Diberdayakan oleh Blogger.

Seharag Batik

Tokoh Batik

The Latest

Konsep pakaian yang ramah lingkungan, atau istilahnya sustainable, kian marak diterapkan oleh banyak perancang busana belakangan ini. Karenanya, sekarang para pelaku industri mode mulai mengubah haluan ke pakaian ramah lingkungan.

Mereka mulai mengerjakan semuanya sendiri. Mulai dari pengerjaan bahan, proses menjahit hingga kemasan semuanya ada di dalam pengawasan.

Dari aspek pengguna, dengan pakaian ramah lingkungan Anda tak sekadar bergaya, namun juga mengubah gaya hidup.

Hal inilah yang menginspirasi William Wimpy untuk mendirikan Canting Hijau, sebuah jenama yang mengusung konsep batik yang memiliki nilai-nilai seni dan budaya yang membumi.

Awalnya hal ini terjadi saat William merasa prihatin dengan menjamurnya batik print yang dibanderol dengan harga murah. Ia memandang hal itu menyebabkan menurunnya minat pembeli produk batik tulis dan batik cap yang memiliki nilai sejarah serta budaya bangsa Indonesia.

Demi melestarikan kebudayaan Indonesia lah, Canting Hijau kemudian memproduksi batik dengan pakem motif yang telah dikenal. Selain itu, ada juga motif-motif baru yang diciptakan sebagai ciri khas jenama yang didirikan 2014 lalu ini, misalnya Bhatara Kara, Kembang Jaipong, dan Wayang Cepot Bandung yang mengangkat kearifan lokal.

Ragam motif batik ini kemudian dituang dalam model pakaian atasan, gaun asimetris, rok, celana hingga kemeja, baik untuk perempuan juga lelaki. Bahkan kabarnya sebentar lagi Canting Hijau juga akan memproduksi pakaian bersahaja bagi perempuan berjilbab.

Kesemua batik dibuat dengan dengan kain katun organik dan pewarna alami yang ramah lingkungan. Aksesori Canting Hijau pun kerap dibuat dari kain perca sisa produksi pakaiannya.

Ya, Canting Hijau tak hanya ingin meraup keuntungan materi dari produknya, tetapi juga memiliki misi untuk mendapatkan profit yang searah dengan dampak positif terhadap masyarakat dan lingkungan, mengutamakan pemberdayaan para pembatik di daerah, menyerap tenaga kerja dengan membayar upah yang cukup, dan tetap menjaga lingkungan dari kerusakan.

Tak heran jika Canting Hijau optimistis usahanya akan mampu membiayai berdirinya desa batik ramah lingkungan yang mempekerjakan lebih dari 200 pembatik pada 2020 mendatang.

William berharap melalui Canting Hijau, eco fashion semakin dikenal dan disadari oleh masyarakat Indonesia. Karena satu produk Canting Hijau yang dibeli berarti ikut mewujudkan mimpi Canting Hijau menjadi pejuang budaya dan pejuang lingkungan. Serta mewujudkan mimpi para pembatik di daerah dan mimpi semua orang di dunia untuk menjaga lingkungan dari kerusakan.
Sumber : beritagar.id

Hampir semua Provinsi atau daerah memiliki corak dan warna tersendiri. Berbagai motif dan desain ditawarkan para pengrajin batik. Batik di Indonesia sendiri cukup beragam, meskipun yang tenar saat ini adalah Batik Pekalongan dan Solo, tapi hampir semua daerah sebenarnya juga memiliki ciri khas batik tersendiri.

Lalu batik seperti apa yang saat ini sedang hits dan ngetrend. Berikut ini beberapa contoh koleksi model baju batik wanita terbaru 2017 yang lagi trend dan marak dikenakan wanita-wantia indonesia yang dirangkum GoNews.co dari berbagai sumber.

Umumnya baju batik sering mengkombinasikan motif yang berasal dari daerah Pekalongan, Jogja dan Solo. Sehingga memunculkan para desainer untuk mengembangkan desain terbarunya mulai dari gamis, dress dan blus. Untuk model dress biasanya didesain dengan panjang sampai menutupi lutut tapi tetap mengutamakan desain yang simpel dan membuat nyaman saat dipakai.

Sehingga memiliki penampilan yang menarik dan cocok digunakan di acara besar seperti pernikahan atau sejenisnya.

Baju batik dress wanita merupakan model baju batik wanita modern yang menggunakan desain dress dan menggunakan bahan kain yang adem.

