Diberdayakan oleh Blogger.

Seharag Batik

Tokoh Batik

The Latest


Batik Jayakarta
Batik Semarang - Lantaran batik sudah penuh dengan warna dan motif, maka perlu ada padu padan yang tepat, agar batik bisa terlihat menarik. 

- Bentuk padu padan busana batik untuk wanita mulai dari yang sederhana, seperti pemakaian syal batik yang dipadu dengan jas atau blazer.

- Pemakaian selendang besar atau stola sebagai bawahan yang dapat digunakan sebagai kain lilit berdraperi yang dipadu dengan blazer atau atasan polos.

- Blus atau blazer batik dengan motif tradisional atau modern dapat dipadu dengan rok atau celana panjang polos.

- Untuk wanita berhijab, bila Anda sudah mengenakan atasan atau bawahan dengan motif batik, pilihlah hijab yang polos. Sementara, Anda yang mengenakan atasan atau bawahan yang polos bisa dipadukan dengan hijab bermotif batik.

- Tambahkan pemanis penampilan berupa aksesori. Umumnya, aksesori yang cocok digunakan bersamaan dengan busana motif adalah aksesori yang berasal dari kerajinan khas Indonesia, seperti mutiara, bebatuan alam, perak, atau aksesori dari kayu atau besi cetak. Sebaiknya, gunakan aksesori satu warna saja bila Anda sudah mengenakan jenis busana batik yang bermotif dan penuh warga agar tidak terkesan ramai. Smbr
Batik Semarang
Batik Semarang Agar serasi dalam memilih model baju batik wanita modern, terutama dengan gambar motif tema khas indonesia, perlu kita ketahui tips cara berikut. Mengenakan Baju Batik tentu harus menyesuaikan aktivitasnya. Semisal Baju Batik untuk bekerja, akan berbeda dengan Baju Batik untuk ke pesta. Berikut tips memilih Baju Batik untuk kerja dan ke pesta.

Baju Batik Wanita Untuk Kerja

Pilihlah Baju batik dalam kombinasi warna gelap atau pastel, serta bercorak geometris agar penampilan Anda terlihat rapi, simpel, dan formal.
Untuk Anda yang bertubuh besar, pilihlah Baju Batik motif geometris yang berukuran sedang, atau kombinasi motif geometris yang besar dengan yang ukurannya kecil agar sesuai dengan proporsi tubuh Anda.

Bila tubuh Anda mungil, jangan ragu untuk memilih Baju Batik bermotif geometris berukuran sedang agar bentuk tubuh tampak lebih proporsional.

Untuk aktivitas kerja, pastikan Anda memilih desain Baju Batik yang simpel namun tegas, sehingga tetap berkesan profesional. Hanya jika diperlukan bisa ditambah detail atraktif yang terkesan minimalis, seperti opnaisel, ploi, saku, atau tali pinggang.

Untuk busana kerja, pilihlah Baju Batik yang terbuat dari katun dan tambahkan superlining sebagai pelapis dalam (furing) agar jatuhnya busana terlihat lebih tegas dan rapi.

Baju Batik Wanita untuk Pesta

Jika Anda ingin mengenakan busana pesta/Baju Batik atau resmi dari kain batik, Anda bisa menggunakan berbagai jenis motif dan paduan warna. Yang penting, pilihlah warna serta motif  Baju Batik yang sesuai dengan jenis acara yang akan Anda hadiri (suasana pesta).
Untuk acara pesta yang beratmosfer santai atau semi resmi, Anda bisa memilih Baju batik bermotif fauna dan flora dalam paduan warna cerah ataupun terang.

Untuk acara pesta yang resmi, Baju Batik bermotif fauna dan flora dalam paduan warna cerah ataupun terang.
Untuk acara pesta yang resmi, Baju Batik bermotif geometris berukuran sedang atau motif-motif klasik, seperti motif Jlamprang dan Truntum dalam sentuhan warna terang atau gelap yang terkesan mewah bisa menjadi pilihan yang tepat.

Baju Batik bermotif flora juga bisa Anda pilih untuk menciptakan busana resmi yang terkesan elegan.
Buatlah busana untuk pesta (resmi maupun tidak resmi) bermotif batik yang siluetnya simpel namun berdetail cantik dan unik, seperti ikatan pita atau memainkan pola-pola draperi.

