali keraton yang hancur akibat terbakar. Ketika Pakubuwana XII wafat, Go Tik Swan mengakhiri pengabdiannya. Tetapi oleh Pakubuwana XIII tetap dianggap sebagai salah satu sesepuh keraton dan pada tahun 2005 diberi gelar tertinggi sebagai Panembahan Hardjonagoro.

Kegiatan lain Go Tik Swan semasa hidupnya adalah mengabdi di Museum Radyapustaka, Surakarta, sebagai Lihat Daftar Direktur
Direktur. Saat diserahi tanggung jawab untuk mengelola museum tersebut, ia merasa sangat prihatin dengan potongan-potongan batu (andesit) patung purbakala yang berserakan di mana-mana. Hal ini mendorongnya untuk melakukan perburuan di sela-sela kesibukannya menciptakan beragam motif batik. Setiap kali mendengar di suatu tempat ada batu kuno, ia akan datang dan membawanya pulang. Potongan-potongan tersebut dipelajari dan dibentuk kembali sehingga menghasilkan bentuk sebuah patung, diantaranya patung Syiwa, Nandi, Kuwera, Durga, Makara, Avalokiteswara dan lain-lain.

Pada masa kepemimpinanannya, museum Radyapustaka juga menghadapi berbagai masalah. Seperti yang terjadi pada tahun 1971, saat pihak museum digugat ahli waris Wirjadiningrat yang mempermasalahkan tanah dan bangunan yang digunakan. Buntutnya, setelah melalui sidang berkali-kali, Yayasan Radyapustaka harus memberikan ganti rugi kepada penggugat. Lima tahun setelah kasus tersebut, museum harus menghadapi persoalan baru saat pemerintah memutuskan untuk menghentikan subsidinya.

Di tengah beragam masalah itu, Tik Swan terus berupaya agar museum tetap hidup dan berfungsi. Sejumlah kegiatan pun diselenggarakannya, antara lain menggalang kerja sama dengan Cornell University dalam pembuatan micro film buku-buku koleksi museum, pameran antar museum internasional di luar negeri, menerbitkan buku Abdulkamit Herucakra Kalifatullah Rasulullah di Jawa 1787-1855 dan Urip-urip tulisan Soewito Santosa dalam rangka memperingati seabad Museum Radyapustaka di tahun 1990. Hingga pada akhirnya, ia merasa tidak dapat bekerja secara aktif lagi, Go Tik Swan pun menyerahkan tampuk kepemimpinan Radyapustaka kepada Suhadi (K.R.H.T. Darmadipura).

Go Tik Swan menghembuskan nafas terakhirnya pada usia 77 tahun pada 5 November 2008. Rekam jejaknya baik sebagai penari, pembatik, pelestari budaya dan warisan nenek moyang menampilkan sosoknya sebagai seorang Tionghoa yang dibesarkan dalam lingkungan Jawa yang amat menyadari adanya keharusan untuk mencari dan membangun jati diri Jawa pada dirinya untuk bekal hidup di tengah-tengah komunitas dan masyarakat, tanpa harus mengingkari ketionghoaannya.

Kentalnya darah Jawa yang mengalir dalam dirinya bisa dilihat dari kediaman sekaligus pusat kegiatannya sejak tahun 1950-an yang berlokasi di Kratonan 101 atau sekarang Yos Sudarso 176. Di rumah itu, selain berfungsi sebagai tempat tinggal juga ada beberapa bangunan lain, mulai dari perpustakaan, ruang untuk berlatih gamelan, bangsal untuk display/pameran batik, bangunan los untuk membatik, untuk besalen keris, serta gudang penyimpanan barang-barang antik.

Atas jasa-jasanya sebagai budayawan dan pembatik, Presiden Presiden Republik Indonesia Keenam (2004-2014)
Susilo Bambang Yudhoyono memberikan penghargaan sebagai putra terbaik dengan tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma yang diterima ahli warisnya KRAr Hardjo Suwarno dan istrinya, Supiyah Anggriyani pada tahun 2011.

Tanda kehormatan itu membuat keduanya semakin termotivasi untuk menggali dan menghidupkan kembali motif-motif batik Indonesia ciptaan Go Tik Swan. Keduanya mengungkapkan rasa terima kasih yang sangat mendalam kepada pemerintah atas pengakuan dan penghargaan terhadap Go Tik Swan yang telah mengabdikan hidupnya untuk pengembangan budaya.

Dalam tradisi penikahan adat Jawa ada yang disebut dengan prosesi Cucuk Lampah, dimana prosesi simbolik ini berlangsung pada saat Pengantin berjalan menuju tempat resepsi perkawinan. Prosesi ini cukup langka dan sudah jarang dilakukan oleh banyak pengantin, tetapi prosesi ini pada saat Pernikahan Agung Yogyakarta menjadi salah satu bagian penting dalam proses pernikahan GKR Bendara dengan KPH Yudaningrat di Keraton.

Prosesi Cucuk Lampah atau pembuka jalan ini dimaksudkan sebagai prosesi penolak bala untuk mengusir semua gangguan dalam wujud apa pun, terutama roh jahat dan hawa buruk yang dapat mengganggu jalannya pahargyan (resepsi). Prosesi ini dilakukan di sepanjang jalur yang akan dilalui oleh pengantin, Selain itu, penampilan dalam tarian beksan edan-edanan (tarian edan-edanan) yang unik ini pun menjadi salah satu hiburan bagi para tamu undangan.