Sehingga kainnya sangat lentur dan tidak gampang sobek. Kelebihannya adalah kainnya tidak mudah luntur dan kainnya sangat kuat. Namun para kaum wanita sebagai pembeli tidak usah mengeluarkan uang banyak karena harganya bisa dibilang murah.

Selain memiliki kain yang nyaman dipakai juga memiliki nilai karya seni yang tinggi. Model batik ini telah menjadi salah satu model baju batik wanita terbaru 2017 yang lagi trend di kalangan anak muda saat ini.

Untuk tren model baju batik wanita terbaru juga tetap dipengaruhi oleh tren baju batik yang lama. Artinya bahan serta kualitas ketahanan baju tersebut tetap sama dengan tahun kemarin atau 2016 yang lalu.

Namun, yang sedikit tak sama adalah, dari sisi motif serta model bajunya. Macam-macam atau modelnya juga sama seperti dress alias semakinan, blus, gamis, long dress serta balero. Bahan yang dipakai tak sedikit didatangkan dari Solo, Pekalongan, serta Jogja.

Sebab ketiga kota ini adalah produksi batik terbesar dengan nilai yang keren. Dengan perkembangan baju batik yang begitu pesat di Indonesia maka tidak orang tua saja yang memakai, tapi anak muda juga mulai gemar memakai baju batik dan ini merupakan nilai positif karena batik akan tetap jaya di indonesia.

Berbagai suku yang ada Di Indonesia pasti menyukai baju batik yang merupakan ciri khas mereka. Dan sudah seharusnya, kita sebagai orang Indonesia, harus tetap melestarikan budaya warisan nenek moyang yang satu ini.

Karena saat ini juga banyak para perancang busana yang berasal dari luar negeri yang tertarik akan keunikan baju batik. Sehingga patutnya kita bangga dan harus bersiap bersaing dengan mereka.

Dengan maraknya desainer luar negeri yang berminat dengan batik, ini menunjukkan baju batik memiliki seni lukis dengan nilai yang tinggi. Bahkan tidak sedikit para kolektor yang mengoleksi batik sampai berjumlah banyak dan menyimpan berbagai jenis model baju batik wanita terbaru 2017 yang lagi trend.

Kini baju batik lokal sedang bersaing dengan baju batik modern barat, yang mana penggemarnya cukup banyak dari belahan dunia. Hal ini karena baju barat memiliki desain yang trendy dan membuat penampilan lebih percaya diri.

Baju batik juga tak kalah bagusnya dengan baju model luar karena baju batik juga memiliki desain yang lebih kekinian yang cocok digunakan anak muda sekarang. Tak hanya orang Indonesia saja yang suka dengan model baju batik wanita terbaru 2017 yang lagi tren ini, akan tetapi orang Amerika juga suka.


Batik adalah maha karya nenek moyang kita sejak berabad-abad yang lalu. Batik merupakan fashion dan karya seni asli Indonesia dan sudah diakui oleh dunia.

Sumber : www.goaceh.co
PELARANGAN budaya Tionghoa semasa orde baru, mendorong Witari Aryani (44), mau tak mau mempelajari budaya Jawa. Tapi alih-alih terpaksa, Ani justru menggandrungi hal tersebut.

Kecintaannya pada budaya Jawa bermula semenjak kecil. Tinggal di Pejaksen Lor, Ani hidup di lingkungan yang multikultur. Beragam etnis mulai dari Jawa, Batak, dan Tionghoa hidup berdampingan.

Ia dan kawan-kawannya yang beragam itupun kerap bermain bersama. Di gang sempit depan rumahnya semasa kecil. Mereka juga acapkali berangkat bersama ke sekolah semasa menjadi adik kelas Anies Baswedan di SMA 2 Yogyakarta.

"Dan (ketika bersama teman) itu bahasa jawa jadi sarana komunikasi kita. Saya pun kalau matur ke orang tua pakai bahasa krama," ungkapnya yang justru mengaku tak bisa bahasa Mandarin sama sekali.

Ujian bahasa jawa semasa sekolah menjadi bukti ketekunannya. Nilai sembilan tercantum dalam ijazah hasil ujiannya sebagai lulusan SMP Stella Duce."Jarang waktu itu nilai 9," ungkapnya.

Beranjak dewasa, Ani awalnya berkarir sebagai Accounting officer di sebuah perusahaan kredit motor. Dirinya berpindah-pindah penempatan dari Manado, Purwokerto, dan Jakarta. Namun kerinduannya atas Yogyakarta dan budaya Jawa, dan penolakan atasan untuk menempatkannya di kampung halaman, membuat Ani resign pada tahun 2009."Saya ingin di Jogja. Kangen saja," kenangnya sembari tertawa teringat masa lalu.