Untuk busana pesta, Anda bisa memilih Baju batik yang terbuat dari katun, sutra.
demikian cara serasi memilih tema, warna, dan  model baju batik modern  wanita, dengan  gambar tema motif indonesia. Sumber
Tips Memilih Baju Batik Untuk Anak
Batik Semarang - Tren baju batik di tanah air sekarang sudah mulai merambah ke berbagai jenjang usia. Mulai dari orang dewasa, remaja hingga anak-anak. Namun, disadari ataupun tidak, memilih baju batik untuk orang dewasa tentunya lebih mudah ketimbang untuk anak-anak. Orang dewasa bisa dengan mudah memadu padankan baju batik sesuai keinginan mereka. Cocok motif, harga, warna dan mode maka dengan seketika batik bisa berpindah tangan dengan segera (pembeli-penjual).

Sedangkan anak kecil, umumnya cenderung mematuhi apa saja perintah orang tuanya. Tapi tahukah Anda, mereka juga sesekali butuh didengar, salah satunya pada saat mereka (anak-anak) dituntut untuk memilih baju batik. Entah dari corak, mode, fashion yang dibalut dengan apik sebagai busana mereka ataupun membuat kembaran dengan saudara, teman bahkan keluarga mereka sendiri. Berikut kiat-kiat untuk memilihkan baju batik untuk anak-anak Anda agar tetap tampil modis dan fashionable.

PERTAMA, bila hendak membelikan batik untuk anak Anda, sebaiknya Anda langsung mengajaknya untuk bisa diajak bersama. Hal ini akan memudahkan Anda untuk mendapatkan ukuran yang sama dan corak motif yang sesuai. Atau bila Anda menjahitkannya, mintalah penjahit mengarahkan jahitan pakaian batik anak Anda dengan model yang baik. Saat ini model batik sudah banyak berkembang, mulai dari kemeja sederhana hingga ke yang berbentuk gaun.

KEDUA, ajaklah Anak Anda untuk ikut bersama Anda, memasuki toko batik langganan Anda misalnya. Dengan begitu, sebenernya secara tidak langsung Anda sudah mengajarkan mengenai budaya batik sejak dini. Begitupun juga caranya, yang sesekali melihat koleksi batik, Anda sebaiknya juga memperkenalkan jenis-jenis batik sembari bercengkerama ria dengan mereka. Hal ini penting, dengan begitu akan memacu anak untuk lebih mengerti tentang batik sebagai warisan budaya.

KETIGA, bila Anda pergi bersama dengan Anak Anda, sebaiknya berilah ia kebebasan kepada anak untuk memilih motif dan desain batik yang dia sukai. Dengan begitu anak Anda akan belajar untuk open minded.

KEEMPAT, namun bila Anak Anda sungkan, ajaklah sedikit berbincang sembari Anda memberikan pilihan sebagai bentuk arahan pada sang anak.

KELIMA, Suruh mereka mencoba memakai batik di tempat. Tanyakan apakah mereka suka atau tidak dengan baju batik pilihan Anda. Bila setuju lanjutkan saja untuk membeli.

KEENAM, setelah selesai Anda bisa memakai kembaran baju batik bersama sang buah hati.
Batik Semarang - Batik tulis Banyuwangi memiliki potensi pasar yang menarik. Batik bermotif Gajah Oleng itu kini mulai banyak diminati. Banyak ibu-ibu rumah tangga yang mulai tertarik untuk membatik.

Seperti Ibu-ibu rumah tangga di Desa Singolatren, Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi, mendapat pelatihan menulis batik dengan bahan-bahan pewarna alami.

Banyak yang belum menyadari, jika batik buatan mereka bisa mahal harganya.

"Saya bisa menaksir, batik tulis di sini harganya minimal Rp 1,7 juta jika dipasarkan di kelas nasional," kata Gamal Biya, Intstruktur dari Kementerian Perindustrian, yang memberikan pelatihan, selama satu minggu, sejak 21 hingga 28 April.

Gamal mengatakan, di Banyuwangi memiliki potensi bahan-bahan pewarna alami yang mudah didapat. Namun banyak yang belum mengetahui.

"Saya tadi sempat keliling di desa ini, banyak tumbuhan-tumbuhan yang bisa dijadikan zat pewarna alami batik. Jadi tidak butuh modal besar," kata pria yang juga Anggota Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta itu.

Seperti getah pohon indigo mirip pohon perdu, jalawe, tegeran, jambal yang bisa dijadikan zat berwarna, banyak tumbuh liar di sekitar rumah warga.

Apabila dibudidayakan, bisa menjadi komoditas ekonomi tersendiri.

Bahkan warna biru dari pohon indigo merupakan warna yang paling banyak diminati di pasar nasional dan internasional.

Getah pohon indigo direduksi dulu. Setelah itu ranting dan daun direndam selama 48 jam.

Buang rantingnya, residunya diolah lagi dengan dicampur gamping hinga terjadi endapan.