Sebagai sebuah kekayaan budaya, beksan edan-edanan ini tentu juga dapat ditampilkan di luar keraton. Masyarakat umum dapat mengundang para penari untuk menampilkan tarian penolak bala ini dalam sebuah resepsi pernikahan.
Setiap Menjelang Ramadhan, sejumlah jalan protokol di Kota Semarang tampak ramai dikunjungi warga. Seperti, di Jalan Pemuda, Jalan H Agus Salim, Jalan Imam Bonjol, dan seputar Pasar Induk Johar. Warga setempat meramaikan kawasan ini seiring akan tibanya bulan suci Ramadhan. Mereka menyebut tradisi ini dengan istilah Dugderan.

Tradisi yang telah ada beratus-ratus tahun lamanya ini memang terus dipertahankan di ibu kota Jawa Tengah itu. Dugderan berasal dari kata "dug" dan "der".

Kata "dug" diambil dari suara tabuh beduk masjid yang ditabuh berkali-kali sebagai tanda masuknya awal Ramadhan. Sedangkan, kata "der" diambil dari suara dentuman meriam yang disulut bersamaan dengan tabuhan beduk.

Dugderan telah dimulai sekira dua pekan menjelang memasuki awal Ramdhan. Warga menggelar pasar rakyat di beberapa sudut kota. Para pedagang selain berasal dari Semarang sendiri, juga datang dari Kabupaten Jepara, Kudus, Blora, hingga Bojonegoro. Tak ketinggalan, berbagai wahana bermain bagi anak-anak, seperti komidi putar dan odong-odong, juga melengkapi pusat keramaian tersebut.

Puncak acara ketika pada pengujung Sya'ban. Ketika itu akan diadakan arak-arakan yang berujung di alun-alun kota atau lapangan Masjid Agung Jawa Tengah. Pawai tersebut juga menampilkan berbagai tradisi dan kesenian khas Jawa Tengah.

Peserta karnaval umumnya menggunakan tema mobil hias yang sama, yakni Warak Ngendhog. Mobil hias ini dipercaya adalah perpaduan tiga unsur pembentuk budaya Semarang, yakni Jawa, Cina, dan Arab.

Arak-arakan mobil bertema Warak Ngendhog ini akan menempuh jalur antara Balai Kota sampai dengan Masjid Agung Jawa Tengah. Warga setempat pun sudah memadati jalur arak-arakan tersebut sejak siang hari.

Mereka ingin melihat lewatnya pawai-pawai mobil hias. Hiasan pada mobil atau manggar yang dibawa peserta karnaval biasanya akan diambil oleh warga sehingga ketika sampai di Masjid Agung Jawa Tengah, hiasan mobil mereka sudah habis.

Setelah sampai di depan Masjid Agung, acara puncak pun digelar. Ulama setempat akan mengumumkan awal berpuasa diiringi tabuhan beduk oleh wali kota Semarang.

Awal Ramadhan disambut antusias warga. Di samping tabuhan beduk oleh sang wali kota, bunyi meriam pun ikut mengiringi. Pemuda-pemuda sengaja merakit meriam dari bambu. Agar bunyinya membahana, meriam rakitan tersebut diberi karbit.

Tak ketinggalan desingan kembang api dan sorak-sorai warga pun mengiringi. Acara ini diikuti ribuan warga Semarang dan sekitarnya hingga akhirnya mereka menggelar shalat Tarawih bersama-sama.

Latar belakang digelarnya tradisi Dugderan ini sebagai upaya pemerintah menyamakan awal puasa. Perbedaan pemahaman yang mengakibatkan berbedanya awal puasa di masing-masing warga mengundang keprihatinan pemerintah.

Pada abad ke-19, Bupati Semarang Tumenggung Purboningrat telah membaca persoalan perbedaan awal Ramadhan ini. Ia pun berinisiatif untuk mengumpulkan warganya di Masjid Agung Semarang yang saat ini berada di lingkungan Pasar Johar.

Ketika itu, sang Bupati berpidato di hadapan rakyatnya. Ia mengimbau warganya untuk berpuasa dan berhari raya secara bersama-sama. Imbauan tersebut disambut positif oleh warga. Kesepakatan untuk berpuasa secara bersama-sama ini ditandai dengan pemukulan beduk oleh sang Bupati.

Secara turun-temurun, tradisi ini terus dipertahankan. Saat ini, wali kota Semarang terus mengambil peran itu. Pidato disampaikan dalam bahasa Jawa Kromo Inggil (bahasa Jawa halus). Pidato berisikan imbauan mempererat silaturahim dan persatuan umat Islam.

Menjelang waktu Maghrib tiba, pidato pun selesai. Selepas itu, wali kota akan memukul beduk yang diiringi suara dentum meriam. Suara "der" dari dentuman meriam akan membahana sebelum azan Maghrib berkumandang.

Itulah satu semangat bersama untuk bersatu menyambut Ramadhan. Dengan adanya acara ini menjadikan luapan kegembiraan menyambut datangnya Ramadhan lebih terapresiasi. Warga setempat pun secara serempak melaksanakan awal puasa dan berhari raya secara bersama-sama.

Kebersamaan berpuasa dan berhari raya adalah salah satu bentuk persatuan umat Islam. Seperti tergambar dalam wujud Warak Ngedhog sendiri, tiga unsur Jawa, Cina, dan Arab dibuat sedemikian rupa menjadi satu kesatuan. Maknanya, apa pun latar belakang warga, mereka harus bisa bersatu dalam satu nama, yakni umat Islam. Makna ini juga kental dengan Bhinneka Tunggal Ika bangsa Indonesia yang harus tetap dijaga.