    Tak Sengaja Mengenal Batik

Tak lagi menjadi pegawai, Ani kemudian melakukan hobinya yang lain. Yaitu memotret. Di lapak tempat sang kakak berdagang batik di Bantul, ia diminta untuk mengambil gambar. Lalu mengunggahnya ke media sosial untuk promosi.

Pernah pula Ani diajak menjelajah ke pengrajin batik di sekitaran Bantul. Dari melihat proses menenun, mencelup, hingga mencap batik, memorinya terbuka. Masa lalunya yang akrab dengan budaya Jawa ingin diulanginya sekali lagi. "Jadilah saya ingin jualan batik apa begitu. Tapi yang unik," ujarnya.

Ia kemudian menjelajah di dunia maya. Sampai menemukan sebuah grup facebook filateli yang menggemari kartu pos dan perangko unik. Dari situ muncul ide membuat kartu pos dengan cover motif batik.

Batik milik sang kakak yang pernah dipotretnya kemudian dicetak diatas kertas karton. Di sampingnya, termuat kisah tentang filosofi dan sejarah jenis batik tersebut. Dan setelah kartu pos jadi, dipasarkanlah produk tersebut ke toko di seputaran Yogya dan di media sosial. Semua dijual dengan harga tiga ribu rupiah.

"Tak sengaja dan tidak menyangka tanggapan komunitas pecinta kartu pos dan wisatawan Yogya cukup bagus. Bisnis suvenir memang tak ada matinya," ungkapnya.

Untuk menuliskan kisah sejarah tersebut, Ani harus datang ke Jlagran. Hal tersebut dilakukannya semasa awal-awal merintis usaha. Ketiadaan sumber sejarah Jawa yang lengkap di internet menjadi alasannya.

Disana, ia menyadur kisah dari buku-buku kuno yang didapatkannya dari perpustakaan daerah Kota Yogya. Kebanyakan buku yang dicarinya sudah tua dan rapuh. Beberapa diantaranya bahkan ditulis pada tahun 1930an oleh penulis berkebangsaan Belanda.

Hal tersebutlah yang membuat petugas perpustakaan melarang buku tersebut dibawa pulang. Untuk menyiasati hal tersebut, Ani datang setiap pagi dan menghabiskan seharian penuh membaca. Ia senang saja membaca buku sejarah tersebut karena kegemarannya sejak kecil.

"Tapi bagi pegawai perpustakaan, saya disindir terus. Dikira pengangguran karena seringnya kesana," ungkapnya sembari tertawa.

Kini, Ani telah memiliki 150 macam kartu pos yang memuat motif batik berbeda-beda untuk dijual. Lengkap dengan kisah filosofi Jawa masing-masing motif yang disadurnya seorang diri. Setiap bulan, ia bisa menjual ratusan kartu pos. Bisa pula lebih banyak ketika musim liburan.

Dan selain untuk membuat dapur tetap mengepul, Ani yakin bahwa usahanya nguri-nguri budaya Jawa tersebut juga bisa bermanfaat bagi sesama. "Ya supaya kita tidak kalah dengan orang Belanda. Masak batik kita, yang menulis orang lain. Kita juga harus menjaga," ujarnya.

Ani juga punya pesan bagi generasi muda Yogyakarta. Di tengah derasnya arus globalisasi, ia meminta anak muda untuk tetap menjaga budayanya sendiri. "Pelajari dulu. Pasti seneng. Masa orang Jogja ga tau apa apanya sendiri, ya tho," pungkasnya. 
Sumber :  krjogja.com
Pakaian seragam batik yang akan digunakan karyawan Bank Central Asia se-Indonesia menggunakan karya perajin Kampung Batik Gemah Sumilir, Kabupaten Pekalongan, Jawa tengah, kata komisaris BCA, Cyrillus Harinowo.

"Batik karya Kampung Batik Gemah Sumilir akan digunakan seluruh karyawan BCA dari Banda Aceh hingga Jayapura. Ada sekitar 35.000 karyawan BCA seluruh Indonesia," katanya, di Pekalongan, Selasa.

Menurut dia, BCA telah memesan batik karya perajin Kampung Batik Gemah Sumilir Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan sejak 2014.

"Kami pesan sejak 2014 dan butuh proses dua tahun dari desain hingga pengiriman. Kami mengucapkan terima kasih kepada perajin batik Kampung Batik Gemah Sumilir yang sudah merealisasikan pakaian seragam ini," katanya.