Buang airnya, sedangkan kristalnya diambil jadi pasta indigo. Direduksi lagi pakai gula jawa ditambah air dan diendapkan selama empat hari.

Gama mengatakan, saat ini untuk produksi batik disarankan menggunakan zat pewarna alami, bukan lagi sintetis. Ini agar batik-batik itu bisa diterima di dunia internasional.

"Sekarang banyak negara, seperti Eropa dan Amerika, tidak menerima pakaian yang berbahan sintesis. Padahal sebenarnya bahan-bahan sintesis itu dari mereka. Di Indonesia diolah menjadi pakaian, tapi mereka tidak mau menerima," kata Gama.‎

Karena itu, menurut Gama, batik Indonesia harus back to nature. Apalagi, Indonesia memiliki banyak sumber daya alam itu. Bahkan tidak jauh dari rumah.

Gama mengatakan, untuk ibu-ibu rumah tangga, bisa menjadikan batik sebagai tambahan ekonomi keluarga. Waktu dan modal yang dibutuhkan pun tidak banyak.

"Ambil saja tiga jam perhari membuat batik. Dalam satu bulan bisa menghasilkan dua lembar batik tulis. Ibu-ibu tetap bisa mengurus rumah tangga, dan jika ada waktu senggang membuat batik," kata Gama.

Modalnya pun relatif kecil, hanya sekitar Rp 500.000. Itu untuk modal awal membeli kompor, panci, alat tulis, dan kebutuhan lain.

Alat-alat itu bisa digunakan seterusnya. Hanya butuh selembar kain, ukuran dua meter untuk menulis batik. Sedangkan keuntungannya bisa mencapai Rp 3 juta perbulan.

"Itu yang tidak serius, bagaimana yang serius," kata Gama.

Menurut Siti Mashuroh, Desa Singolatren, Ketua Kelompok Masyarakat Sumur Gemuling Batik Singolatren, Singojuruh, Banyuwangi mengatakan, ibu-ibu rumah tangga di tempatnya kini mulai banyak yang menjadikan batik sebagai tambahan ekonomi keluarga.

"Saat ini tinggal sekitar 20 orang yang ikut pelatihan. Awalnya ada 40 orang. Setelah bisa, mereka mulai membuat batik sendiri," kata Siti.

Rata-rata ibu-ibu Singolatren membutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk bisa membuat batik. Bahkan ada yang satu hari, langsung bisa.

Menurut Siti, kini batik Singolatren terus mengalami perkembangan.

Peminatnya pun mulai banyak, apalagi sejak pewarnaanya beralih ke bahan-bahan alami.

"Kalau dari bahan sintetis gatal. Beda dengan dari bahan alami. Meskipun prosesnya lebih lama, karena harus mengolah warna terlebih dahulu. Tapi hasilnya memuaskan, dan harganya lebih mahal," kata Siti.
Sumber : www.tribunnews.com
Batik Semarang - Pedagang batik di Inacraft mulai menyematkan stiker hologram sebagai tanda kain dan baju yang mereka jual diproduksi melalui proses batik.

Sekjen Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (Asephi) Soegiharto mengatakan stiker hologram merupakan respons atas produk tekstil bermotif batik yang kini memenuhi pasar Indonesia.

Stiker tersebut digunakan agar konsumen dapat mengenali kain, baju, dan produk lain yang benar-benar diproduksi melalui proses membatik. “Batik itu adalah proses yang menggunakan lilin, sekarang yang banyak bagus2 itu kan batik printing. batik printing itu adalah tekstil motif batik,” kata Soegiharto di tengah Inacraft 2016, Sabtu (23/4/2016).

Aspehi saat ini baru menggunakan stiker hologram batik berkerja sama dengan 40 produsen batik asal Pekalongan. Rencananya sistem tersebut akan diperluas kepada perusahaan-perusahaan batik lain.

“Sekarang kami sosialisasi agar yang lain ikut. Ini supaya ada jaminan, konsumen tidak tertipu. Ingin beli batik, ternyata printing,” kata Soegiharto.
Sumber : industri.bisnis.com
Kedungwuni, Kampung Maestro Batik di Pekalongan
Batik Semarang - Kedungwuni, jika kita mencari tahu soal kampung ini di internet, mesin pencari hanya menampilkan secuil informasi tentang nama ini. Itupun sebatas informasi geografis semata. Padahal Kedungwuni, nama salah satu kampung di pekalongan ini telah mendunia.

Kedungwuni sejak jaman penjajahan Belanda telah dikenal sebagai kampung yang menghasilkan batik berkualitas. Batik-batik dari Kedungwuni dikenal dengan karakter batiknya yang superhalus, detail dan dengan motif-motif yang cerah.

Karena kualitasnya yang sempurna, sampai sekarang batik kedungwuni adalah salah satu mahakarya batik yang terus diburu para kolektor Adiwastra.

Proses pembuatan batik Kedungwuni berbeda dengan batik di tempat lain. Salah satu yang membedakan adalah Batik Kedungwuni memakai teknik membatik memakai canting cucuk emas, canting dengan ukuran 0, ukuran paling kecil yang menghasilkan lukisan batik super halus dan detail.

Kedua, batik Kedungwuni mengalami proses dua kali pembatikan, bagian luar dan bagian dalam sehingga di bolak-balik sama. Untuk menghasilkan batik Kedungwuni yang super halus dan detail itu perlu waktu dua tahun untuk menyelesaikannya.

Rinciannya, 8 bulan untuk proses membatik bagian dalam, 8 bulan untuk membatik bagian luar dan sisanya untuk pewarnaan yang memerlukan beberapa kali proses, tergantung banyaknya warna yang akan dipakai. Tak heran selembar harga batik kedungwuni bisa mencapai Rp 17 juta.

Sampai sekarang maestro batik yang ada di Kedungwuni hanya sekitar 15 orang saja. Salah satunya maestro batik itu adalah mba Siru.

Menurut Fakhtul Huda, salah seorang anggota komunitas batik Gemah Sumilir mengatakan, bagi mereka membatik adalah berdoa.

“Setitik demi setitik malam (lilin) yang ia torehkan ke atas kain mori adalah do'a dan harapan agar mereka mendapat berkah dari sang pencipta”.

“Mba Siru selalu mengisi hidupnya dengan kesederhanaan. Separuh perjalanan hidupnya ia abdikan untuk helai demi helai batik yg ia ciptakan. Mba Siru (nama panjanganya Rukayah) adalah maestro Batik kedungwuni yang dimiliki negeri ini, “katanya di pameran Inacraft Rabu, 20 April 2016.

Sayang sekali, mahakarya seni batik Kedungwuni sampai sekarang ini belum terekspose secara luas. Karena itu Fakhtul Huda pemilik Famoli Batik gallery ini bersama rekan-rekannya di komunitas batik Gemah Sumilir berusaha tetap menjaga kelestarian batik dan mengembangkan budaya batik tulis yang ada di Pekalongan.
Sumber : liputan6.com
Cakra Khan Menyukai Batik
Batik Semarang - Batik merupakan identitas khas bangsa Indonesia. Hal ini membuat banyak masyarakat dan instansi yang sudah menerapkan penggunaan batik dalam kegiatan sehari-hari. Tak terkecuali bagi para kalangan selebritas. Salah satunya penyanyi pria bersuara khas, Cakra Khan.

Saat ditemui ditengah-tengah konferensi pers sebuah ajang penghargaan musik di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, ia mengaku sudah sering mengoleksi dan menggunakan batik sejak lama.

"Iya aku sering menggunakan dan mengoleksi batik. Apalagi aku kan berasal dari Sunda," ujar Cakra, Rabu (20/4).

Pada kesempatan itu, pelantun "Harus Terpisah' ini terlihat modis menggunakan busana hitam dengan motif batik Merapi khas Yogyakarta dengan celana hitam yang memiliki motif batik pula.

"Kalo untuk motif batik di celana aku sih costumized (pesanan khusus,red) ke orang," kata dia.

Penyanyi berusia 24 tahun ini sedang disibukan dengan persiapan latihan untuk duet dengan penyanyi Syahrini di ajang penghargaan musik SCTV Music Awards 2016.

"Iya sekarang lagi sibuk latihan untuk tampil diacara nanti. Aku akan duet dengan teteh Syahrini untuk bawain lagu teteh Syahrini dengan Mas Anang 'Jangan Memilih Aku' yang di Mash Up (dicampur, red) dengan laguku dengan Mbak Siti Nurhaliza 'Seluruh Cinta'," tutupnya.
Sumber : republika.co.id
Kampung Batik, Pusat Batik Semarangan

Melihat foto-foto Pasar Johar jaman dulu, kita bisa tahu, di Semarang banyak pedagang batik. Secara logika, jika di masa itu di pasar banyak penjual batik, tentu di wilayah Semarang ada kampung batik, sentra produksi batik. Nah, di Solo ada Kampung Batik Laweyan, pun di Pekalongan ada Kampung Batik Pesindon dan Kauman. Lalu, dimanakah Kampung Batik Semarang?