Ia mengatakan bantuan dan pembinaan di desa wisata Kampung Batik Gemah Sumilir tersebut sebagai bentuk kepedulian BCA terhadap kemajuan masyarakat desa setempat.

Bentuk kepedulian BCA terhadap masyarakat ini, kata dia, juga direalisasikan pada warga di Gunung Kidul yang sekarang lebih dikenal dengan Goa Pindul.

"Goa Pindul itu salah satu desa wisata binaan kami. Dulu Gunung Kidul itu identik dengan busung lapar dan kemiskinan, tetapi sekarang bisa menjadi contoh kisah sukses suatu desa wisata hasil binaan kami," katanya.

Ia mengatakan bantuan desa wisata itu tidak hanya berupa bantuan tunai dan infrastruktur saja melainkan warga juga diberi pelatihan pelayanan yang terbaik.

"Jadi kami latih mereka menjadi pelayan yang terbaik atau pelayanan prima. Ini yang paling penting sehingga pengunjung nyaman dan betah di situ," katanya.

Ia menilai Kampung Batik Gemah Sumilir memiliki potensi menjadi desa wisata karena kerajinan batik merupakan warisan budaya yang luar biasa.

"Batik kalau hanya sebagai komoditas maka hasilnya hanya biasa. Akan tetapi jika dikombinasikan dengan desa wisata dan didukung adanya pembangunan jalan tol yang hampir jadi maka hasilnya akan luar biasa karena akses ke Kampung Batik menjadi lebih mudah," katanya.
Sumber : antaranews.com
 Motif Semanggi menjadi motif baru untuk batik Jakarta. Terlebih, saat ini Jakarta akan segera memiliki ikon baru, yakni jalan Simpang Susun Semanggi.

Motif Semanggi tersebut diciptakan oleh Chitra Subyakto yang diproduksi oleh warga rusun yang diberi pelatihan khusus. Hal tersebut karena Dewan Kerajinan Nasioal Daerah (Dekranasda) DKI Jakarta menggandeng seniman untuk mengembangkan batik motif Semanggi ini.

"Kami mau jadikan Semanggi itu jadi ikon baru Jakarta. Karena kan sekarang sedang dibangun Simpang Susun," ujar Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama saat membuka Pameran Jakarta Kita 2017 di Jakarta Creative Hub, Jakarta Pusat, Senin (17/4).

Pameran Jakarta Kita 2017 sendiri digelar oleh Dekranasda DKI di Jakarta Creative Hub yang akan digelar selama satu bulan.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dekranasda DKI Jakarta, Veronica Tan, mengatakan, inti dari digelarnya pameran ini adalah pemberdayaan kepada masyarakat rusun.

Pihaknya berkolaborasi dengan label tekstil Sejauh Mata Memandang untuk memberdayakan warga rusun untuk memproduksi batik.

"Inti dari acara ini adalah pemberdayaan. Kolaborasi dari Sejauh Mata Memandang. Kami memberdayakan ibu-ibu di rusun yang dilatih menyulam dan membatik," pungkasnya.
Sumber : www.beritasatu.com
Motif Semanggi menjadi motif baru untuk batik Jakarta. Terlebih, saat ini Jakarta akan segera memiliki ikon baru, yakni jalan Simpang Susun Semanggi.

Motif Semanggi tersebut diciptakan oleh Chitra Subyakto yang diproduksi oleh warga rusun yang diberi pelatihan khusus. Hal tersebut karena Dewan Kerajinan Nasioal Daerah (Dekranasda) DKI Jakarta menggandeng seniman untuk mengembangkan batik motif Semanggi ini.

"Kami mau jadikan Semanggi itu jadi ikon baru Jakarta. Karena kan sekarang sedang dibangun Simpang Susun," ujar Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama saat membuka Pameran Jakarta Kita 2017 di Jakarta Creative Hub, Jakarta Pusat, Senin (17/4).

Pameran Jakarta Kita 2017 sendiri digelar oleh Dekranasda DKI di Jakarta Creative Hub yang akan digelar selama satu bulan.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dekranasda DKI Jakarta, Veronica Tan, mengatakan, inti dari digelarnya pameran ini adalah pemberdayaan kepada masyarakat rusun.

Pihaknya berkolaborasi dengan label tekstil Sejauh Mata Memandang untuk memberdayakan warga rusun untuk memproduksi batik.