Pertanyaannya ini mudah dilontarkan, tapi beberapa waktu lalu, sebelum 2005, masih sulit dicari jawabannya. Bahkan, sampai sekarang pun tidak banyak warga semarang yang bisa menjawab.
Benar, di Semarang ada Kampung Batik. Tetapi, sempat mati suri sebelum akhirnya pada sekitar 2005 coba dibangkitkan lagi oleh Pemerintah Kota Semarang. Ada dua penyebab runtuhnya pabrik-pabrik batik di Semarang.

Pertama, menjelang Jepang masuk ke Semarang, secara diam-diam Belanda sengaja memerintahkan pembakaran sentra-sentra ekonomi di Semarang. Kampung Batik dan wilayah di sekitarnya, seperti Kampung Kulitan, Rejosari, Bugangan dan sekitarnya ikut dibumi-hanguskan. Banyak peralatan membatik yang rusak, dan kegiatan membatik pun surut. Industri batik makin kembang kempis saat Pertempuran Lima Hari di Semarang antara pemuda Semarang dan tentara Jepang pecah. Tentara Jepang membakar rumah-rumah penduduk. Kampung Batik ikut dibakar.

“Batikkerij Tan Kong Tin”

Dari kedua kasus pembakaran itu, masih ada perusahaan batik yang bisa selamat dan meneruskan usaha. Perusahaan batik ini sekaligus mejadi bukti bahwa di Semarang batik pernah Berjaya. Adalah pabrik batik “Batikkerij Tan Kong Tin,” yang berlokasi di Bugangan, menurut literatur, didirikan pada awal abad ke-20 dan beroperasi hingga tahun dulu 1970-an. Dari namanya, jelas pabrik ini dimiliki seorang Tiong Hoa.

Tan Kong Tin adalah anak Tan Siauw Liem, tuan tanah bergelar mayor di Semarang. Ia menikah dengan keturunan Hamengku Buwana III, Raden Ayu Dinartiningsih. Sebagai seorang Raden Ayu, istri Tan Kong Tin tentu pandai membatik, karena membatik adalah salah satu ketrampilan yang wajib dikuasai seorang putri raja dan bangsawan kala itu. Kemudian, lahirlah motif batik baru, Tan Kong Tin yang seorang Tiong Hoa memadukan motif batik Jogja dengan motif pesisir.

“Batikkerij Tan Kong Tin” diteruskan oleh generasi kedua, Raden Nganten Sri Murdijanti. Di tangan putri Tang Kon Tin ini, perusahaan batik miliknya bertahan hingga tahun 1970-an. Di pabrik batik ini spesialisasi pekerjaan sudah terbentuk. Ada pembuat desain motif batik (carik), pembatik, dan tukang celup. Pekerja batik berasal dari kampung Rejosari, Kintelan, Kampung Batik, Kampung Darat, Karang Doro, Mlaten Trenggulun, bahkan Layur.

Batik Tan Kong Tin dikonsumsi oleh para pejabat, baik dari kalangan orang Belanda maupun pribumi, juga diminati wisatawan, dan pedagang. Selain Batikkerij Tan Kong Tien, ada pula batik Sri Retno. Keduanya adalah perusahaan batik terbesar di masanya. Menurut literatur, Kolonial Verslag, 1919 & 1925, jumlah pengusaha batik di Semarang ada 107 orang. Jumlah pengrajin 800 orang.

Hingga tahun 1970-1980an, batik Semarang masih diminati. Namun, kemudian perlahan mati suri karena munculnya batik printing.

Motif Semarangan di Kampung Batik

Sekarang batik kembali diminati, bukan hanya batik printing, tetapi juga batik tulis. Dimana-mana pelatihan membatik diselenggarakan, termasuk di Kota Semarang. Pengusaha-pengusaha batik Semarang pun bermunculan, meski jumlahnya tidak banyak seperti yang bisa anda jumpai di Surakarta atau Pekalongan. Kampung Batik kembali dihidupkan, bahkan dibangun Balai Batik Semarang di daerah ini. Bukan hanya untuk memberdayakan ekonomi rakyat, tetapi juga untuk mengembangkan kawasan wisata baru.

Tidak mudah memang menemukan kembali motif-motif batik asli Semarangan. Pengrajin-pengrajin batik yang baru memulai usaha ini kemudian menggali lagi buku-buku tentang batik. Dari situ mereka temukan foto-foto batik Semarangan yang dimiliki orang-orang Belanda jaman dulu, kemudian mereka reproduksi.
Batik khas Semarangan, sama seperti batik pesisiran lainnya tidak menuruti pakem batik seperti yang ada di Solo atau Jogja. Jaman dulu sekalipun, warga Kampung Batik membuat batik dengan motif-motif yang sesuai dengan keinginan mereka sendiri.