"Inti dari acara ini adalah pemberdayaan. Kolaborasi dari Sejauh Mata Memandang. Kami memberdayakan ibu-ibu di rusun yang dilatih menyulam dan membatik," pungkasnya.
Sumber : www.beritasatu.com

Siapa sangka, batik merupakan karya seni yang dibuat tanpa menggunakan catatan? Selama ratusan tahun, pembuatan batik di Indonesia tidak memiliki buku panduan. Hal ini membuat masing-masing perajin memiliki standar kualitasnya sendiri dalam membuat karya. Seperti yang terungkap dalam kegiatan Gelar Batik Nusantara 2017 di Galeri Indonesia Kaya, Rabu (12/4/2017).

“Para pengrajin batik yang sudah handal, mampu membuat selembar kain batik tanpa sket. Kemampuan mereka bagaikan gift yang diberikan oleh tuhan,” ungkap Nita Kenzo, peneliti warna batik alami.

Hal ini dibuktikan dengan pengakuan UNESCO kepada batik yang diberikan pada tanggal 30 September 2009 sebagai warisan budaya tak benda. Mengingat pekerjaan membuat batik merupakan teknik yang diwarisi turun temurun oleh para pengrajin. Namun hal ini membuat ilmu pembuatan sulit disebarluaskan karena tidak ada teori yang dibuat.

“Salah satu dampaknya adalah tidak ada takaran tertentu dalam bahan baku batik, khususnya dalam pewarnaan. Bila pewarna kimia ada takarannya misal 400 gram, pewarna alami tidak memiliki takaran dan sangat tergantung dengan kondisi alamnya," ungkap Nita.

Untuk memproduksi satu kain batik saja, sang pengrajin biasanya membutuhkan waktu yang sangat lama untuk bagian pewarnaan. Beberapa bahan alam yang biasanya digunakan dalam pewarnaan adalah Kulit Kayu Mahoni untuk warna cokelat, Daun Indigo untuk warna biru dan Daun Mangga untuk warna hijau kekuningan. Satu lapis warna gelap dari Daun Indigo membutuhkan 20 kali proses celupan dan waktu pengeringan yang lama, karena tidak boleh langsung terkena sinar matahari.

“Teknik pembatikan di Indonesia merupakan satu-satunya teknik pembuatan batik dengan cara di tulis dengan lilin. Di negara lain, mereka membuat tenun dan memberikan warna melalui perendaman benang, sehingga warnanya lebih kuat dan prosesnya lebih cepat," kata Nita menambahkan.
Sumber : liputan6.com
Dosen Universitas Brawijaya (UB) Malang, Sri Suhartini PhD, menerima Newton Fund Award dari Royal Academy of Engineering. Dosen Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian itu mengantongi penghargaan berkat ketekunannya meneliti penanganan serta pengolahan limbah cair (wastewater).

Sri meneliti persoalan penanganan limbah industri tekstil skala usaha kecil dan menengah (UKM) yakni industri batik.

"Banyak kasus dijumpai pada UKM batik, limbah cair dari proses produksi langsung dibuang ke badan air atau sungai yang pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya polusi air (water pollution) di lingkungan sekitar," kata Sri Suhartini dalam keterangan tertulisnya Kamis (13/4).

Sebuah inovasi teknologi pengolahan limbah cair yang tepat guna dan terpadu menjadi solusi. Sehingga air buangan mengalami peningkatan kualitas dan lebih ramah lingkungan. Selain itu, pengolahan menjadi bioenergi mampu memberikan manfaat bagi keberlanjutan UKM batik.

Penelitian Sri dilakukan dengan bermitra dengan University of Southampton (UoS) UK serta UKM Batik Belimbing di Malang. Selain itu, aspek pengembangan teknologi, capacity building, diseminasi serta pembuatan prototype alat atau teknologi tepat guna menjadi bagian integrasi.

Hasil penelitian dikombinasikan dengan hasil penelitian tentang biofiltrasi untuk menghasilkan buangan limbah cair industri tekstil sesuai dengan baku mutu yang dapat dimanfaatkan lebih lanjut.

Sri adalah salah satu penerima award dari Royal Academy of Engineering - Industry Academia Partnership Programme UK - Indonesia. Dia menerima sertifikat research grand dalam Newton Fund Anniversary 2017 di Kemenristek DIKTI Jakarta, Rabu (5/4). Turut hadir dalam acara itu British Ambassador (Moazzam Malik) dan Menristekdikti Mohamad Nasir. 
Sumber : www.merdeka.com
Usai mendapatkan pengakuan dari kancah internasional, Uke Kurniawan (57), penggagas batik Banten dari motif dasar artefak sejarah Kesultanan Banten ditunjuk menjadi guru batik nasional. Ia diminta memperkenalkan batik ke seluruh nusantara. Bahkan di tahun 2015, Presiden Jokowi memberikan penghargaan Pramakarya karena dedikasinya menciptakan dan mengembangkan batik.