Begitu juga dengan pembatik Semarang masa kini. Motif yang ada dikembangkan, inspirasinya diambil dari ikon-ikon kota Semarang. Hasilnya lahirlah motif-motif ceplok yang diambil dari masjid Layur, asem arang, Lawang Sewu, dan Tugu Muda.

Berada di Kampung Batik, bagi Anda pecinta fashion dan tekstil, rasanya seperti surga. Pastikan sebelum berangkat ke sini Anda tebalkan kantong Anda agar bebas berbelanja. Menariknya, di sini anda tidak hanya bisa berwisata belanja dan memborong batik khas Semarang. Anda juga bisa belajar membuat batik. Hanya dengan mengeluarkan uang 20.000 rupiah saja, Anda sudah bisa membuat kain batik sendiri dan bisa dibawa pulang untuk kenang-kenangan.

Anda akan belajar bagaimana rumitnya proses membuat sehelai kain batik. Mulai dari menciptakan motif, menggambarkan desainnya di kain, melelehkan malam, membatik, hingga proses pewarnaan dan pencucian malam –dalam Bahasa Jawa disebut Ngelorot, sehingga Anda pun mengerti mengapa selembar kain batik tulis dihargai hingga ratusan ribu bahkan jutaan rupiah.

Tidak sulit mencari lokasi ini. Dari kawasan Pasar Johar, ambil arah Bundaran Bubakan.Sampai di bundaran ini, pilih arah ke Jalan Patimura. Sebelum masuk ke jalan ini, akan terlihat Hotel Djelita. Di kiri hotel ada gapura, bertuliskan Jalan Batik kode pos 50122. Di sanalah Kampung Batik Semarang. Selamat berbelanja batik!
Melestarikan Budaya Bangsa dengan Memakai Batik, Tips Batik, Info Batik, Pola Batik, Desain Batik, Belanja Batik, Batik Semarang, Batik Jayakarta,
Melestarikan Budaya Bangsa dengan Memakai Batik
Batik merupakan kebudayaan khas bangsa Indonesia yang sudah ada sejak masa kerajaan majapahit. Meluasnya kesenian batik menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Batik yang dihasilkan ialah batik tulis sampai awal abad XX dan batik cap dikenal baru setelah usai Perang Dunia I atau sekitar 1920.

Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.

Lama-lama kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga kraton, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria.

Batik pertama kali diperkenalkan kepada dunia dan dipopulerkan oleh Presiden Soeharto yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB. Langkah pemerintah menetapkan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional terkait pengakuan dunia ter­hadap batik sebagai bagian dari budaya negeri ini. Sekarang tinggal kita mensupport dan menunjukkan kebanggaan kita terhadap batik. Untuk menjaga sebuah kelestarian batik, maka ada dua hal yang paling penting adalah animo masyarakat dan pelaku batik itu sendiri. Animo masyarakat adalah hal yang wajib dipelihara jika ingin batik tetap lestari. Begitu juga dengan pelaku batik itu sendiri kedua-duanya harus saling ketergantungan. Sebagai masyarakat umum kita hendaknya dapat mengambil nilai-nilai batik yang sesungguhnya, karena nilai-nilai etika dan estetika dari maha karya batik inilah yang wajib kita lestarikan. Bukan hanya sekadar batik sebagai simbol saja, karna yang beginilah secara jangka panjang akan menjadi batik tradisional yang telah turun-temurun diwariskan oleh para leluhur kita. Teknik-teknik pembuatan batik di berbagai daerah di Indonesia pun juga beragam teknik pengerjaannya,namun dari yang beragam tersebut bisa kita pahami seberapa besar bangsa ini menghasilkan maha karya yang mendunia.

Selama ini kita sering menyimak iklan maupun jargon dari pemerintah yang menyerukan agar lebih mencintai batik. Bahkan dibuat beberapa acara khusus untuk menumbuhkan kecintaan batik. Batik tentu harus dianggap sebagai barang istimewa. Apalagi setelah badan kebudayaan PBB UNESCO mengukuhkan batik sebagai warisan budaya Indonesia.

Kebanyakan dari kaum muda tidak ingin memakai baju batik karena menganggap batik itu budaya jadul, keting­galan jaman, kolot dan lain sebagainya. Namun jika desainer baju sudah bertindak dan bisa memodifikasi sedemikian rupa, maka baju batik tidak lagi ketinggalan zaman namun malah bisa menjadi trend yang tak kalah dengan trend baju dari bangsa lain. Sekarang ini sudah banyak pakaian model batik yang bisa anda temui di pasaran Indonesia. Beragam pakaian batik tersebar luas di pasaran dengan harga yang bervariasi dan dengan motif yang beragam.