"Tanggal 15 November 2015, saya mendapat Paramakarya. Itu karena produktif, menciptakan batik khusus Banten dan telah mengatur limbah batik terbaik se-Indonesia," kata Uke Kurniawan saat berbincang dengan detikcom di Sentra Pelatihan dan Industri Batik Banten, Kota Serang, Jumat (7/4/2017).

Agar warga Banten dan sekitarnya lebih mengenal sejarah dan batik Banten, Uke kemudian membuat Sentra Pelatihan dan Industri Batik Banten di Kecamatan Cipocok, Kota Serang. Ia menggabungkan sentra pelatihan dan perusahaannya di satu tempat. Ini dilakukan agar warga sekitar dan orang yang ingin belajar batik datang melihat pembuatannya.

"Di sini Sentra Pelatihan dan Industri Batik Banten, saya bisa melatih mulai dari tingkat sekolah dan masyarkat di banten. Sekarang sudah banyak sentra batik hasil binaan," tutur Eka.

Motif dasar batik yang ditemukan dari berbagai penemuan arkeologi di bekas Kesultanan Islam Banten.Motif dasar batik yang ditemukan dari berbagai penemuan arkeologi di bekas Kesultanan Islam Banten. 

Dari yang ia ingat, beberapa sentra yang sekarang berkembang ada di Pandeglang yaitu Batik Cikadu, Kota Cilegon ada Batik Krakatau, di Tangerang ada batik Benteng, serta ada dua di Kabupaten Lebak.

Dari sisi industri dan penghasilan, Uke bahkan sempat beberapa kali melakukan ekspor. Di tahun 2007, 2009, 2011 dan 2012, ia ekspor bahkan hingga ke Yordania. Namun, ia masih membatasi penjualan ke mancanegara karena pertimbangan otentitas. Uke tidak ingin batik ciptaannya dijiplak dan diindustrialisasi massal.

Dari sisi bisnis, di sentra pelatihan dan industri miliknya bahkan menghasilkan omset rata-rata perhari dari 30 sampai 60 juta. Berbagai kain batik ciptaannya dibuat mulai dari bahan katun sampai sutera dengan variasi harga ratusan sampai jutaan rupiah.

"Omset kita per hari saja sekitar Rp 30-Rp 60 juta, dikalikan saja sebulan 20 hari sudah lumayan," ujarnya.

Atas dedikasinya, Sentra Pelatihan dan Industri Batik Banten milik Uke sekarang mendapat label 4 Bintang OVOP (One Village One Product) dari Kementerian Perindustrian. Ia juga tercatat sebagai pemilh hak intelektual terhadap 54 desain batik melalui Peraturan Menyeri Kehakiman RI No. M.01-HC.03.01/1987 sesuai Undang-Undang Hak Cipta Pasal 9.

Dari Artefak Purbakala Menjadi Corak Batik Banten

75 ornamen purbakala di tanah Kesultanan Islam Banten ditemukan di berbagai medium. Motif ornamen ini banyak ditemukan di berbagai bekas peninggalan seperti gerabah, guci, batu nisan dan ornamen bangunan. Motif ini kemudian mendapat penomoran sendiri berdasarkan Balai Pelestarian Cagar Budaya sampai 75.

Motif dari benda purbakala ini menjadi ide Uke sebagai dasar motif pembuatan Batik Banten. Ia menggabungkan berbagai motif dasar itu menjadi aneka ragam batik Banten dan menjadikan motif batik terbaik.

"Motifnya dari benda purbakala, yang disebut artefak Kreweng Trewengkal tembikar guci dan termasuk ornamen di bangunan (Kesultanan Banten)," kata Uke.

Motif dasar batik yang ditemukan dari berbagai penemuan arkeologi di bekas Kesultanan Islam Banten.Motif dasar batik yang ditemukan dari berbagai penemuan arkeologi di bekas Kesultanan Islam Banten.

Berbekal sebagai orang yang suka menggambar dan pensiunan muda di Kementerian PU, dari 75 motif dasar arkeologis itu Uke menciptakan kurang lebih 250 motif batik asli Banten. Sekarang, 150 di antaranya bahkan sudah ia patenkan menjadi batik asli tanah para Maulana Kesultanan Islam Banten.

"Saya mengkaji motif ini dari arkeolog UI (Universitas Indonesia) sejak tahun 2002 tangal 25 Mei sampai Oktober," ujarnya.

Motif dasar batik yang ditemukan dari berbagai penemuan arkeologi di bekas Kesultanan Islam Banten.Motif dasar batik yang ditemukan dari berbagai penemuan arkeologi di bekas Kesultanan Islam Banten.

Uke mengatakan, salah satu contoh yang terkenal adalah motif batik Sebakingking. Motif itu menurutnya dipercaya motif yang pernah dipakai oleh Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Motif ini memiliki filosofi nama gelar Panembahan Sultan dalam penyebaran agama Islam di tanah Banten.

Dua motif lain seperti Datulaya dan Mandalikan bahkan pernah mendapat sertifikat motif batik terbaik se dunia tahun 2003 di Malaysia dan Singapura. Motif Datulaya memiliki nilai sejarah karena menjadi motif tempat tinggal Sultan Maulana Hasanuddin dan tata ruang di kesultanan. Sedangkan Mandalikan, adalah motif yang memiliki filosofi gelar yang diberikan kepada Pangeran Aria Mandalika dalam penyebaran Agama Islam.

Karena berbeda, batik Banten menjadi satu-satunya batik sejarah. Ini menurut Uke diakui oleh para arkeolog dan pemerintah Indonesia. Selain itu, secara keseluruhan menurutnya motif batik Banten memiliki kecenderungan warna abu-abu soft. Secara teknis, warna ini dipengaruhi kadar air di Banten yang memiliki zat besi tinggi. Selain itu, dominasi warna tersebut juga menunjukkan karakter asli warga Banten.

"Abu-abu soft itu artinya cita-cita, kemauan, ide dan tempramen tinggi tapi pembawaan kalem. Itu menunjukan karakter Wong Banten," katanya lagi. 
Sumber : detik.com
Beranjak dari tradisi brand Fairmont dalam melestarikan budaya Afternoon Tea, Peacock Lounge di Fairmont Jakarta, berkolaborasi eksklusif dengan brand batik ternama di Indonesia, Iwan Tirta Private Collection, meluncurkan Batik Afternoon Tea. Batik ini ditawarkan mulai 1 April hingga 31 Mei 2017.

Kolaborasi ini termasuk dalam rangkaian kegiatan fashion show Iwan Tirta Private Collection bertajuk “Condrosengkolo”, yang menghadirkan motif dan corak batik kuno, yang bercerita mengenai keselarasan antara manusia dan alam semesta. Fashion show yang sangat ditunggu-tunggu ini akan diselenggarakan di Grand Ballroom Fairmont Jakarta pada 26 April 2017.

 “Salah satu filosofi kami sebagai bagian dari brand Hotel Fairmont adalah untuk memiliki keterikatan dengan setiap destinasi dan menghadirkan unsur kebudayaan lokal yang dapat dinikmati tamu kami. Kami sangat bangga dapat berkolaborasi dengan Iwan Tirta Private Collection untuk turut mengapresiasi dan menampilkan kekayaan dan keindahan Batik khas Indonesia dalam produk afternoon tea  kami,” ujar Felicia Setiawan, Director of Communications Fairmont Jakarta.

Rindu Melati, Marketing Manager Iwan Tirta Private Collection, menambahkan, “Kami sangat senang berkolaborasi dengan Fairmont Jakarta. Iwan Tirta Private Collection menawarkan koleksi batik yang elegan dan mewah, di mana kedua hal tersebut juga diilhami oleh Peacock Lounge. Tentunya kolaborasi ini memungkinkan masyarakat menikmati keindahan batik dalam cara yang baru dan unik.”
Sumber : www.tempo.co
Tekad Gubernur Jambi, Zumi Zola bersama sang istri Sherrin Tharia mengangkat batik Jambi ke kancah nasional mulai membuahkan hasil. Batik khas negeri Siginjai itu menjadi ikon di ajang Muslim Fashion Festival Indonesia (MFFI) 2017 yang digelar sejak 6 April 2017 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta.

Pada malam penutupan MFFI, Minggu malam, 9 April 2017, Sherrin Tharia selaku Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jambi menggandeng desainer kondang, Barli Asmara. Berbagai motif batik tradisional Jambi digarap Barli menjadi mode busana yang modern dan fashionable dipadu dengan tengkuluk atau penutup kepala khusus perempuan Melayu Jambi.

"Barli menampilkan desainnya dengan perpaduan batik Jambi dan dominasi warna dasar yaitu hitam putih. Sehingga lebih menarik dan bersifat fashionable," ujar Sherrin.