Batik merupakan  budaya  bangsa yang harus kita lestarikan keberadaannya. Banyak bangsa lain yang ingin merebut batik dari Indonesia. Jika kita tidak melestarikannya, mungkin budaya yang sangat kental dengan unsur seni dan estetika ini akan hilang dengan cepat dan anak cucu kita tidak bisa lagi melihat batik sebagai karya bangsa.
Memilih Kemeja Batik
Batik Semarang - Memilih kemeja batik pria tidaklah sama dengan memilih kemeja pria biasa. Selain karena motifnya berbeda satu sama lain, bahan kemeja batik pun seringkali berbeda dengan kemeja pria pada umumnya. Oleh karena itu, memilih kemeja batik harus lebih teliti agar tidak kecewa dikemudian hari.

Berbeda dengan wanita, model baju kemeja batik untuk pria sangat terbatas. Baju batik yang paling umum bagi pria adalah kemeja. Bukan berarti tidak ada jenis baju lain. Celana dan kaos batik kerap digunakan pria untuk bersantai. Sementara untuk kemeja, bisa digunakan dalam segala suasana.

Eits, tunggu dulu. Kamu tetap harus memilih dan memilah kemeja batikmu untuk dipakai di situasi yang tepat. Gak lucu banget kan, kalau kamu jalan-jalan ke mall pakai kemeja batik lengan panjang dari bahan sutra?

Berikut ini tips memilih kemeja batik pria, yaitu:
 
Pilih bahan yang tepat untuk kemeja batik pria
Untuk ke pesta, Anda bisa memilih kemeja batik lengan panjang dari bahan sutra. Jika tak sesuai budget, pilih saja kemeja dari bahan satin. Kesan mewah yang ditimbulkan kain satin mirip dengan sutra karena permukaannya yang licin dan berkilau. Penjual batik di pasar Pekalongan kerap menyebut batik berbahan satin sebagai sutra kecewa.

Lain ke pesta, lain pula untuk ke kantor. Pilihlah kemeja batik yang berbahan mudah dirapikan dan menyerap keringat dengan baik seperti katun.
 
Pilih kemeja batik sesuai kebutuhan
Buat apa mengikuti tren kalau tidak sesuai dengan kebutuhanmu. Lebih parah lagi, kalau sebenarnya kamu tak menyukainya. Saat hendak membeli kemeja batik, pastikan tujuanmu.
 
Pilih motif yang sesuai
Ada motif-motif tertentu yang membuat pemakainya tampak berwibawa. Almarhum Iwan Tirta, sang maestro batik Indonesia, mempunyai kiat jitu untuk menonjolkan wibawa pemakai batik. Beliau memperbesar motif-motif batik pada kain rancangannya. Efeknya sangat kentara. Pemakai batik terlihat gagah dan elegan. Nah, kamu bisa mencoba memakai batik bermotif besar di acara-acara yang sangat formal dan istimewa.

Motif kemeja batik untuk ke kantor sebaiknya yang terkesan rapi. Motif dengan bentuk-bentuk geometris yang banyak ditemukan pada batik Solo dan Yogya bisa kamu pertimbangkan.

Sementara itu, kemeja dengan motif-motif batik pesisiran yang luwes dan bergaya ceria cocok kamu kenakan dalam kesempatan yang lebih santai. Hang out bersama teman-teman pun tak masalah memakai kemeja batik. Sebab, batik saat ini tampil lebih trendy dan friendly.
 
Warna kemeja yang cocok dengan warna kulit dan sesuai kepribadian
Apa warna kesukaanmu? Memakai baju dengan warna favorit akan membuatmu tampil percaya diri. Tapi harus diingat, cocokkan dengan warna kulitmu. Jangan sampai warna kemeja batik yang kamu pakai membuat kulitmu terlihat lebih kusam.
 
 Sesuaikan dengan budget
Baju batik mahal belum tentu sesuai dengan kebutuhanmu. Umumnya, harga baju batik yang mahal dipengaruhi oleh proses pembuatan dan jenis bahannya. Baju dari batik tulis atau batik dari bahan sutra jelas berharga di atas rata-rata.

Jika ingin baju yang terkesan mewah dengan harga lebih terjangkau, baju dari batik cap juga tak kalah bagus. Yang perlu dicermati adalah jahitannya, rapi atau tidak.
 