Ia bangga karena batik Jambi benar-benar bisa masuk ke segala kalangan. Mulai dari orang tua, remaja, bahkan anak-anak. Dengan ajang MFFI itu, Sherrin berharap memicu kreativitas para desainer untuk menggali potensi batik di Jambi maupun daerah lain.

Sementara sang desainer Barli Asmara mengatakan, dengan mengangkat tema 'Jambi Kain Negeriku' bisa lebih mengangkat pamor batik Jambi di kancah nasional. Ia mengaku pada 2017 ditunjuk sebagai duta Provinsi Jambi untuk memperkenalkan batik Jambi ke masyarakat luas.

"Tak hanya batik, kita juga memperkenalkan penutup kepala bagi perempuan yakni tengkuluk. Juga ikat kepala untuk pria yakni lacak," ujar Barli.

Berdasarkan sejumlah catatan di museum Jambi, batik Jambi mulai dikembangkan secara luas sejak 1980-an. Seiring waktu, muncul banyak perajin batik tradisional di Jambi, terutama di kawasan Jambi Kota Seberang.

Motif Batik Jambi beragam rupa terutama motif flora dan fauna. Beberapa di antaranya adalah motif Bungo Pauh, Batanghari, Kapal Sanggat, Durian Pecah, motif Angso Duo dan masih banyak lagi.
Sumber : liputan6.com
Potensi pemasaran produk batik ke luar negeri, terbuka lebar. Namun menurut Ketua Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI), Dhonni A F, hal tersebut menjadi permasalahan rumit, tertutama terkait negara mana yang akan dituju. Dia mengatakan, batik Pringmas dari Desa Papringan, Banyumas yang mulai dikenal oleh masyarakat di luar Banyumas. Namun pemasaran masih mengutamakan di wilayah Indonesia. 

“Karena saat ini konsumen mulai jenuh dengan batik yang sudah ada. Tapi kalau ada sesuatu yang baru dari batik Pringmas ini, tentu akan direspon sangat baik,” ujarnya. Menurut dia, Batik Pringmas sudah mwmiliki krakter dan ciri khas Banyumas, tetapi perlu juga ada pembaruan. Sebab dalam perjalanan mengembangkan usaha batik untuk mulai dikenal dan dilirik masyarakat, dapat memakan waktu hingga 17 tahun. “Dari pembaruan itu, dikhususkan untuk pewarnaan, motif, dan karakter,” ungkapnya. 

Dia menghimbau agar membuat batik dengan filosofi mendalam, karena pecinta batik juga memperhatikan hal tersebut. Hal ini juga yang diproduksi oleh batik Pringmas yang mengusung filosofi Sekar Jagad Banyumas. Dengan cerita yang menarik, Dhonni ingin membawanya pada penjurian Inacraft Award. “Saya tantang pada perajin batik Pringmas untuk membuat karya baru, dan tidak perlu muluk-muluk jadi juara tapi setidaknya bisa masuk nominasi itu menjadi suatu kebanggaan,” ujar Dhonni. 

Terkait harga jual yang mahal, menurutnya itu termasuk relatif. Sebab untuk batik tulis dan kombinasi memiliki pasarnya sendiri. Terpenting pada perajin batik siap mempresentasikan produknya dengan lebih bagus dari segi kemasan dan filosofinya. Kepala Bank Indonsia (BI) Kantor Perwakilan Purwokerto, Ramdan Denny Prakoso mengatakan, untuk batik Pringmas sudah memiliki pasar di kncah nasional dan internasional. Pihaknya yang sudah membina perajin batik Pringmas hampir empat tahun ini, dan sudah menghasilkan pengusaha yang berasal dari buruh. 

“Meskipun dari BI tidak lagi membina perajin batik Desa Papringan, tapi tidak kami lepas sepenuhnya, supaya ada keleluasaan dari perajin agar bisa lebih luas berkreasi,” katanya pada acara Pashing Out Batik Pringmas, Sabtu (8/4). Wakil Ketua KUB Pringmas, Iin Susiningsih menambahkan, pihaknya optimis selepas dari binaan BI dapat melanjutkan promosinya dengan berjualan online dan mengikuti pameran. Apalagi sekarang sudah ada 200 perajin yang siap membuat motif baru. dan untuk motif yang sudah ada saat ini meliputi Pring Sedapur, Bawor Klinthung, Alam Papringan, dan terbaru yg belum launching ada Wijaya Kusuma.

Sumber: radarbanyumas.co.id