Coba dan amati ukurannya
Tak masalah jika kamu datang langsung ke toko. Kamu bisa mencoba kemeja batik pilihanmu di kamar pas sehingga benar-benar yakin untuk membelinya. Tapi, kalau kamu membeli di toko online, perhatikan baik-baik detil ukurannya. Sedikit cerewet pada costumer service tak mengapa. Yang penting, kamu mendapat baju yang pas di tubuh, juga pas di hati.
Sumber : www.hanleebatik.com
Batik Semarang - Pekalongan, HA Alf Arslan Djunaid, membuka langsung pelatihan tersebut. Sebab menurutnya, sangat penting adanya kedekatan antara pengusaha batik dengan pemerintah. Hal itu menjadi kunci untuk membawa batik semakin maju di Kota Pekalongan hingga ke mancanegara.

“Yang penting adalah kedekatan pengusaha batik dengan pemerintahannya. Itu bisa menjadi kunci untuk menjaring informasi dan akses jalur pemasaran,” tutur Alex, sapaan akrab Walikota yang ditemui usai kegiatan yang digelar di Ruang Jetayu, Setda Pekalongan tersebut.

Selain itu, pemerintah juga dapat memberikan kemudahan dalam hal mengakses berbagai macam bantuan, maupun pinjaman modal bagi pengusaha. “Karena pemerintah bisa memberikan informasi dan memfasilitasi akses bantuan pinjaman modal dari lembaga keuangan. Sehingga permodalan para pengusaha bisa lancar,” tambah dia lagi.

Peran Pemkot, dikatakan Alex, juga sudah dilakukan melalui upaya perlindungan produk batik asli. Dimana, pemerintah sudah mencanangkan labelisasi batik asli sesuai dengan kualitasnya. “Jadi produk batik bisa tetap dipercaya melalui labelisasi tersebut. Konsumen juga tidak tertipu jika membeli produk batik, bisa membeli sesuai kualitas yang diinginkannya,” katanya.

Mengenai kondisi Indonesia yang sudah menghadapi MEA, Alex berpesan kepada pelaku UKM agar tidak khawatir. Karena informasi yang di dapatnya, MEA hanya merambah delapan bidang, tidak termasuk batik. “Jadi jangan takut karena dari delapan bidang itu tidak batik.

Sehingga kita harus tetap menjadi yang terdepan dalam mengembangkan batik,” tutur Alex.
Kepala Disperindagkop dan UMKM, Supriono menjelaskan, dalam pelatihan kali ini para pelaku UKM batik diberikan materi untuk menyusun neraca pengelolaan keuangan. Sehingga, para pengusaha dapat mengelola keuangan bisnisnya agar terus meningkat.

Selain itu, pengusaha juga dibekali materi bagaimana mengakses pasar baik secara konvensional maupun online. “Pengusaha juga diberi bantuan gawangan dan label batik agar produknya bisa semakin terpercaya,” tandas Supriono.
Sumber : www.radarpekalongan.com
Batik Semarang - Ratusan model mulai dari anak-anak sampai remaja meramaikan perhelatan Jepara Batik & Tenun Carnival 2016. Berjalan menyusuri Jalan Kartini, para peserta mengenakan pakaian karnaval berbahan dasar batik dan tenun khas Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Koordinator acara Jepara Batik dan Tenun 2016, Indria Mustika, menyampaikan, selain mengeksplorasi batik dan tenun khas Jepara, ratusan peserta juga menampilkan pakaian karnaval yang mengeksplorasi limbah. Itu seperti penggunaan limbah kertas, plastik, dan limbah industri. Tak hanya itu, Nindria menambahkan, peserta juga banyak yang memanfaatkan hasil kerajinan untuk pakaian carnival.

“Peserta ternyata kreatif-kreatif, banyak yang memadukan batik dan tenun Jepara dengan aneka bahan limbah seperti plastik, kertas, bahkan limbah karet juga ada,” kata Indria, Minggu (17/4/2016).

Selain dalam rangka memperingati hari jadi Kabupaten Jepara, gelaran ini juga untuk peringatan Hari Kartini yang ke 137. “Yang membedakan dengan carnival dari kota-kota lainnya, kalau carnival di Jepara ini tidak hanya bisa dinikmati di jalan tapi juga di atas panggung,” ujar Indria.

Ambar Wati, warga Jepara mengaku terhibur dengan tampilan peragaan busana peserta. Hanya saja, desain-desain pakaian yang diperagakan modelnya hampir sama. Model pakaian yang dikenakan kurang variatif.

“Sudah bagus, perpaduan warnanya sudah bagus, tapi kok bentuk-bentuk pakaiannya hampir sama semua,” kata Ambar Wati di sisi jalan yang dilalui peserta karnaval.
Sumber : metrotvnews.com